
Di dalam kamar nya, mama Weira sedang membujuk putri nya untuk ikut bersama dengan nya.
"Ayolah sayang, sebentar saja. mama mau kamu kenalan dulu sama Bobi" mama Weira duduk di samping putrinya, menatap nya dengan wajah memohon.
Namun, Weira tetap menggeleng. Dia sangat mengingat bagaimana sikap Bobi terhadap dirinya. Dia sangat dingin dan tidak terlihat seperti pria normal.
"Nak, ayolah sayang. Setelah kamu kenal dengan nya. Kamu pasti akan tahu betapa menyenangkannya berteman dengan nya"
"Tidak ma, aku tidak mau. Aku sudah lelah berhadapan dengan pria pria yang mama kenalkan, aku tidak mau!" tolak Weira.
Mama Weira mendesah pelan, dia menatap putri nya yang kini beranjak menuju ke meja rias.
Weira baru saja pulang dari pertemuan penting bersama Adsila dan juga Aditya. Weira sekarang menjadi model produk yang akan perusahaan Aditya keluarkan.
"Ayolah Weira, sekali ini saja. Tante Ria, kamu tidak kasian padanya? dia berharap sekali kamu datang sayang "
mama Weira tidak menyerah, dia mendekati putrinya dan menatap pantulan wajah Weira.
"Hum... Baik lah , aku akan datang. Jam berapa acaranya?" tanya Weira mendesah pasrah. Dia tidak bisa menolak permintaan mama nya lagi. jika dia menolak, maka mama nya pasti akan berusaha untuk membujuk nya.
Jadi, Weira merasa tidak perlu membuang waktu, jika pada akhirnya dia menerima nya juga.
"Baiklah sayang, sebelum jam 7. Kamu harus sudah siap,kita akan pergi setengah jam 8"
"Baiklah, aku akan bersiap" jawab Weira.
mama Weira tersenyum senang, dia bahagia putri nya menerima ajakan nya.
"Baiklah sayang, mama akan menunggu mu di bawah"
mama Weira pun keluar dari kamar putrinya, senyum manis tak luput dari wajah nya.
"huff.. Baiklah Weira, hidup mu hanya untuk membuat mama mu bahagia, sudah cukup bermain main selama ini" gumam Weira pada pantulan dirinya di cermin.
...----------------...
Lagi dan lagi, terjadi perebutan antara dua wanita hamil.
Seperti saat ini, Adsila mencebik melihat bibi dan sahabat nya memperebutkan tempat duduk.
"Hana, ini tempat duduk ku!"
"tidak, ini tempat duduk ku!" balas Hana! dia tidak mau mengalah ketika Titi meminta kursi yang mereka klaim sebagai milik masing-masing.
Aditya memijat pelipisnya, dia tidak habis pikir. Dua wanita ini selalu saja bertengkar, bahkan hanya karena sebuah hal kecil.
Sebenarnya, apa yang mereka tanam di dalam rahim istri mereka. Sehingga membuat keduanya menjadi gila seperti ini.
"Ayo makan, makanan nya akan segera dingin" ujar Lena memperingatkan.
Lena duduk di kursi yang di perebutkan Titi dan Hana tadi.
"eh"
Adsila terkejut, Hana dan Titi seketika langsung berhenti berdebat. mereka mengambil kursi di samping suami masing-masing.
"Udah ada pawangnya?" pikir Adsila.
Fyuuu..
__ADS_1
Bian dan Rangga hanya bisa menghela nafas. Mereka berdua hanya bisa melihat istri istri mereka seperti itu.
Bukan tidak .au melerai, tapi dulu pernah Bian dan Rangga mencoba memisahkan keduanya.
Namun, hasilnya malah mengejutkan. Hana dan Titi secara kompak menjawab. Jika apa yang sedang mereka lakukan itu, adalah permintaan cabang bayi nya.
