
Setelah selesai mandi, Adit biasanya akan di bawa jalan jalan sore oleh Adsila. Mengelilingi pekarangan rumah Bobi yang sangat luas itu.
Karena setiap hari mengelilingi tempat tangan sama, Adsila merasa bosan .
Ibu satu anak itu mendapat ide. Dia tiba tiba ingin pergi ke taman kota.
Pergi sendiri, tentu membuat Adsila tidak akan mendapat ijin dari Ria, mama Angkatnya.
"Tunggu sebentar di sini ya nak, mama mau panggil paman mu dulu" ucap adsila mengecup pipi bayi 3 bulan nya.
Lalu, Adsila berlari dan melangkah cepat menaiki anak tangga menuju ke kamar Bobi.
Dia langsung mengetuk kamar Bobi, berusaha untuk membangunkan pria itu.
Tuk! Tuk!!
"Kak, bangun lah. ini sudah sore, kenapa kau sangat betah berada di kamar sejak siang tadi!" teriak adsila dari luar.
Dia terus mengetuk pintu kamar bobi hingga ria itu membuka pintu kamar nya.
Ceklek.
Adsila tersenyum lebar, akhir nya Bobi terbangun dan keluar dari kamar.
Dengan wajah bantal nya Bobi menatap Adsila kesal.
"Adsila ku tersayang, bidadari yang cantik nya tidak ada obat. Kenapa kau selalu mengganggu waktu ku untuk beristirahat hm."
Adsila membalasnya dengan senyum manis.
"Kak, tidak baik jika keseharian kau tidur di kamar. Seharusnya kau bergerak sedikit"
"Aku sudah bergerak adsila, golek ke kiri dan kanan, apa itu tidak cukup?"
Adsila menepuk jidat nya, pria satu ini terlalu konyol. Bagaimana tidak, masa pergerakan di dalam tidur di bilang masuk ke dalam gerakan olahraga.
"Udah deh kak, sekarang kakak kembali masuk kedalam kamar, lalu mandi! temani aku dan Adit ke taman untuk berjala jalan sore" ucap adsila sembari mendorong bobi kembali masuk kedalam kamar nya.
Dengan ekspresi terpaksa nya, bobi kembali masuk ke dalam kamar, lalu dia pergi mandi.
Adsila tersenyum senang, dia kembali keruang tengah menemui putranya.
"Ok sayang, mama berhasil, sekarang kita tinggal menunggu paman mu selesai mandi." ucap adsila memberitahu anak nya.
...----------------...
Di taman kota.
Adsila mendorong stroller bayi dengan ekspresi wajah bahagia.
"Adit, kamu suka kan suasana baru"
__ADS_1
"Mama yakin kamu menyukainya" lirih adsila ketika mendengar sahutan suara bayi dari putranya.
"ADit, apa kamu menyukai mama mu menyiksa papa ganteng?" cibir bobi, dia berjongkok di depan stroller adit. lalu dia mengelus elus gemas pipi bayi itu.
"Kak" tegur Adsila. Dia tidak suka ketika bobi selalu menyebut dirinya papa di depan adit.
Bukan karena takut orang salah paham, tai adsila hanya tidak mau nanti putranya ketika sudah besar salah menganggap bobi sebagai papa nya.
bobi bangkit, dia menarik nafas lalu menghembuskan nya. Sika adsila barusan seperti sedang mempertegas batasan mereka.
Adsila tahu mereka pasti akan berdebat lagi, jadi dia seger mendorong stroller bayi nya menjauh.
"Aku ingin mengajak adit berkeliling dulu kak" pait adsila segera berlalu.
Bobi pun tidak bisa berkata kata. Dia hanya bisa membiarkan Adsila pergi.
adsila berjalan sambil mendorong stroller bayi, dia tersenyum melihat bayi nya yang terlihat sangat lincah menatap apa yang dia lihat di depan nya.
" kamu suka yah nak, berada di luar?" gumam adsila tersenyum.
bayi nya merespon dengan gumaman lucu, membuat adsila girang di buat nya.
"putra mama pintar" ungkap nya.
Adsila terus berkeliling sambil mengajak bayi nya mengobrol. Hingga sebuah suara mengagetkan nya.
"Adsila?"
Jantung adsila berdegup kencang. Matanya melebar melihat siapa yang tengah berdiri di depan nya.
"Benar, Adsila!"
Aditya berdiri di depan adsila dengan ekspresi tidak percaya. Yah, dia memang Aditya, mantan majikan adsila.
