Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Persaingan kembali di mulai


__ADS_3

Di sebuah Cafe elit terletak tak jauh dari kantor Aditya. Bobi dan Aditya duduk saling berhadapan.


"Mau minum apa boss, tuan Bobi!" ucap Bian, dia berniat ingin memesankan minum untuk mereka.


Aditya dan Bobi memutuskan tatapan tajam mereka, lalu menoleh pada Bian.


"Aku capuccino saja!" ucap Bobi.


"Aku teh hangat saja" jawab Aditya.


Bian mengangguk, lalu berlalu pergi memesan ke kasir. Prinsip di cafe itu, pesan langsung bayar. Pelayan nya hanya mengantar pesanan saja, tidak perlu menanyakan pada pelanggan ingin memesan apa. Semua menu ada di kasir.


Kini Bobi dan Aditya kembali saling menatap, namun tidak setajam tadi.


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku tuan Bobi?" tanya Aditya memulai pembicaraan santai mereka.


"Tidak ada tuan Dairon, aku hanya ingin mengobrol ringan saja, sekedar mengingat masa lalu kita." balas Bobi tersenyum kecut.


Aditya menggeleng pelan, dia tidak habis pikir Bobi sangat suka mengenang masa kekalahan nya.


"ngomong ngomong Aditya, kenapa kau masih melajang?"


"Hmm... Pertanyaan yang sedikit memilukan"


Bobi mengangkat satu alis nya, menantikan kelanjutan cerita Aditya.


"Aku sudah memiliki seorang wanita yang aku cintai Bobi, aku juga hampir memiliki seorang anak"


"Benarkah?" sahut Bobi, pria itu semakin penasaran. Jantung nya semakin berdetak kencang. Apakah Aditya adalah ayah dari Adit?.


Aditya menatap nanar ke atas meja, membayangkan putranya yang sangat tampan dan lucu.


"Ahh..Baiklah tuan Bobi, mengapa anda sangat ingin tahu tentang kehidupan pribadi ku?"


Bobi tersenyum, dia menggeleng pelan.


"Aku hanya ingin tahu saja tuan Aditya, aku takut kita memiliki cinta pada satu wanita" ucap Bobi dengan nada serius. Namun, di tanggapi santai oleh Aditya.


"Ahaha...Bukankah anda sudah memiliki seorang wanita? mengapa anda harus takut Tuan" kekeh Aditya.


Bian duduk di meja lain, jarak 2 meja dari posisi Aditya dan Bobi mengobrol.


Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa minuman untuk mereka.


"Silahkan di nikmati tuan" ucap pelayan setelah menghidangkan minuman di atas meja.


Aditya mengangguk pelan, dia mengambil teh nya, lalu meminumnya sedikit. Dia berusaha santai, padahal dia tahu Adsila ada di tangan Bobi.


"Aku juga penasaran tuan Bobi" Aditya meletakkan gelas teh nya, menatap Bobi yang juga baru saja meletakkan gelas minumnya.

__ADS_1


"Bagaimana wanita yang kau sukai itu? mengapa kau tidak menikahinya?" lanjut Aditya.


Boby menghela nafas, menatap Aditya dengan tatapan sulit di artikan.


"Aku menunggu sampai wanita ku siap, aku bukan tipe yang pemaksa" jawab Bobi.


Aditya mengangguk pelan, dia mengerti sekarang. Adsila belum di miliki oleh Bobi. Aditya bersorak girang, kesempatan mendapatkan hati Adsila semakin besar.


"Uhmm Kau harus lebih bersemangat meyakinkan dia tuan"


"Hum.. terimakasih" sahut Bobi.


Mereka saling melempar senyuman, kemudian sama sama meminum minuman masing-masing.


Setelah meletakkan gelas minumnya, Bobi sengaja meletakkan ponsel nya di atas meja dengan screen yang masih menyala.


"Foto Adsila" batin Aditya, mata nya tidak sengaja melihat ponsel Bobi.


"Ayo Aditya, lihat dan berilah komentar. Aku ingin melihat reaksi mu!" ucap Bobi dalam hati, mata nya terus mengawasi gerak gerik Aditya.


Aditya menangkap gerak gerik Bobi, dia tahu saat ini Bobi sedang memancing dirinya.


"Waw, dia istri mu atau kekasih mu?" ungkap Aditya.


"Huh?" Bobi pura pura terkejut, dia mengikuti arah pandang mata Aditya.


