
"Mama"
Ria menoleh, bibir nya mengembang saat melihat putranya pulang.
"Hallo sayang ku"
Bobi memeluk mama nya, mengecup penuh sayang pipi wanita terhebat di dalam hidupnya.
Setelah itu, pria itu beralih menatap wanita yang baru mengisi hidup nya.
"Hai bidadari ku"
Adsila memutar bola matanya jengah.
"Dasar pria genit" sahut Adsila. Membuat Bobi dan Ria terkekeh mendengar nya.
"ini susu untuk malaikat tampan ku" ucap Bobi memberikan kantong plastik yang berisi 3 kotak susu bayi.
"Terimakasih paman" ucap Adsila menirukan suara bayi.
"Adsila, setelah ini apa rencana mu?" ujar Ria menatap lekat pada wanita itu.
"Rencana apa ma, aku belum sempat memikirkan apapun" balas Adsila berpura pura fokus pada bayi nya.
Sebenarnya Adsila tau tujuan dari ucapan mama nya. Namun, seperti yang dia katakan, saat ini Adsila belum sempat memikirkan apapun selain tentang bayi nya.
"Apa kau tidak berniat mencari papa buat Adit?"
Deg.
ucapan Ria membuat pergerakan Adsila terhenti.
"Ma, Adit baru 3 bulan. sebaik nya jangan bahas itu dulu" sanggah Bobi, dia mengerti perasaan adik angkat nya.
Namun, Ria sangat ingin melihat Adsila bahagia, membesarkan anak bersama pria yang bertanggung jawab.
"Tapi nak, kasihan Adit. Dia pasti membutuhkan sosok seorang ayah"
"Maaf ma, aku ke kamar dulu. Adit seperti nya mau tidur" gumam Adsila segera membawa putra nya ke kamar.
Huhh...
Ria menghembuskan nafas gusar.
"Ma, sebaik nya mama tidak perlu membahas hal itu! Adsila itu masih sangat muda dan pasti dia masih trauma"
"Tapi Bobi, jika tidak sekarang kapan lagi? dia itu butuh sosok pria yang bisa menyemangati nya!"
"Tapi gak sekarang juga ma!"
"lalu kapan?" sentak Ria menatap lekat putranya.
"Ya- Tunggu Adsila siap" jawab Bobi tercekat.
"Mama ingin Adsila memiliki status yang jelas di rumah ini! Mama tahu kamu menyukai dia bukan?"
Deg.
__ADS_1
Mata Bobi melebar setelah mendengar ucapan mama nya. Bagaimana mama nya bisa mengetahui hal itu.
"Kamu tidak perlu terkejut, kamu adalah anak mama, tentu saja mama tahu, kalau kau menyukai Adsila"
"Stttt...." Bobi menyuruh mama nya Diam, matanya melirik ke atas, takut takut Adsila keluar dan mendengar ucapan mama nya.
"Jangan keras keras ma, aku tidak mau Adsila mendengarnya"
"Biar saja dia mendengar nya, biar dia tahu kalau ka-"
Bobi langsung menutup mulut mama nya, ketika melihat Adsila menuruni tangga dengan cepat.
"Apa yang harus aku tahu ma?" ujar Adsila berdiri di hadapan mereka. Wanita itu mendengar dengan jelas perkataan Ria barusan.
Ria menepis tangan Bobi dari mulut nya.
"Ma!" sanggah Bobi ketika Ria hendak membuka mulut.
"Dia marah Adsila, dia marah pada ku karena aku bersikeras menyuruh mu Menikah "
Bobi sempat menutup mata nya, takut mama nya mengatakan jika dia menyukai Adsila.
Namun, Ria tidak melakukan nya. Dia mengalihkan ucapan nya ke hal yang lain.
"Ma, kakak benar. Aku belum siap menikah" lirih Adsila sambil menghempaskan tubuh nya pada sofa samping Bobi.
"Kan aku benar, Adik ku belum mau menikah" sahut Bobi.
Pria itu meraih tubuh Adsila, dia memeluk wanita cantik itu.
"Kau memang pengertian kak" lirih Adsila membalas pelukan Bobi.
"Huh,aku lupa jika kalian berkomplot melawan ku" Rajuk Ria.
Setelah beberapa mereka saling terdiam, tiba-tiba Bobi teringat dengan kabar bagus yang dia bawa tadi.
