
Aditya masuk ke dalam ruangan kerja nya, dia baru saja selesai meeting. Tak lama kemudian, Bian dan Rangga mengikuti Aditya masuk ke dalam.
"Boss, apa tema pesta kita kali ini?"tanya Bian sambil memegangi notebook di tangan nya. Mulut nya berbicara, namun mata dan jarinya sibuk ke benda pintar berbentuk segiempat itu.
"Tema nya seperti biasa, tapi sedikit romantis"jawab Aditya.
"Aku setuju, aku bisa mengajak Hana nantinya"
Pletak!
Bian mendaratkan pukulan nya ke bahu Rangga.
"Kau ini, bisa gak sih, sedetik saja kau tidak menyebut nama Hana di sekitar ku?" Omel Bian jengah. Dia sudah bosan mendengar nama Hana Hana dan Hana yang keluar dari mulut rekan nya itu.
Rangga menggeleng pelan. Dia sedang di mabuk cinta Hana, mana bisa dia tidak mengingat kekasih nya itu.
"Aku tidak bisa Bian, aku terlalu mencintai nya" ungkap Rangga, matanya melihat keatas loteng ruangan kerja Aditya, pria itu sedang berangan dirinya bersama dengan Hana.
"Ah sudah sudah, aku ingin tema romantis Bian. Biarkan semua pegawai membawa pasangan mereka. Informasikan juga pada semua kolega ku, agar mereka membawa semua pasangan mereka keacara ini"
"Baik boss"jawab Bian patuh.
Lagi lagi Rangga membuat ulah, dia mendekati meja Aditya, matanya menatap lekat ke wajah Aditya.
Aditya merasa risih, dia menepis wajah Rangga dengan melempar berkas yang ada di depan nya, ke wajah Rangga.
Bruk~
"Berhenti menatap ku seperti itu"serga Aditya.
"Huff...kalian ini, candaan kalian kasar!" Dengus Rangga merajuk.
"Kau sih, kenapa kamu menatap boss seperti itu?" Ujar Bian.
Lagi lagi, Rangga menghela nafas. Dia menunduk dan berubah menjadi sedih.
Aditya dan Bian mengerut heran, semakin hari, Rangga semakin terlihat bodoh. Cinta sudah membuat urat sarap nya putus.
"Bagaimana aku tidak sedih, boss menyuruh semua orang mengajak pasangan nya, tema yang di buat juga romantis." Lirihnya.
"Terusss, hubungan dirimu yang sedih dengan semua itu apa Rangga? kamu lama lama semakin aneh tahu gak sih!"ucap Bian menatap Rangga dengan tatapan jengah.
"Aduh Bian, kamu yang bodoh, kamu yang gila! Masa semua orang berpasangan, tapi boss jomblo?"
Duarr...
Ucapan Rangga ngena banget, Aditya dan Bian langsung melempar tatapan datar. Keduanya langsung menatap Rangga geram.
"Heh Rangga! Kau itu mau pamer sama kami! Kalau kau itu sudah tidak jomblo huh?" Bian emosi, dia meletakkan notebook nya ke atas meja Aditya, lalu mendekati Rangga dengan gaya mengajak gelut.
"Ehh op op... Jangan emosi dong Bian, aku kan cuma bilang boss, kenapa kau marah"
"Karena dia juga jomblo bego!" Celetuk Aditya memutar bola matanya.
"UPS...Aku lupa Bian, aku tidak sengaja" ujar Rangga tercengir.
Ceklek.
Pintu ruangan Aditya terbuka, membuat perhatian ketiga pria itu teralihkan ke sana.
Weira muncul, dia masuk ke dalam ruangan Aditya.
"Halo semuanya, apa kabar"sapa nya tersenyum rama.
Aditya terlihat acuh, Bian dan Rangga hanya tersenyum tipis.
"Yaudah deh boss, kita ijin keluar dulu yah" pamit Bian. Dia juga menarik Rangga ikut bersama nya .
Kini, tinggal Aditya dan Weira di ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?"tanya Aditya ketus.
Weira tidak goyah, dia masih berdiri di depan meja kerja Aditya dengan senyum manis.
"Aku mau ajak kamu makan siang sayang"
__ADS_1
"Aku sibuk!" Tolak Aditya cepat.
