Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Lagi dan Lagi Aku Gagal (Aditya)


__ADS_3

Adsila ikut mengantar adik nya pulang. Lena tidak pernah melepaskan tautan tangan nya pada tangan kakak nya. Dia sangat takut, jika kakak nya akan pergi lagi.


"Lena, bagaimana sekolah mu? Apa sekolah mu lancar?" Adsila menoleh pada adik nya, mereka berjalan bersama masuk ke dalam gang menuju ke rumah sewa bibi Titi.


Lena mengangguk antusias, demi kakak nya dia berusaha keras untuk mendapatkan juara.


"Aku mendapat juara 2 di kelas kak, semester 2 kemarin"


"Benar kah? Waw..." Decak Adsila kagum.


Mereka sampai di rumah, Lena semakin cepat menarik tangan Adsila sambil bersorak memanggil Titi.


"Bibi... Bibi...."


Mendengar teriakan dari keponakan nya, Titi pun bergegas keluar dari kamar.


"Ada apa Lena, kenapa ka-" ucapan Titi terhenti, langkah nya terhenti beberapa langkah dari Adsila.


"Bibi..." Lirih Adsila. Barulah Titi kembali melangkah, air mata nya langsung mengalir deras ke pipi nya yang masih kencang dan tembam.


Lena tersenyum, melihat bibi dan kakak nya saling berpelukan. Akhirnya keluarganya kembali bersama.


"Bibi apa kabar? Apa bibi sudah sembuh?" Tanya Adsila memperhatikan seluruh tubuh bibi nya.


"Yah sayang, bibi mu ini sudah sembuh. Kau kemana aja, kenapa kau menghilang seperti di telan bumi. Kami terus meminta Bian untuk menghubungi mu. Tapi dia hanya mengirimkan kami foto saja" jelas Titi menggerutu, menceritakan semuanya pada Adsila.


Deg.


"Jadi, tuan Bian mengetahui di mana aku berada ?" Pikir Adsila bicara dalam hati.


"Nak" Adsila tersentak, dia tersadar dari lamunan nya.


"Iya bi, maaf, aku terlalu sibuk. Art di sana berkurang, jadi aku harus bekerja lebih" jelas Adsila berbohong.


"Benar kah? Wah pantes kakak mengirimkan uang lebih pada kami." Ujar Lena.


Adsila hanya bisa mengangguk pelan, dia tidak bisa menceritakan sekarang, tentang apa yang dia alami selama ini. Apalagi tentang putranya, Adsila tidak bisa menceritakan nya.


"Kak, kakak jadi kan. Berhenti dari sana? " tanya Lena, dia sangat berharap kakak nya berhenti bekerja dan berkumpul lagi dengan mereka.


Namun, Adsila tentu tidak bisa mengiyakan permintaan adik nya. Dia harus tinggal di rumah Bibi, hingga putranya sedikit lebih besar lagi. Setidaknya sudah bisa berjalan dan bicara. Barulah Adsila bisa keluar dari rumah itu dan kembali ke keluarga nya.


Adsila memegang kedua tangan adiknya, menggenggam penuh kasih sayang.


"Sayang, maafkan kakak yah. Untuk saat ini kakak belum bisa berhenti bekerja." Jelas Adsila.


"Kenapa tidak kak, soal sekolah aku? Kakak gak usah khawatir. Aku sudah mengumpulkan uang jajan yang kakak berikan selama ini, untuk modal kita buka usaha. Dan bibi juga sudah mengumpulkan uang belanja yang kami irit kan" kata Lena. Dia masih bersikeras agar kakak nya menyetujui permintaan nya.

__ADS_1


Adsila menatap wajah adik nya, dia tersenyum manis. Dengan lembut, Adsila menjelaskan semuanya.


"Sayang, apa kamu pikir hanya dengan segitu bisa menjamin kita akan berhasil?" Lena terdiam.


"Sayang, kakak bekerja untuk kita bersama. Setelah kakak merasa sudah cukup dan pas untuk kita nanti, barulah kakak berhenti dan kita bersama sama lagi"


"Tapi kak, sampai kapan?"


"Iya Adsila, bibi juga sekarang sudah bisa bekerja, bibi bisa bantu kamu buka usaha" sahut Titi. Lena mengangguk cepat, menatap kakak nya penuh harap.


Lagi lagi, Adsila menggeleng pelan. Dia benar-benar belum bisa kembali kepada keluarga nya. Dia harus memastikan Aditya tidak mengambil putranya, barulah dia bisa kembali.