"Oh iya, aku lupa memberitahu kalian"kata nya sembari melepaskan pelukan nya pada Adsila. Dia duduk dengan penuh semangat.
"Kabar apa?" tanya Adsila.
"Iya Bobi, kabar apa yang ingin kamu sampaikan?"
"Ma, Adsila. Aku berhasil tekan kontrak kerjasama dengan perusahaan besar. Dairon Group!"
"Wah hebat nak, kamu memang hebat." sahut Ria Bangga. Wanita baru baya itu Smaga tahu, Dairon Group adalah perusahaan terbesar di Asia, dia juga sangat berpengaruh di pasar bisnis Internasional. Sangat sulit mendapatkan kerja sama dengan perusahaan besar seperti itu.
"Yah, walaupun aku sedikit kecewa mengetahui siapa CEO nya."
"Siapa?" tanya Adsila. Dia sejak tadi hanya diam mendengar nama company yang di sebut oleh Bobi tadi. Adsila merasa tidak asing dengan nama itu.
Bobi menoleh kearah nya dengan senyum kecewa.
"Dia saingan ku di masa lalu Adsila, di masa SMP dan SMA. Kami selalu bersaing dalam segala hal kecuali soal percintaan "
"Dia musuh mu?" tebak Adsila.
Bobi menggeleng.
__ADS_1
"Kamu berteman, meskipun dia saingan Ku. Dan Yah, aku akui, aku memang tidak pernah menang dari nya. Dia selalu berada satu langkah di depan ku. Dan sekarang, dia juga berada di depan ku" gumam Bobi dengan nada lirih.
"Mungkin dia memang lebih unggul dari mu" sahut Ria meledek putranya.
"Hahaha...Bibit mama Seperti nya memang kurang bagus" balas Bobi meledek mama nya.
Kedua ibu dan anak itu langsung tertawa terbahak. Berbeda dengan Adsila yang masih terdiam.
"Dia adalah Aditya Dairon. Pria hebat yang mampu menguasai pasar bebas Asia. Dia sangat berpengaruh Adsila, kini aku mulai mengaguminya "
Deg.
Jantung Adsila terasa seperti berhenti berdetak, mendengar nama yang sudah lama tidak ia dengar.
Tawa Ria dan Bobi seketika terhenti, ketika melihat reaksi wajah Adsila yang tiba-tiba menegang.
"Kamu mengenal nya sayang?" tanya Ria.
"Huh? Umh tidak ma, mana mungkin aku mengenal nya" bantah Adsila gagap.
Fyuu...
Bobi bernafas lega, dia sempat mengira jika ayah dari anak Adsila adalah Aditya.
"Syukurlah, aku malah sempat terpikir jika dia ayah bayi mu" kekeh Bobi.
Namun, ucapan itu membuat Adsila semakin tergagap.
"Bagaimana mungkin Bob, Adsila saja tidak mengenal nya, ya kan Nak"
Adsila menggeleng, dia berpura-pura tidak mengenal siapa Aditya.
"Syukurlah, karena aku tidak mau bersaing lagi dengan nya" celetuk Bobi, lalu di ikuti oleh tawa nya agar terlihat seperti bercanda.
...----------------...
Di apartemen nya, Aditya menatap foto Adsila yang terpajang besar pada dinding kamar nya.
Dia masih memikirkan foto yang ada di layar ponsel teman lama nya. Persis seperti Adsila. Namun, Aditya belum melihat nya dengan jelas, karena Bobi keburu meraih ponselnya.
"Huh! jika kau benar bersama nya Adsila, akan ku pastikan untuk merebut mu kembali!"
Tuk! Tuk!
"Masuk!" seru nya.
Bian pun masuk.
"Apa sudah kau dapatkan informasi nya?" tanya Aditya tanpa menoleh.
"Maaf boss, aku tidak bisa menebus informasi pria itu. Dia tidak mempublish informasi pribadi nya ke media, bahkan di sistem perusahaan nya pun dia tidak meletakkan data pribadi nya.
"Sial!" umpat umpat Aditya marah.
"Ikuti dia, dan cari tahu dimana rumah nya! Pastika siapa saja yang tinggal di rumah nya itu!"
"baik boss!!"
__ADS_1
Aditya kembali menatap foto Adsila, matanya memanas karena menahan rasa rindu yang mendalam di hati nya.