"Yaudah, aku tunggu kamu sampai selesai" jawab Weira tidak menyerah. Dia malah pergi duduk di sofa yang ada di ruangan Aditya
Aditya benar benar tidak peduli, dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan pekerjaan yang harusnya tidak ia selesaikan. Bagi Aditya, dia cukup menyibukkan diri untuk menghindari wanita itu.
Cukup lama Aditya mengabaikan nya, membuat Weira tidak tahan lagi.
"Aditya!"
"Hmm" sahut Aditya.
Weira semakin tidak suka, tidak biasanya Aditya kalau bicara tidak menatap nya. Bahkan tidak biasanya Aditya mengacuhkan dirinya ketika dia berada di sekitarnya.
"Kamu ini ke apa sih? Kenapa kamu mengabaikan aku?" Protes Weira.
"Aku tidak menyuruh kamu duduk di situ, aku juga tidak mengatakan kalau kau bisa menunggu ku!"balas Aditya membela diri.
"Kamu masih marah? Aku yang pergi hampir 2 tahun itu?"
"Tidak, aku tidak marah, sedikit pun aku tidak memiliki rasa mara"
"Lalu, kenapa kau membenci ku?" Sela Weira, dia hampir menangis, air matanya sudah berkumpul di pelupuk mata nya.
"Aku tidak membenci mu, aku juga tidak marah pada mu. Tapi, aku hanya marah kada diriku sendiri. Kenapa aku baru menyadari semua ini, betapa bodoh nya aku ketika mencintai mu!"
"Aditya!"bentak Weira keras.
"Tidak Weira! Tidak! Sejak kau meninggalkanku ketika beberapa hari acara pernikahan kita akan di langsung kan, kau pergi meninggalkan aku tanpa berpikir dua kali!"
"Aku malu!, Aku terhina, bahkan hati ku memang patah waktu itu" sentak Aditya tegas.
"Aku bisa memperbaikinya Aditya. Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu lagi!"
"Tidak!". Aditya menepis tangan Weira yang hendak menyentuhnya!.
"Kau pikir, sebentar waktu ku untuk menyembuhkan luka itu?"
"Aku sakit terlalu lama Weira! Bahkan aku melakukan kesalahan karena dirimu!!!! Dan kini, aku sudah menyadari, kau bukanlah cinta ku. Tapi, obsesi ku!"
"Aku akan mencintaimu Aditya, aku akan mencintaimu. Aku tidak akan pergi lagi" Weira menghapus air matanya, dia berdiri di depan pria yang dulu hangat, kini berubah menjadi dingin.
"Aku akan membuat mu mengingat cinta mu pada ku!"
Aditya menggelng, dia tidak akan mencintai siapapun selain Adsila. Wanita yang pernah dia sakiti.
"Aku akan selalu mengejar mu Aditya, kau hanya milik ku. Wanita yang pernah kau hamil itu, tidak berhak mendapatkan cinta yang seharusnya milik ku!"
Weira pergi dari ruangan Aditya, dia pergi meninggalkan tanda tanya di benak Aditya.
"Bagaimana dia tahu tentang Adsila??"
...----------------...
"Kak, kenapa kakak membeli semua gaun itu?"
Adsila mengikuti Bobi masuk ke dalam ruangan kerjanya.
wanita itu terus memprotes tentang gaun yang mereka beli di mall tadi.
"kak Bobi! jawab aku, kenapa???" Adsila mencak mencak tidak karuan, karena Bobi tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Kak"panggil Adsila lagi.
Street....
bukan nya menjawab, Bobi malah menarik Adsila jatuh ke pangkuan nya.
"kak"desah Adsila berusaha bangkit dari pangkuan Bobi. namun, pria itu menahan nya dan memeluk tubuh Adsila.
Bobi menyangkutkan dagu runcing nya ke bahu Adsila yang membelakangi nya.
"Sudah hampir 3 tahun kita bersama Adsila, aku tidak bisa menahan nya lebih lama"
deg.
__ADS_1
Jantung Adsila berdetak kencang, dia sudah tahu arah pembicaraan Bobi.
"maksud kakak apa?" tanya Adsila berpura pura tidak tahu.
Bobi semakin memeluknya erat, dia tahu Adsila sudah mengetahui isi hatinya.