Jika Adsila nekat pulang sekarang, maka dia takut nanti Aditya akan lebih mudah mengambil anak nya, dari dirinya.


"Maaf bibi, Lena. Aku belum siap pulang, aku harus mengumpulkan uang lebih banyak lagi, dan kita akan berkumpul lagi. Kakak janji Lena" ucap Adsila, dia langsung memeluk adik nya.


"Tapi...Kakak harus sering sering pulang yah. Aku kangen tidur sama kakak"


"Iya sayang "


Jam terus berjalan, Adsila merasa nyeri di bagian payudara nya. Dia langsung teringat pada putra nya.


"Lena, bi. Aku harus pergi sekarang, aku tidak bisa berlama lama di luar"


"Tapi , aku belum puas sama kakak. Aku ingin bersama kakak". Rengek Lena tidak rela pisah dengan kakak nya terlalu cepat.


"Janji?"


Adsila mengangguk cepat, dia akan datang mengunjungi mereka sesering yang dia bisa.


"Baiklah, kakak pergi dulu yah" Adsila memeluk Lena, lalu beralih memeluk bibi nya.


"Hati hati kak"ujar Lena.


"Jaga diri mu nak"


"Iya bi... Bibi juga jaga diri ya."


Hari itu, mereka kembali berpisah. Adsila dengan berat hati harus meninggalkan keluarga nya.


Di rumah Aditya merasa sangat bosan, entah mengapa semenjak tidak ada Adsila. Aditya menjadi tidak betah berada di rumah. Pikiran nya selalu saja tertuju pada Adsila. Bayangan gadis itu selalu saja menghantui nya.


"Mau kemana?" Tanya Bian ketika berpapasan dengan boss nya di depan lift.


Aditya tidak menghiraukan Bian, dia tetap berjalan lurus masuk ke dalam lift.


"Boss!" Panggil Bian lagi. Barulah Aditya tersentak, dan menoleh pada Bian.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Tidak apa apa boss, saya hanya bertanya mau kemana boss pergi?"


"Hmm.. Aku hanya bosan di apartemen, aku ingin menghirup udara segar"


"Mau ku temani?" Tawar Bian,namun Aditya menolak nya. Dia hanya ingin sendiri sekarang.


"Baiklah kalau begitu, jika Boss membutuhkan bantuan ku, silahkan telfon aku segera " ucap Bian.


"Hmm"


Aditya masuk ke dalam lift, dia menekan tombol agar lift segerah ke bawah.


Keluar dari dalam lift, Aditya langsung masuk ke dalam mobil dan langsung melaju pergi.


Kemana dia akan pergi???


Entah lah, Aditya tidak memiliki tujuan yang pasti. Dia hanya terus mengikuti kemana arah hati nya tergerak.


Tiba di perempatan lampu merah, Aditya menolehkan wajahnya ke samping.


"Adsila?" gumam nya ketika melihat seorang wanita yang mirip dengan Adsila di dalam sebuah angkot.


Ketika Aditya hendak memanggil, lampu merah berubah menjadi hijau. Angkot itu pun melaju cepat.


"Adsila!!!!" Aditya memacu angkot, dia berteriak kencang di dalam mobil. Namun, Adsila tidak dapat mendengar nya, karena mobil Aditya tak kunjung berkesempatan untuk menyelip angkot tersebut.


Kembali tiba di perempatan lampu merah selanjutnya. Aditya berusaha memacu mobil nya agar tidak terjebak lampu merah.


Tapi sayang, takdir tidak berpihak pada dirinya. Setelah angkot melaju cepat, Lampu lalu lintas langsung berubah menjadi merah.


"Arrgggg!!!"


Aditya memukul stir mobil nya, meluapkan rasa kesal. Lagi lagi dia gagal mendapatkan Adsila.


"Adsila!!!! Kenapa kamu susah banget sih di dapatkan! Kenapa harus hilang timbul kaya gini!"


Aditya terus menatap ke arah depan, berharap masih bisa melihat kemana arah angkot itu pergi.


Setelah lampu merah berubah menjadi hijau. Aditya langsung melaju, namun dia bingung angkot itu pergi kearah mana? di hadapan nya ada dua jalur yang berbeda.


"Arrgggg!!!!"


Aditya mendengus kesal, dia benar-benar kehilangan jejak Adsila lagi.


"Awas saja kau Adsila! Jika suatu hari aku melihat mu lagi! Aku tidak akan melepaskan mu!"geram Aditya berjanji .

__ADS_1


__ADS_2