Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Bertemu


__ADS_3

Yati berlari kesana kemari, dia terlihat sangat sibuk saat ini. Terlihat di dapur, Adsila tengah memasak, dan Yati membantunya. Jadi Yati berlari kesana kemari mengambil apa yang Adsila butuhkan.


Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi, tersisa 2 jam lagi untuk Adsila menyiapkan makan siang.


Seperti biasanya, Adsila akan menyiapkan makan siang suaminya di kantor. Karena, Aditya tidak akan mau memakan makanan luar, selain makanan buatan istri nya.


"Manja" itulah yang selalu Adit ucapkan ketika melihat papa nya bermesraan dengan mama nya.


Kini umur Adit sudah menginjak 4 tahun. Kenangan pahit itu, sudah berlalu 1 tahun.


Kehidupan mereka benar-benar sudah aman dan tentram. Adsila bersyukur akan hal itu.


"Adsila...Mau minum buatan mu dong"ucap Titi. Wanita yang sedang hamil muda itu memasuki area dapur.


"Aduhhh, bibi tua ini malah ngidam menyusahkan aku" dengus Adsila.


"Yah, mau bagaimana lagi. Adik mu hanya mau buatan mu saja!"balas Titi.


Adsila hanya memutar bola matanya jengah, tapi dia tetap membuat kan jus buah apel untuk calon adik nya yang berada di perut bibinya.


Memang benar sih, Titi hanya mau minum jus buatan Adsila. Jika Bian yang membuatkan nya. Maka, bibi nya akan merasa mual dan kembali mengeluarkan juss itu dari dalam perut nya.


Sejak saat itu, mau tidak mau Adsila terpaksa membuatkan bibi nya juss apel setiap hari.


Setelah membuatkan bibi nya jus apel, Adsila langsung bergegas bersiap. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 11.30 .


"Aduhhhh, aku bisa terlambat ini" gumam Adsila.


Titi tersenyum bahagia, dia menatap jus buatan Adsila penuh nafsu.


"Akhirnya aku mendapatkan nya lagi"gumam nya.


*****


Adsila tiba di kantor suaminya, dia di sambut sangat ramah oleh para staf dan pegawai lain nya.


Adsila menunduk dan tersenyum ramah, saat berpapasan dengan pegawai pegawai yang bekerja di sana.


Sebelum masuk ke dalam lift, Adsila mendekati meja resepsionis terlebih dulu. Seperti yang di agung agung kan oleh bawahan Aditya. Istri nya sangat baik hati dan sopan.


"Permisi, apa suami ku ada di ruangan nya?" Tanya Adsila lembut pada wanita resepsionis.


"Ibu boss, ada Bu. Boss Aditya baru saja pulang dari pertemuan meeting " jawab wanita itu tersenyum ramah.


"Terimakasih "balas Adsila.


"Sama sama Bu"


Adsila bergegas berjalan menuju ke pintu lift. Dia menekan tombol ope, lalu langsung masuk ketika pintu lift terbuka.


Saat baru saja menekan tombol tutup, Adsila melihat seseorang menerobos masuk ke dalam lift yang sama dengan nya.

__ADS_1


"Tunggu..."teriak orang itu. Dia masuk dengan terburu-buru.


Beberapa waktu, Adsila terpana. Dia terkejut melihat siapa orang yang masuk ke dalam lift.


"Tolong tekan lantai 6" ucap orang itu sopan. Dia sedang sibuk merapikan berkasnya yang sempat berantakan akibat dari dia yang terburu buru tadi.


Tidak merasakan adanya pergerakan, orang itu mengangkat wajah nya.


Deg.


Dia menatap ke manik mata Adsila, membuat tubuhnya seketika membeku.


"Adsila"


"Kak Bobi?"


Mereka sama sama terkejut, setelah satu tahun tidak bertemu. Akhirnya mereka kembali bertemu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Bobi kaku, dia benar-benar gugup karena sudah lama tidak pernah bertemu. Jantung nya seketika berdetak semakin kencang.


"Tahan Bobi, Tahan...Kamu harus bisa"gumam Bobi dalam hati. Dia berusaha menahan agar dirinya tidak seperti dulu lagi kepada Adsila.


"Aku mau mengantar makan siang buat suami aku" jawab Adsila sambil menunjukkan rantang makan siang yang dia tenteng.


Bobi mengangguk pelan, berusaha untuk tetap biasa saja.


Adsila melirik tumpukan berkas di tangan Bobi.


Menyadari arah tatapan mata Adsila, Bobi pun menarik nafas dalam.