"Kamu hanya berusaha untuk menghindar Adsila. kau sudah tahu maksud ku bukan?" ujar Bobi. Dia menghirup dalam dalam aroma leher Adsila yang masuk ke dalam Indra penciuman nya.
Adsila melenguh ke gelian, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Bobi.
"jawab aku Adsila, apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ku ini" ujar Bobi lagi, dia terus mendesak Adsila untuk memberi kepastian kepada nya.
"Kak, kau itu kakak ku. Kenapa kau lakukan ini padaku?" erang Adsila masih merasa geli di bagian lehernya yang dikerjai oleh Bobi.
"Aku tidak pernah menganggap mu adik Adsila, kau tidak bisa menjadikan itu sebagai alasan!"
"ehhm..." jujur saja, Adsila yang sudah pernah merasakan di belai oleh laki laki merasa tidak nyaman di perlakukan seperti ini oleh Bobi.
Ibu satu anak itu bergerak gelisah di atas pangkuan Bobi. Pikiran nya mengatakan jangan, tapi tubuhnya meminta lebih.
"Kau menginginkan nya?" bisik Bobi sensual.
"Kak, jangan. Aku tidak bisa! jangan!!" teriak Adsila kuat! dia segera bangkit dan menjauh dari Bobi.
Dada Adsila turun naik, dia menatap Bobi dengan tatapan bersalah, karena sudah membentak pria itu.
"maaf kak" lirih Adsila dengan suara menyesal.
Sementara Bobi, dia hanya menatap Adsila nanar.
"kenapa Adsila? kenapa kau tidak bisa membuka hati mu untuk ku?"
Adsila menggeleng pelan, di dalam otak nya. ketika Bobi memperlakukan nya seperti tadi adalah Aditya. yah, dalam bayangan Adsila Aditya lah yang mencumbu nya.
"maaf kak...Maafkan aku"
Bobi tidak terima, dia segara bangkit, lalu merengkuh tubuh Adsila ke dalam pelukannya.
"K-kak.." ucap Adsila mulai ketakutan.
"Aku hanya ingin kau membuka hati mu untuk ku Adsila. aku sudah lama menunggu mu"
"Maafkan aku...Ma- Cup"
Bobi membungkam mulut Adsila dengan bibir nya. Dia menahan tubuh Adsila agar tetap diam dan membiarkan dirinya menikmati persatuan bibir mereka.
Adsila meronta, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa. dia hanya bisa membiarkan Bobi menikmati manis nya bibir tipis milik nya.
"Ahh.."lenguh Adsila ketika pria itu memainkan tangan nya pada tubuh milik Adsila.
"Ja-ngan kak.." lenguh Adsila masih berusaha melarang nya.
"Aku menginginkan mu Adsila, sangat"mohon Bobi, dia menatap Adsila dengan tatapan penuh bergairah. Nafsu telah menguasai setengah dari dirinya.
Bobi terus mencoba merayu Adsila dengan ciuman nya. Lalu tangan nya juga bergerak untuk membelai wanita yang pernah merasakan nikmatnya bersama seorang pria. Meskipun itu adalah sebuah tragedi yang tidak di inginkan
"Aditya."lenguh Adsila pelan. Bobi tidak mendengarnya, saking pelan nya suara lenguhan Adsila.
Wanita itu tersadar, akal sehatnya langsung menguasai dirinya.
"kak!" Adsila mendorong dada Bobi.
Awal nya Bobi berhenti, dia menatap Adsila. lalu dia kembali melanjutkan nya.
"Stop kak! Ini tidak bisa di lanjutkan!" bentak Adsila. lalu, dia berlari keluar dari ruangan kerja Bobi.
Huh...
Bobi menghembuskan nafas gusar! Gairahnya dengan terpaksa harus di pendam nya. Padahal adik kecil nya sudah bersorak ingin segera bercocok tanam.
"hampir saja" lenguh nya pelan menatap kepergian Adsila.
Ini bukan yang pertama kali terjadi. Bobi sudah sering melakukan rayuan terhadap Adsila. Namun, hanya kali ini Bobi berani nekat melakukannya.
Biasanya, pria itu hanya berani memeluk dan mengecup pipi wanita itu.
__ADS_1