
Waktu terus berlalu, sudah 4 bulan berlalu. Selama itu pula Adsila menjalani hidup nya tanpa Aditya di sisinya.
Hanya perhatian Bobi, dan juga Ria yang Adsila dapatkan. Mereka lah yang merawat Adsila penuh kasih sayang.
Seperti hari ini, Bobi baru saja pulang dari kantor. Langkah kaki nya langsung menuju ke ke ruang keluarga.
"Adsila!!!!" panggil Bibi penuh semangat, kedua tangan nya terangkat ke atas memamerkan dua paper bag yang dia bawa.
"Kak Bobi"
Pria itu melangkah cepat, dia langsung duduk di samping Adsila yang sudah hamil besar.
"Coba tebak, aku bawa apa?"
"Kakak bawa apa??" tanya Adsila mencoba untuk mengintip ke dalam paper bag itu.
"Taraa....."
"Ya ampun, kakak bawa kue yang kemarin aku lihat di Instagram??"
Mata Adsila berbinar, sejak kemarin dirinya menginginkan kue itu. Sekarang Bobi sudah membawanya.
"Ini untuk Adsila, dan juga bayi nya" ujar Bobi menyerahkan sekotak brownies coklat dengan hiasan keju super tebal.
"Makasih kakak ku tersayang" ungkap Adsila memeluk Bobi. Hal ini sudah biasa dia lakukan.
Adsila dan Bobi sudah seperti saudara kandung. Adsila sungguh bersyukur bertemu dengan keluarga hangat ini.
Namun, tanpa Adsila ketahui. Bobi memiliki rasa yang berbeda. Perasaan nya pada Adsila, tidak hanya sekedar perasaan kakak dan adik. Melainkan perasaan seorang pria pada seorang wanita.
Bobi menyembunyikan semua itu, dia tidak mau hubungan nya dengan Adsila menjadi renggang, hanya karena keegoisan nya.
"Kak, ini apa?" tanya Adsila menunjuk paper bag satu lagi.
"Kak.." panggil Adsila lagi. Dia menyentuh wajah Bobi.
"Eh iya, ada apa?" gumam Bobi tersadar dari lamunan nya. Dia semakin terkejut, merasakan tangan Adsila menyentuh wajah nya.
"Kakak melamun? apa ada masalah?" tanya Adsila.
Bobi menggeleng cepat, dia tersenyum, tangan nya ikut memegangi tangan Adsila yang masih ada di wajah nya.
"Tidak ada masalah lain Adsila ku tersayang, selama kau baik baik saja, aku akan senang"
"Lebay deh" dengus Adsila mendelik kesal pada Bobi. Tapi, pria itu malah tertawa keras melihat wajah cemberut Adsila.
"Ini gaun untuk mu Adsila, tadi ketika melewati toko kue. Aku melihat gaun terpajang sangat cantik" kata Bobi bersemangat. Dia mengeluarkan gaun dari paper bag, lalu memberikan pada Adsila.
"Bagaimana? cantik gak?"
Adsila terdiam, dia menatap gaun berwarna gold dengan hiasan indah di bagian pinggang nya. Jika nanti Adsila memakai nya, wanita itu pasti terlihat ramping dan cantik.
Raut bahagia Bobi seketika memudar, dia menatap wajah Adsila yang terlihat tidak senang.
"Apa kau tidak menyukai nya?" tanya Bobi dengan nada suara kecewa.
"Bu-bukan begitu kak, aku sangat suka dengan gaun nya. Tapi.."
"Tapi apa Adsila?"
"Aku tidak bisa memakai nya, apa kau tidak lihat? perut ku besar?" ujar Adsila sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
Bobi terdiam, mata nya mengikuti tangan Adsila yang tengah mengusap perut.
"Bhahahaha....." Bobi tertawa.
Adsila mengerut, dia menatap Bobi dengan tatapan tidak mengerti.
"Kenapa kakak malah ketawa?"
"Kau ini gimana sih, perut mu itu sebentar lagi akan mengempes. Jadi kau bisa memakai gaun ini nanti"
"Oh iya, aku lupa" gumam Adsila menepuk kening nya.
"Hahaha, dasar bego" ledek Bobi.
"Ihh kak Bobi, aku gak bego!!"
"Wekkk" Bobi berlari menghindari Adsila yang mengejarnya sembari membawa bantal sofa.
"Wekk...Kejar aku kalau kamu bisa"
"Tunggu kau yah!! aku akan menghabisi mu" teriak Adsila mengejar Bobi dengan hati hati.
Bobi terus berlari mengelilingi sofa, menghindari lemparan lemparan Adsila.
"Wekk gak kena" ledek Bobi menjulurkan lidah nya, dia berhasil menghindari lemparan bantal Adsila.
Di tengah asik nya mereka berlari, tiba-tiba Adsila merasakan perut nya sangat sangat sakit.
