Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Mual Mual


__ADS_3

"Kemana aku harus mencari Sate?"


Bian masih berkeliling, mencari makanan yang Adsila inginkan.


Satu jam lama nya, pria itu tak kunjung menemukan penjual sate. Jalanan memang sudah sepi, namun beberapa pedagang kaki lima masih ada yang berjualan.


Tidak ada yang menjual sate, sejak tadi yang Bian temui hanya pedagang nasi goreng, bakso, dan gorengan.


Dia terus melajukan mobil menelusuri jalanan.


Tiba di persimpangan, Bian melihat ada 3 gerobak pedagang kaki lima. Salah satu dari mereka ada yang menjual Sate.


"Ah itu ada penjual sate" gumam Bian girang.


Dengan segera, pria itu memarkirkan mobilnya di depan gerobak pedagang itu. Lalu, ia turun dari mobil untuk memesan sate.


"Masih ada sate nya pak?"


"Masih pak, mau berapa bungkus?" jawab pedagang itu dan bertanya balik.


"Satu aja" jawab Bian.


Pedagang itu pun langsung membungkus kan satu porsi sate untuk Bian.


"Ini pak,sate nya"


Bian menerimanya, setelah melakukan pembayaran, Bian pergi dan kembali pulang.


"Hah.. Akhirnya kau ku dapatkan juga" ucap Bian berbicara dengan bungkusan sate.


Beruntung tidak ada orang yang melihatnya, jika ada. Maka orang itu akan berpikir jika Bian sudah gila.


Setibanya di apartemen boss nya, Bian mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Aditya.


Drrttt.....Drrtttt....


Beberapa kali Bian mencoba menghubungi Aditya. Namun, panggilan nya tak kunjung di jawab.


Lalu terkahir, pria itu memutuskan untuk menghubungi Adsila.


Drrtt....Drrtt..


Dering ke dua, panggilan terhubung, Bian pun merasa senang.


"Halo, Adsila Aku sudah di depan. Sate pesanan mu sudah ada"


"Maaf Bian, tapi aku tidak menginginkan nya lagi" jawab Adsila dengan suara serak, khas orang bangun tidur.


Jleb.


"Kau tidak menginginkan nya? aku sudah susah payah mencarinya"


"Tapi aku sudah kenyang tuan, tadi aku makan mie instan" jelas Adsila di sebrang sana.


"Oh, baik lah"


Klik.


panggilan berakhir, Bian menatap bungkusan sate dengan tatapan ingin membunuh.


Satu jam berkeliling, dan kini dia sudah tidak menginginkan nya?? sudah makan mie?????.

__ADS_1


"Aarrg...Jika tahu kau ingin makan mie, kenapa malah minta yang lain!!!!" geram Bian.


Pria itu membawa bungkusan sate masuk ke dalam apartemen nya.


Masih dalam keadaan hati yang kesal, Bian mengambil piring dan meletakkan bungkusan sate di atas piring tersebut.


"Huh...Adsila. Kau menyebalkan!" gumam nya menggeram, lalu menyantap habis sate yang ia beli susah payah.


Sementara di kamar nya, Adsila tidur dengan lelap di atas ranjang empuk. Tak jauh dari sana, Aditya juga tertidur di atas sofa.


Sesuai permintaan Adsila, Aditya rela tidur di sofa. Meskipun sebenarnya masih ada kamar lain di apartemen itu, namun Aditya memilih untuk tidur di sofa.


...----------------...


Pagi datang begitu cepat, Adsila kembali terbangun lebih dulu dari Aditya.


wanita itu duduk di tepi ranjang, mengumpulkan seluruh nyawa nya, yang belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi.


Perlahan Adsila melirik ke kiri dan kanan. Melihat setiap sudut ruangan kamar yang sebenarnya masih asing di matanya.


Hingga akhirnya tatapan mata Adsila jatuh pada Aditya. Pria tampan yang masih tertidur pulas.


Takut takut, Adsila melangkah mendekati pria itu. Dia berjongkok di depan nya, untuk melihat wajah Aditya dari dekat.


Tampan, itulah kata yang terlintas di benak Adsila ketika melihat wajah Aditya.


Setelah wanita itu pikir pikir, Aditya tidak terlalu buruk. Dia adalah pria yang bertanggung jawab.


Namun, karena trauma yang Adsila rasakan. Membuat dirinya masih merasakan takut ketika Aditya mendekati nya.


Adsila menatap lekat wajah tampan Aditya, ia merasa nyaman menatapnya.


"Dia sudah bangun?" pikir Adsila.


