Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Tiba-tiba Di Serang


__ADS_3

Tiba di halte bus dekat pasar, Adsila menggendong Adit turun dari dalam bus. Dia menarik koper masuk ke dalam gang sebelum masuk ke area pasar.


"Sebentar lagi kita akan sampai sayang, kamu sabar yah" lirih Adsila pada putranya yang sudah tertidur di dalam gendongan nya.


Baru saja Adsila memasuki gang kecil itu, tiba-tiba sebuah mobil melaju cepat kearahnya.


"Astaga!" pekik Adsila terkejut, dia segera menarik kopernya ke pinggir jalan, menghindari mobil itu.


Cittt.....


Mobil itu berhenti, beberapa orang keluar dari sana.


Adsila memeluk putranya, dia trauma dengan hal ini. Kejadian 3 tahun yang lalu berputar di benak nya.


Benar saja, orang orang itu memakai topeng. Adsila yakin mereka adalah orang jahat yang ingin mencelakai putra nya.


"Siapa kalian!!" teriak Adsila marah, dia berjalan mundur menghindari mereka.


Saat itu, daerah pasar terlihat sangat sepi. Padahal belum terlalu malam.


"Serahkan anak mu!" seru salah satu pria yang memakai topeng itu.


"Tidak, aku tidak akan memberikan putra ku kepada kalian!" tolak Adsila tegas, dia semakin memeluk putranya.


Adsila menepis tangan mereka yang ingin merebut putranya.


"Tolong!!!! Tolong!!!" Adsila berteriak kuat, namun tidak ada yang mendengarnya.


"Jangan sentuh putra ku!" teriak Adsila, dia terus memberontak, menepis setiap tangan mereka, bahkan dia mencoba untuk berlari pergi.


Adit merasakan tubuhnya di tarik tarik, dia membuat matanya dan terkejut melihat orang orang yang mengerikan tengah menarik tangan dan tubuhnya dari pelukan mama nya.


Adit memeluk mama nya semakin erat, dia menangis keras merasakan takut dan juga sakit.


"Tolong???"


"Tolong!!! lepaskan putra ku!!!"


Adsila terus berteriak, dia mengutuk semua orang yang tidak mendengar telinganya.


Dari arah yang berlawanan,sebuah mobil melaju cepat!


Tett!!!!!!!!!


Mobil itu mengarah pada penjahat itu, membuat mereka langsung berhamburan pergi.


"Cabut cabut cabut..." teriak mereka berhamburan masuk ke dalam mobil dan pergi.


Adsila menghela nafas lega, dia memeluk putranya semakin erat


"Hiks...Hiks...Mama..." tangis Adit .


"Sstt...Suda sudah, semuanya sudah aman sayang, jangan takut, mama di sini bersama mu" ucap Adsila menenangkan putranya.


Aditya keluar dari dalam mobil nya, dia mendekati Adsila dan juga Adit yang tengah ketakutan.


"Kalian tidak apa apa?" tanya Aditya khawatir.


Adsila tidak menjawab, dia hanya diam sambil memeluk putranya yang masih menangis.


"Adit, sayang" panggil Aditya.


"Papa...Ada Olang jahat, dia ganggu mama" adu Adit sambil menangis kuat. Dia mengangkat kedua tangannya kearah Aditya, agar pria itu menggendong nya.


Aditya pun mengambil Adit, dia menggendong Adit.

__ADS_1


"Sttt....." Aditya menenangkan putranya.


Bian tiba, dia tidak berhasil mengejar penjahat itu.


"Maaf boss, mereka tidak berhasil saya tangkap" ucap Bian menyesal.


Aditya tidak menjawab, dia fokus menenangkan putranya. Sementara Adsila hanya diam menatap putranya yang kini diam di dalam pelukan Aditya.


"Sebaiknya kita pergi dari sini, udara malam tidak baik untuk kesehatan tuan muda" usul Bian.


Aditya mengangguk, dia membawa Adit masuk ke dalam mobil, lalu memanggil Adsila ikut masuk.


Awalnya Adsila tahu, namun akhirnya dia juga masuk ke dalam mobil bersama Aditya.


Jauh dari sana, seseorang mendengus kesal. Rencana nya gagal membuat Adsila dan putranya celaka.


"Sial! dia berhasil selamat!"


"Huh, anak buah mama tidak berguna!" sahut Jasmin.


Maya menatap putrinya sinis, seenak nya saja putrinya menyalahkan dirinya.


"Apa kau pikir itu kesalahan ku? merek saja yang terlalu bodoh mengatasi gadis miskin itu!"


"Yah kan, mama yang memilih mereka!" balas Jasmin lagi.


Maya mendengus kesal, dia beranjak pergi kembali ke mobil nya. Lalu, Jasmin ikut menyusulnya.


Maya dan Jasmin berniat ingin menghancurkan Adsila. Dia tidak ingin gadis itu kembali pada putra tirinya.


Jika Rania kembali bersama putranya, maka semua harta akan kembali ke tangan Aditya dan putranya. Semua properti yang saat ini dia nikmati akan di tarik.


...----------------...


Aditya dan Bian mengantar Adsila dan Adit ke rumah Titi.


Bian sengaja menekan klakson sangat keras, agar Titi segera keluar dari dalam rumah.


Benar saja, Titi dan Lena membuka pintu. Mereka terkejut melihat mobil mewah terparkir di depan rumah sederhana mereka.


"Bi, mobil siapa ini? mengapa mereka ribut Sekai!" gumam Lena menatap jengkel pada mobil Bian.


Rasa kesal mereka segera menghilang, ketika melihat Adsila keluar dari dalam mobil.