Adsila buru buru membelokkan stroller bayi nya, lalu mendorong cepat menjauh sebelum aditya tersadar dari keterkejutan nya.
"Adsila. Adsila tunggu!" teriak aditya memanggil adsila, dia hendak mengejar wanita itu, namun terhalang oleh segerombolan anak anak yang tiba tiba berlari ke arah nya.
Aditya menabrak seorang anak yang sedang bermain sepatu roda. dengan terpaksa dia harus menolong anak itu terlebih dulu, meskipun mata nya tetap mengawasi kemana adsila pergi.
"Aw sakit" ringis anak itu ketika aditya ingin beranjak pergi.
"Maaf yah sayang, om tidak sengaja. ini uang untuk mu, berhentilah menangis, dan kembali lah bermain" bujuk aditya sembari memberikan uang tukaran 100, 2 lembar.
anak kecil itu tersenyum senang, ia kembali berdiri, lalu kembali bergabung dengan teman teman nya.
Aditya merasa lega, dia kembali melihat ke depan. Tapi adsila telah menghilang, dia tidak melihat adsila di mana pun.
"Huh, kemana dia? kenapa dia pergi begitu cepat!" gumam aditya kesal, dia kehilangan jejak adsila.
Namun, pria itu tetap bahagia. Setidaknya dia mengetahui satu hal.
__ADS_1
Adsila masih hidup, dia berada di sekitar nya. Namun, ada yang membuat aditya bingung.
"Siapa bayi yang Adsila bawa tadi? tidak mungkin itu adalah bayi kami. Adsila sudah keguguran 8 bulan yang lalu." pikir Aditya heran.
Sedangkan Adsila, dia mendorong stroller dengan tergesa kesah. Sesekali wanita itu menoleh kebelakang, memastikan Aditya tidak mengikutinya.
Fyuu..
Adsila bernafas lega, dia mulai memperlambat langkah kakinya.
"Adsila?" panggil seseorang, membuat Adsila terkejut.
"Kak Bobi?" gumam Adsila dengan nada suara terkejut.
"kamu kenapa?" tanya Bobi heran, Adsila seperti sedang menghindari seseorang.
"gak papa kak, kebetulan sekali kakak di sini. Aku pengen pulang"
"huh? kok cepat banget. belum juga sampe satu jam di sini" gumam Bobi kaget.
"Aku tiba tiba merasa tidak enak badan kak, makanya aku ingin segera pulang" ucap Adsila beralasan.
Dia segera menggendong bayi nya, lalu meminta Bobi untuk melipat stroller bayi nya, agar lebih muda untuk membawanya.
"Ada apa dengan Adsila? kenapa dia mendadak berubah begini" pikir Bobi merasa curiga.
Namun, pria itu tetap membawa Adsila menuju ke parkir. Dia memasukkan Stroller ke bagasi. Sedangkan Adsila sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil. Wanita itu seperti menghindari Seseorang.
Bobi melihat orang orang di sekelilingnya. Memastikan, apakah Adsila menghindari Seseorang atau tidak.
"Siapa yang dia hindari?" gumam Bobi pelan, dia tidak melihat seorang pun yang memperhatikan Adsila, atau terlihat mencurigakan.
"Aneh!" dengus Bobi. Lalu, pria itu juga masuk ke dalam mobil.
"Ayo kak, jalan" ucap Adsila terlihat tidak sabaran, dia seperti ingin secepat mungkin meninggalkan taman kota ini.
"Kamu kenapa sih Adsila, kamu kaya menghindari sesuatu tahu gak" ujar Bobi penasaran.
"Gak kok kak, aku gak menghindari siapa siapa" sela Adsila membantah pertanyaan Bobi.
"Terus, kenapa kamu kaya ketakutan gitu?"
"aku gak takut!" sangkal Adsila lagi.
Bobi menoleh kearah gadis itu, sudah terlihat jelas jika dia sedang ketakutan sekarang. Dia memeluk anak nya sangat erat, seakan ada seseorang yang akan merebut putranya dari pelukan tangan nya yang sangat hangat.
Melihat mimik wajah Adsila yang ketakutan, membuat Bobi menghentikan pertanyaan nya. Dia meraih tangan Adsila, menggenggam nya erat.
"Kalau kamu takut seseorang merebut bayi mu, kamu bilang saja sama kakak yah. Kakak pasti akan membantu kamu. Kakak akan melindungi kamu dan juga Adit" ucap Bobi memberikan keyakinan pada Adila. Agar dia tidak merasa sendiri lagi, agar dia tidak panik sendiri.
"Makasih kak" lirih Adsila tersenyum haru.
__ADS_1