
Sore harinya, setelah Adsila pergi Titi duduk di depan rumah. Di depan teras di atas kursi kayu. Masih sulit di percaya, Adsila benar benar mengejutkan Titi.
Selama hampir 3 tahun Adsila menyembunyikan semua ini dari dirinya. Titi tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hidup keponakan nya, ketika dia di timpa masalah seperti itu.
"Bian!" satu nama yang melintas di benak Titi.
Selama ini pria itu telah membohongi nya. Setiap foto yang Bian kirimkan padanya, setiap alasan yang Bian katakan padanya, ketika dia ingin berbicara dengan keponakan nya itu.
Ternyata, ini lah alasan yang sebenarnya. Bian kehilangan Adsila, maka nya dia selalu berkata tidak bisa mengganggu Adsila.
"Pembohong!"geram Titi, kedua tangan nya mengepal kuat.
Merasa tidak puas dengan hatinya, Titi memutuskan untuk pergi menemui Bian.
Sebelum pergi, Titi mengirimkan pesan singkat terlebih dulu pada Bian.
Huh!
"Pria brengsek!"
* * *
Adsila berdiri di depan halte bus. Cuaca yang sangat panas, membuat dirinya tidak tega membawa Adit naik angkot.
"Ma, apa yang kita tunggu?"tanya Adit menatap mama nya sambil mengibas-ngibaskan tangan nya ke depan wajah nya.
Adsila menoleh, dia semakin iba melihat putranya yang seperti itu. Dia berjongkok di depan Adit, menghapus keringat yang mencuat di pelipis putranya.
"Nak, maafin mama ya. Gara gara mama, kamu jadi kepanasan"
Adit menggeleng, dia menghentikan tangan nya mengipas tubuhnya. Adit berusaha agar terlihat baik baik saja di depan mama nya.
"Aku gak papa kok ma, santai saja"tercengir.
Adsila tersenyum hangat, putranya sangat pintar membuat dirinya terharu.
"Oh iya ma, Tante Lena itu Tante aku? Terus Titi itu Nenek aku yah?"
Adsila mengangguk, dia mencoba melayani putranya mengobrol, agar rasa lelah nya terlupakan sejenak.
Sebenarnya, Adsila bisa saja pergi menggunakan supir. Tapi, Adsila tidak mau keluarga angkat nya mengetahui kemana dia pergi.
Cittttt........
Sebuah mobil hitam berhenti di depan halte. Tepatnya di depan Adsila dan putranya.
Adsila terkejut, dia segera memeluk putranya dan sedikit menjauh dari tepi halte. Mata hazel Adsila dengan was was menatap ke mobil hitam itu.
Seseorang keluar dari dalam mobil, lalu dengan cepat mereka mendekati Adsila dan memaksa Adsila masuk ke dalam mobil.
"Eh eh apa apaan ini!" Bentak Adsila marah, dia melawan dan berusaha berteriak minta tolong.
__ADS_1
Namun, Adsila kalah cepat. Mereka lebih dulu merebut Adit dan membawa nya masuk ke dalam mobil. Dengan terpaksa Adsila juga ikut masuk untuk mengambil Adit kembali.
"Mama! Mama!!" Panggil Adit menangis.
Blam!
Pintu mobil tertutup rapat, mobil pun langsung melaju.
"Mama..."tangis Adit ketika Adsila berhasil memeluk putranya.
"Iya sayang, mama di sini. Mama di sini" ucap nya mengecup seluruh wajah putra, agar putranya tenang dan berhenti menangis.
"Mama di sini sayang, semuanya akan baik baik saja"
Setelah Adit tenang, barulah Adsila sadar ada seseorang duduk di samping.
Dengan gerak cepat, Adsila menggeser duduk nya menjauh dari orang itu.
"Adsila!" panggil Aditya setelah membuka kaca matanya.
Adsila terkejut, jantung nya langsung berdetak cepat. Ketakutan langsung menghantui dirinya. Dia memeluk Adit semakin erat.
Melihat Adsila sangat ketakutan, Aditya mencoba mendekatinya.
"Tenang Adsila, aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin kau dan aku berbicara"
"Lalu, kenapa tuan melakukan ini? Menculik kami??"
"Tidak Adsila, aku terpaksa melakukan ini, aku yakin kau akan menghindari aku, jika aku meminta secara baik baik" ucap Aditya menjelaskan.