Bukan nya kabur, Adsila malah terkesima melihat perenggangan otot yang Aditya lakukan.


Merasakan kehadiran seseorang, Aditya langsung membuka matanya.


Benar, Adsila berada di dekatnya. Pria itu cukup terkejut, namun ia bisa mengontrol keterkejutan nya.


"Kau sudah bangun? bagaimana dengan kondisi tubuh mu? apa kau ingin makan sesuatu lagi?" tanya Aditya perhatian.


"Ha?" Adsila malah linglung mendengar pertanyaan dari majikan nya.


"Bukan kah,tadi malam tuan marah pada ku?" tanya Adsila konyol.


"Hem lupakan saja, mungkin itu karena efek mengantuk" ujar Aditya.


Pria itu bangkit dari sofa, ia berjalan santai menuju ke kamar mandi, dia melewati Adsila begitu saja.


"Sadar lah Adsila, kamu jangan terpesona dengan nya! kau harus sadar diri" gumam nya dalam hati, ia berusaha untuk menyadarkan dirinya agar tidak terperangkap di dalam kegelapan lebih lama lagi.


Kruos...


Adsila tiba tiba merasakan perut nya di putar, dia juga merasa mual.


"Mmuakpp..." Adsila menutup mulutnya, lalu berlari ke dalam kamar mandi yang sudah tertutup.


Adsila menerobos pintu kamar mandi yang tidak di kunci oleh Aditya.


"Wuekkk... Wueekkk..."

__ADS_1


Adsila memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Aditya khawatir. Ia mendekati Adsila dan mengurut tengkuk Adsila.


"Wuuekkk....Wuekkk...",


Adsila terus memuntahkan seluruh isi perutnya, walaupun yang keluar hanya cairan kental bening.


Setelah merasa tidak akan muntah lagi, Aditya membawa Adsila keluar dari kamar mandi.


Pria itu mendudukkan Adsila di tepi ranjang. Lalu, dia berlari mencari kotak obat yang selalu ia siapkan, di mana pun ia berada .


Setelah menemukan kita obat itu, Aditya mengambil sebotol minyak kayu putih, lalu membawa nya pada Adsila.


Baru saja membuka tutupnya, dan aroma minyak kayu putih itu masuk ke dalam Indra penciuman Adsila.


"Bau apa ini???" Adsila menutup rapat hidungnya.


"Ini minta kayu putih"


"Wuepp... Singkirkan itu" teriak Adsila, tangan kanan nya menepis botol minyak kayu putih itu, hingga terpental jauh.


Aditya terkejut, ia tidak tahu jika Adsila tidak menyukai bau Minya kayu putih.


Pria itu berniat mengusapkan Minyak kayu putih ke tengkuk dan juga hidung Adsila. Karena ia pikir Adsila masuk angin.


"Aku tidak suka bau nya, rasanya aku ingin muntah" ucap Adsila, tangan nya masih menjepit kuat hidungnya.


"Wuupp" Adsila menutup rapat mulutnya, ia kembali merasa ingin muntah. Sehingga wanita itu kembali berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Huh, begitulah orang hamil? muntah muntah dan terus menyiksa??" pikir Aditya. Perasaan nya mulai tersentuh, rasa kemanusiaan nya mulai muncul.


"Kamu tidak apa apa?" tanya Aditya ketika melihat Adsila kembali.


"Aku tidak apa apa" jawab Adsila singkat.


Aditya masih menatap nya, ia tahu jika Adsila sangat lemas.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Aditya.


Membuat Adsila menggeleng pelan. Sebagai tanda jawaban dari pertanyaan Aditya.


Aditya masih setia duduk di samping Adsila, ia benar benar khawatir pada wanita ini. Terutama pada kondisi janin nya.


Aditya tidak begitu paham soal wanita hamil, jadi apapun yang terjadi pada Adsila membuatnya khawatir.


Padahal, muntah muntah di pagi hari adalah hal yang lumrah di alami oleh wanita hamil.


Tapi, Aditya malah khawatir akut.


"Apa aku perlu memanggilkan dokter?" ujar Aditya.


Adsila terdiam, ia menatap Aditya yang juga menatap padanya.


Pandangan mereka bertemu, kedua nya sama sama terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing masing.


"Dia bertingkah sok kuat di depan orang lain, padahal dia tidak baik baik saja. Sungguh karakter wanita yang dewasa" pikir Aditya kagum. Makin kesini, dia semakin penasaran pada Adsila.


...****************...


Semoga mereka saling jatuh cinta🄰 Setuju gak?

__ADS_1


__ADS_2