Adsila tidak melanjutkan pembicaraan nya, dia hanya menatap Bobi yang terlihat semakin berusaha keras. Mulai timbul di dalam benak nya, apakah perusahaan Bobi baik baik saja?


"Kak, apakah semuanya baik baik saja?"


"UM..Jangan salah paham, semua nya masih sama. Perusahaan ku aman, aku menggantikan asisten ku untuk menemui Aditya. Karena yahh..Kamu tahu sendiri suami mu tidak melayani orang lain di perusahaan ku, kecuali aku" Bobi tersenyum miring.


"Apa dia membuat mu sulit?"tanya Adsila lagi.


Ting.


Bobi tidak menjawab pertanyaan Adsila, dia keluar dari dalam lift lebih dulu.


"Aku duluan" pamit Bobi.


"Hmm..Semangat!" Balas nya.


Adsila mampu merasakan kecanggungan di antara dirinya dan Bobi. Namun, apa yang hendak di kata. Semuanya memang terjadi seperti ini.


"Kak, maaf" hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Adsila.


Setelah tidak melihat bayangan Bobi, barulah Adsila melangkah masuk ke dalam ruangan suaminya.

__ADS_1


Mengapa dia tidak bersama dengan Bobi? Karena pria itu harus pergi ke asisten Aditya terlebih dulu, baru nanti bertemu dengan Aditya.


Adsila masuk ke dalam ruangan suaminya, dia melihat pria yang amat dia cintai tengah sibuk dengan berkas berkas yang Adsila tidak pahami.


Tuk!! Tuk!!


Aditya mendongak, dia tersenyum lebar melihat istrinya berdiri di depan pintu.


Pria itu langsung menutup laptopnya, dia segera bangkit dan menghampiri istri nya.


"Kangen " rengek Aditya memeluk Adsila.


Kan, benar apa yang Adit katakan. Papa nya itu manja, dia sangat berlebihan jika bersama dengan mama nya.


"Sayang, lepasin dulu. Aku sesak Lo" cicit Adsila.


"Eh maaf sayang. Kelepasan"kekeh Aditya.


Pria itu menarik istri nya duduk di sofa.dia tidak sabar ingin makan siang bersama.


"Aku lapar sekali" gumam Aditya menatap lapar rantang yang istrinya bawa.


"Sabar yah sayang, aku akan membuka nya dulu" Adsila mulai menatap rantangan nya di atas meja. Mengambil tutup rantang yang berbentuk seperti piring, namun berukuran sedang.


"Ayo makan, aku sudah memasak makanan kesukaan mu" ucap Adsila, dia memberikan piring yang berisi nasi dan lauk pauk ke tangan suaminya.


Bukan nya menerimanya, Aditya malah membuka mulutnya lebar.


"Aaaaa...."


Adsila memutar bola matanya, dia tahu jika sudah begini berarti suaminya minta di siapin.


"Dasar manja" gumam Adsila. Dia mulai menyuapi suaminya.


"Jika makan dari tangan mu, makanannya akan terasa semakin lezat" ucap Aditya dengan mulut berisi. Sehingga beberapa butiran nasi muncrat dari mulutnya ke tangan Adsila.


"Ihh sayang, telan dulu baru ngomong!" Gerutu Adsila mengambil tisu.


Sedangkan Aditya, dia hanya tercengir menampakkan gigi nya.


"Maaf sayang" ujar nya.


Adsila mengangguk pelan, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Dia suka melihat suaminya manja, tapi akhir akhir ini manja Aditya beda dari yang biasanya.


*****


Di ruangan meeting, Bobi bertemu dengan Rangga. Dia memberikan semua berkasnya pada Rangga.


"Semuanya oke, hanya tinggal menunggu boss menandatykontrak saja" ucap Rangga ketika melihat semua laporan proposal yang Bobi bawa sesuai dengan keingan Aditya.


"Bagus lah, aku jadi tidak perlu capek capek menemui nya" gumam Bobi ketus. Pikiran nya masih tertuju pada Adsila.

__ADS_1


Ingin sekali, Bobi memeluk Adsila sekali saja. Namun, dia berusaha menahan nya. Dia tidak ingin terpuruk lagi, dia sudah berusaha menerima takdir dan mencoba membuka hati pada wanita yang telah di jodohkan oleh mama nya.


Rangga mengangguk pelan saat membaca proposal yang Bobi bawa, dia tidak terlalu kepo dengan urusan Bobi dengan Aditya. Walaupun dia tahu, Bobi pernah mendekati Adsila . Dan Rangga juga tahu, soal keterpurukan Bobi dulu.


__ADS_2