"Oh dia? namanya Adsila, dia wanita yang baik dan yah dia memang memiliki seorang anak" jelas Bobi.


"Dia memang bekas Aditya, tapi dia belum menikah. Tubuhnya masi asli, hanya di pakai satu kali?"


Jleb.


seketika tangan Aditya mengepal, dia tidak terima Bobi mengatakan hal itu tentang Adsila. Dia berpikir jika Adsila sudah pernah di jamah oleh pria itu.


"Waw, beruntung sekali, kau bisa memakainya dengan sesuka hati" pancing Aditya, dia menahan sakit di hatinya, namun dia harus menahan nya demi mengetahui segalanya.


Brak!


"Hati hati kalau berbicara tuan, dia tidak wanita yang seperti itu. Dan harus kau ingat, aku juga bukan pria seperti itu!" ucap Bobi mulai terpancing emosi.


Siapa yang memancing, dan malah siapa yang terpancing.


"Ups...Selow tuan, aku tidak bermaksud begitu. Santai.." kata Aditya mengangkat tangannya tanda bercanda.


Bobi meminum habis minuman nya, lalu menghempaskan gelas di atas meja.


"Kau tidak perlu berkelit lagi Aditya! aku tahu kau adalah pria yang sudah melecehkan Adsila kan!"


Deg.

__ADS_1


Aditya terdiam, dia tidak suka mendengar kata kata itu dari mulut Bobi.


"Kau jangan asal bicara Bobi, kau bisa menanggung akibatnya nanti!" jawab Aditya menatap Bobi datar.


"Kau harus ingat! mungkin selama persaingan kita kau selalu menang! tapi tidak dengan Adsila. Aku tidak akan kalah dari mu lagi!"


Setelah mengucapkan kata kata itu, Bobi pergi begitu saja dari sana.


Aditya menatap kepergian Bobi, matanya menatap datar pada pria itu.


"Cih, kau ditakdirkan untuk kalah Bobi, bukan untuk menang!"lirih nya.


Setelah melihat Bobi pergi, Bian langsung mendekati boss nya.


"Ada apa boss,kenapa dia marah mara dan pergi begitu saja?" tanya Bian penasaran.


"Dia sudah mengetahui Adsila adalah wanita yang mengandung putra ku!" jawab Aditya.


Bobi mengangguk mengerti, dia paham mengapa Bobi ingin mengajak Aditya mengobrol.


"Dia berusaha memancing ku, dia ingin mengetahui segalanya. Namun, dia malah terpancing emosi sendiri" Aditya terkekeh di akhir kalimat nya.


...----------------...


Sementara di lain tempat, Jasmin menghampiri mama nya.


"Mama!" panggil nya.


Maya yang duduk santai di ruang tengah rumah nya, melihat kedatangan putrinya.


Lalu, pria paru baya itu kembali menatap ponselnya.


"Ada apa Jasmin, mengapa kau datang dengan ekspresi seperti itu."


"Mama...Gawat ma, Adsila!"ucap Jasmin panik.


Maya langsung menoleh pada putrinya ketika mendengar nama Adsila di sebut.


"Kenapa dengan wanita itu? apa dia masih hidup?"


"Tentu saja ma, dia masih hidup. Dia di lindungi oleh keluarga Malay!"


"What???" Maya sangat terkejut, dia berpikir wanita itu sudah mati. 3 tahun silam,Maya sudah membayar preman untuk menganiaya wanita itu.


"Bagaimana bisa Jasmin, bukan kah preman itu sudah mengatakan pada kita jika dia sudah mereka buang ke jurang?"


"Tidak ma, mereka berbohong. Bobi Malay berhasil menyelamatkan wanita itu, dan membuat preman itu mengaku. dia juga yang telah meminta preman itu untuk berbohong kepada kita!" jelas Jasmin panjang lebar.


Kedua tangan Maya mengepal, dia tidak suka jika wanita yang sudah menyebabkan dirinya keluar dari rumah besar keluarga Dairon masih hidup.

__ADS_1


"Kita harus membuat sesuatu ma, kita harus memberinya pelajaran!"


Maya mengangguk pelan, apa yang Jasmin katakan benar. Jika dia masih hidup dan memiliki seorang anak apalagi laki laki,maka semua harta warisan akan jatuh ke tangan Adsila, tanpa sepersen pun dapat mereka nikmati.


__ADS_2