"Om?"
"Adit"sahut Aditya berbinar, dia sangat senang bisa di panggil oleh anak nya sendiri.
"Kamu masih ingat sama pa-,.hm om?" Ralat Aditya ketika dia hampir keceplosan.
Bocah kecil itu menggeliat, dia merubah posisi duduknya di atas pangkuan mama nya, menjadi duduk di samping mama nya. Jadi posisi Adit duduk di antara Adsila dan Aditya.
Adsila tidak bisa menahan putranya, dia tidak tahu apa apa. Jadi Adsila hanya bisa membiarkan putranya.
"Om kenapa culik kami? Kenapa gak panggil aja tadi?"
"Uhm.."Aditya mulai berpikir, alasan apa yang harus dia katakan pada Adit.
"Cuaca panas, jadi om Aditya sengaja melakukan itu agar mama kamu mau ikut menumpang di sini" Bian menjawab dari depan. Sejak tadi dia hanya memperhatikan mereka dari spion mobil.
"I-iya sayang, jika om ajak, pasti mama kamu menolak." Imbuh Aditya.
Adit menoleh pada mama nya, meminta penjelasan.
Adsila pun dengan terpaksa mengangguk pelan, dia tidak bisa berkata kata lain lagi.
__ADS_1
Melihat mama nya mengangguk, Adit merasa sangat senang. Dia menatap Aditya dengan senyum bahagia.
"Wahhh....Adit di dalam mobil kaya gini sama om dan mama, kaya sama papa dan mama. Hahaha..."
Deg.
Hati Adsila terasa teriris mendengar celotehan putranya.
"Kasihan sekali kamu sayang, pasti kamu sangat sedih melihat teman teman kamu punya papa. Sementara kamu tidak tahu siapa papa kamu" batin Aditya.
"Kamu boleh kok,panggil om sebagai papa"ujar Aditya.
Adsila menoleh, dia menatap Aditya dengan tatapan marah.
"Benarkah? "Adit menoleh pada mama nya."mama bolehkah??"
"Adit, kamu ingat kan pesan mama?"kata Adsila memperingatkan putranya, agar menjaga sikap di depan orang lain.
Raut wajah Adit langsung berubah, dia merubah posisi duduknya menjadi lebih tenang.
"Maaf ma" lirihnya.
Aditya mengerut, dia mencolek Adsila dari belakang punggung Adit, agar putranya tidak melihat.
Adsila melirik tajam, dia semakin kesal pada Aditya. Sikap pria ini semakin menjadi jadi. Andai saja Adit tidak ada di sini, maka Adsila pasti sudah memakinya.
Aditya menatap Adsila dengan tatapan bertanya, dia ingin tahu mengapa putranya berubah seperti itu.
Karena tidak mendapat jawaban nya, Aditya memutuskan untuk bertanya pada Adit langsung.
"Adit kok diam? Adit gak mau yah panggil om papa?"
"Bukan gitu om, Adit cuma sadal kalo Adit udah bersikap tidak sopan"jawab nya.
"Gak kok sayang, om malah senang kalo Adit bahagia di dekat om"
"Benarkah?" Raut wajah Adit langsung sumringah.
Aditya mengangkat tubuh Adit ke atas pangkuannya. Akhirnya dia bisa memeluk putranya lagi.
"Oh tuhan, begini kah rasanya memeluk putra sendiri?" batin Aditya.
Bian tersenyum, dia ikut bahagia melihat boss nya bahagia. Aura kebahagiaan terlihat berkobar pada kedua orang itu.
Bian beralih melihat Adsila, wanita yang kuat dan juga rapuh. Adsila tampak diam saja melihat putranya tertawa bahagia bersama Aditya.
"Papa" panggil Adit untuk pertama kali memanggil Aditya dengan panggilan yang dulu sangat Aditya nantikan.
"Iya, ini papa nak" jawab Aditya tersenyum haru. Dia memeluk Adit, mencium pucuk kepala Adit.
Adit membalas pelukan papa nya, tidak dapat di bohongi, hubungan darah itu sangat kuat.
__ADS_1
Adit sangat bahagia, tawanya begitu asli. Berbeda ketika dia tertawa bersama Bobi. Apa ini yang di namakan ikatan darah lebih kuat?
Adit, maafin mama sudah memisahkan kamu sama papa kamu. Tapi percayalah, suatu hari kamu pasti akan mengerti.