"Aduhh, perut ku" Adsila langsung terduduk di lantai, dia tidak bisa menahan rasa sakit yang tiba-tiba melanda perutnya.
"Adsila!!" teriak Bobi.
"Kak, sakit..." erang Adsila, tangan nya terus memegangi perutnya.
"Kamu kenapa Adsila? yang mana sakit??" tanya Bibi panik, dia mengangkat tubuh Adsila ke atas sofa.
Ria baru pulang, dia terkejut melihat Adsila meringis kesakitan. Wanita paru baya itu langsung berlari mendekati anak anak nya.
"Bobi, Adsila??"
"Mama, sakit" adu Adsila terus meringis.
Ria melihat ke arah kaki Adsila, di sana darah bercampur air ketuban mengaliri betis Adsila.
"Darah? Seperti nya dia akan segera melahirkan" pekik Ria.
"Cepat, siapkan mobil Bobi. Kita harus segera membawa nya ke rumah sakit.
"Ba-baik ma"
Bobi segera menyiapkan mobil, sedangkan Ria menjaga Adsila, menggenggam tangan Adsila untuk menenangkan gadis itu.
"Ma..Sakit..."
"Iya sayang, kamu sabar yah. Kita akan segera ke rumah sakit" ucap Ria menenangkan Adsila.
"Bobi!!!! cepat lah! kenapa kau lama sekali!" teriak Ria tidak sabaran. Dia juga tidak tenang melihat Adsila kesakitan.
Setelah menyiapkan mobil, Bobi kembali masuk ke dalam rumah. Dia menggendong Adsila masuk kedalam mobil. Lalu segera membawa wanita itu ke rumah sakit.
...----------------...
__ADS_1
"Aduh..."
"Ada apa boss?" tanya Bian menahan lengan Aditya yang tiba-tiba oleng.
"Kepala ku pusing Bian, pinggang ku terasa sangat sakit."
Bian membopong Aditya ke tempat tidurnya. membaringkan boss nya di atas tempat tidur.
"Aduh kenapa pinggang ku sakit sekali" ringis Aditya lagi. Dia merasa pinggang nya akan putus.
"Apa yang terjadi? apa aku harus memanggil dokter boss?" tanya Bian.
"Tidak perlu Bian, aku tidak melakukan pergerakan yang salah, tapi kenapa pinggang ku tiba-tiba sakit begini" jelas Aditya memegangi pinggang nya.
Pria itu terus meringis kesakitan, membuat Bian tidak tega melihat nya.
"Apa sangat sakit?"tanya Bian memastikan.
"Aku juga tidak terlalu jelas Bian, kadang terasa ngilu, kadang terasa pinggang ku akan putus. Entah apa namanya, aku sungguh tidak nyaman"
"Kalau begitu, biarkan aku memanggilkan dokter untuk mu" kata Bian.
Aditya tak lagi menjawab, dia terus bergerak gelisah menahan sakit di pinggang nya.
Setelah 25 menit Bian menghubungi dokter, akhirnya dokter pun datang.
Dokter memeriksa Aditya, dia merasa heran dengan kondisi Aditya. Tidak ada apa pun yang terjadi. Kondisi pinggang Aditya sangat baik.
"Bagaimana dok?" tanya Bian setelah dokter memeriksa boss nya.
"Tuan Aditya baik baik saja, tidak ada masalah apapun pada tubuhnya" jelas Dokter.
Dahi Bian mengerut, jika tidak terjadi apapun. Lalu, mengapa boss nya kesakitan begitu.
"Lalu, boss saya kenapa sakit begitu?" tanya Bian.
"Saya juga tidak tahu tuan, ini sungguh aneh. Apa tuan memiliki seorang istri yang sedang hamil?"
Bian menggeleng, tentu saja Aditya tidak memiliki seorang istri, apalagi hamil.
"Memangnya kenapa dok?" tanya Bian lagi.
"Biasanya, ada dua kemungkinan tuan. Jika bukan karena istri nya yang sedang hamil, maka ini di guna guna" jelas Dokter.
"Huh? tidak mungkin dokter. Zaman sekarang, mana ada zaman guna guna"
"Tapi tuan, ada beberapa kejadian yang pernah saya temui tuan. Ada kalah nya seorang suami merasakan sakit yang istrinya rasakan ketika ingin melahirkan. Sang istri tidak merasakan sakit apapun, hingga harus di operasi." jelas dokter lagi, menceritakan apa yang telah dia temui.
"Bian!" panggil Aditya.
Percakapan Bian dan dokter terhenti, pria itu langsung mendekat pada tuan nya.
"Ada apa boss?" tanya Bian.
"Apa kata dokter? apa aku baik baik saja?"
"Yah, dokter bilang begitu boss" jawab Bian jujur.
"Seperti nya benar, aku memang sudah baik baik saja. Rasa sakit itu sudah pergi" ucap Aditya.
Bian di buat bingung, ini sungguh luar biasa. Teka teki apalagi yang harus dia pecahkan.
__ADS_1