"Kak Adsila?" gumam Lena, dia langsung menghampiri kakak nya dan memeluknya.


"Lena, bibi" balas Adsila membekas pelukan adiknya.


Titi menatap Bian dengan senyum manis, dia pikir Bian menjemput keponakan nya.


Namun, senyum itu segera patah ketika melihat Aditya juga keluar dari dalam mobil.


"Kau, bukankah kau adalah boss bejat itu? meng-",


"Sttt....Titi, stop. Berhentilah mengomel di depan rumah. Apa kau tidak malu di lihat tetangga mu nanti?" potong Bian mendorong wanita cantik itu masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo masuk tuan" ajak Adsila.


"Kak, dia ..."


Adsila mengangguk pelan, dia menarik adik nya masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apapun.


Setelah masuk ke dalam rumah, Titi menyuruh Aditya membaringkan Adit yang tidur di dalam gendongan nya di atas ranjang kamar Lena.


Aditya mengangguk pelan, dia mengikuti Adsila masuk ke dalam kamar. Lalu membaringkan Adit di atas tempat tidurnya. Dia melirik Adsila, wanita itu masih diam.

__ADS_1


Setelah itu, keduanya kembali keluar dan bergabung dengan Titi, Bian dan juga Lena.


Adsila duduk di samping bibi nya, dia hanya diam tanpa bersuara. Kejadian ini masih membuat dirinya syok.


"Sebenarnya apa yang terjadi? mengapa kalian semua bisa bersama?" tanya Titi penasaran. Dia tahu jika Adsila menyembunyikan keberadaan Adit dari Aditya. Lalu dekat, mengapa mereka bisa bersama dan Aditya menggendong Adit.


"Begini Titi, tadi setelah kamu menghubungi aku. Aku langsung pergi mencari Adsila di jalur yang kau sebutkan. Kebetulan boss ku mendengar nya, akhirnya kami berdua pergi bersama."


"Lalu?"sela Titi.


"Di gang depan, dekat pasar tradisional. Kami melihat Adsila dan Adit di ganggu oleh preman. Seperti nya mereka adalah orang sewaan" sambung Bian.


"Apa? jadi karena itulah kau datang terlambat?" Titi menatap iba keponakan nya.


Namun, Adsila menggeleng pelan. Bukan itu yang membuatnya terlambat pulang.


"Lalu apa?" tanya Lena. Dia akhirnya bersuara. Sejak tadi dia hanya menyimak.


"Bobi menahan ku, dan aku harus meyakinkan keluarga ku terlebih dulu" jelas Adsila, dia masih menunduk.


Aditya tidak mengeluarkan suara, sejak tadi tatapan nya hanya tertuju pada Adsila. Wanita yang selama ini dia tunggu.


"Tuan, sebaiknya anda menjauhi keponakan saya. Karena anda, dia menjadi tidak aman!" tegas Titi.


Bian menjadi terkejut.


"Titi, ini bukan kesalahan tuan!"


"Bukan apa nya?" Titi menatap Aditya tajam. Dia menyesal menyuruh keponakan nya bekerja di rumah itu.


"Seandainya saja aku tidak sakit, mungkin aku tidak akan membiarkan keponakan ku bekerja di sana,dan malapetaka ini tidak akan terjadi!"


"Titi!" sanggah Bian lagi.


"Sst.. Biarkan saja Bian, tidak apa apa" ucap Aditya menghentikan Bian untuk melarang Titi.


Aditya menatap Titi, dengan ekspresi bersalah. Aditya menundukkan kepalanya.


"maafkan aku nyonya, aku yang sudah menyebabkan keponakan anda sengsara. Tapi, aku berjanji akan bertanggung jawab. Aku tidak akan membuatnya terluka lagi" sesak Aditya.


Adsila terkesima, dia tidak pernah melihat tuan muda angkuh itu berkata sopan pada bawahan nya.


"Bagus lah, jika anda sadar. Dan saya harap anda bisa menjauhi keponakan saya!" ucap Titi.


Aditya menggeleng, dia tidak bisa melakukan hal itu.


"Saya akan bertanggung jawab, saya akan menikahi Adsila dan menjadi ayah bagi Adit. "


"Apa?" Lena langsung berdiri, dia tidak akan membiarkan kakak nya masuk ke dalam neraka itu lagi.


Adsila terkejut, Aditya melamar nya?


"Bos.."lirih Bian,dia juga sama seperti merek. Bian terkejut dengan tindakan boss nya ini.


"Aku tidak akan merestui anda menikahi kakak saya! Anda sudah menyebabkan kami berpisah selama 3 tahun. Dan kini Anda dengan seenaknya ingin menikahi nya?" Lena menggeleng.


"Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah merestui kalian!??" teriak Lena, lalu dia berlari masuk ke dalam kamarnya.


Titi menatap Aditya tajam. "Benar, Lena memang sangat benar. Mengapa anda baru sekarang ingin menikahinya? mengapa tidak sejak awal, ketika dia tinggal bersama mu di apartemen?" tutur Titi.


Aditya terdiam, dia merasa tubuh nya tertanam di dalam lubang yang sangat dalam.


Sementara Adsila, dia hanya bisa diam menatap Aditya kosong.


Kira kira apa yang akan Adsila lakukan? apa dia akan menerima lamaran Aditya? atau malah mengusirnya??

__ADS_1


Yuk like dan beri komentar kalian. Jadilah pembaca yang aktif dan jangan menjadi pembaca gaib. Tidak memiliki jejak. 😅


Terimakasih readers ku, nantikan episode selanjutnya yah.


__ADS_2