"oh astaga, bersyukur kepada Tuhan yang maha esa. sekarang sudah ada pawangnya" bisik Bian.
"iya" sahut Rangga mengangguk pelan.
Makan malam kalo itu, terasa adem, damai. Tampa ada yang ribut. Adit sempat merasa lega dan mengucapkan rasa syukur di telinga mama nya.
Aditya yang sejak tadi memperhatikan apa yang sedang terjadi, menjadi bingung. Dia penasaran, mengapa Hana dan Titi mendadak penurut dan patuh sepert itu oleh Lena.
"Sttt..." desis Aditya memberi kode pada istri nya.
Adsila pun menoleh, dia menaikkan alis nya, bertanya dengan raut wajah.
Aditya pun memberi kode agar Adsila mendekat padanya.
"Ada apa?" bisik Adsila.
"Hana dan Bibi kenapa patuh banget sama Lena? ada Lena mereka akur"
Adsila melirik bibi dan juga sahabat nya setelah mendengar pertanyaan suaminya.
"Aku juga bingung, entah apa yang terjadi. yang jelas kau gak tahu" jawab Adsila, membuat Aditya mencebik.
Selesai makan, mereka semua pergi ke ruangan keluarga. Seperti yang sudah di biasakan, mereka akan berkumpul dan saling mengobrol di sana. Sehingga hubungan keluarga akan semakin erat.
Di dalam ruangan keluarga, terdapat 1 bantal lucu, dan itu adalah milik Adsila.
"Ini aku duluan tahu" ucap Hana.
Titi marah, dia merebut kembali bantal itu dari tangan Hana.
"enak aja, ini aku duluan Hana!"
"Engga bi, ini aku duluan!"
"Aku Hana!"
"Aku Titi!"
"Aku!"
"Aku!!"
Adsila menutup telinga putranya, pertengkaran ini sangat tidak bagus untuk Adit.
"Mulai lagi" lenguh Aditya. Dia melirik kedua anak buah nya yang langsung memalingkan wajah, ketika mengetahui boss nya tengah menatap dirinya.
"Ini aku duluan!!"
"Akuu!!!"
Jleb.
Lena mengambil bantal itu dari tangan merek. dia memeluk nya, lalu duduk di sofa single.
__ADS_1
Seperti tadi, mereka berdua langsung diam dan tidak berdebat lagi.
"Huh... benar benar pawang" gumam Bian lega.
Adsila cukup terkesan melihat aksi adik nya,dia bis menjinakkan dua singa bunting.
...----------------...
Weira berjalan di belakang mama nya, masuk ke dalam rumah besar milik keluarga Malay.
"Haloo...Jeng Mien, apa kabar" sapa Ria menyambut kedatangan Weira dan juga mama nya.
"Baik jeng, apa kabar juga?"
"Ayo masuk jeng, yuk nak"
Ria menggandeng Mien, lalu memegang tangan Weira juga.
Mereka langsung ke taman belakang yang sudah di rias secantik mungkin.
"Waw... Istimewa banget yah" decak Mien kagum.
"Harus dong jeng, kan makan bareng kamu"
"Makasih Lo ini" balas Mien.
"Ayo duduk duduk..." ucap Ria mempersilahkan mereka duduk.
Weira tersenyum tipis, dia duduk di samping mama nya. Mata Weira menjelajah kemana mana, seolah mencari seseorang.
Hal itu, tertangkap basah oleh Ria.
"Kamu cari Bobi yah? hmm..Dia sebentar lagi turun kok. Tadi agak terlambat pulang kantor" ucap Ria.
"Bukan...Aku-" ucapan Weira terhenti, dia menatap pria yang baru saja keluar dari rumah dan berjalan mendekat kearah nya.
"Nunggu aku?" gumam Bobi .
Weira terpanah, tubuh nya mendadak beku dengan tatapan tertuju pada Bobi.
"Nak..."
"Eh iya, ada apa?" sentak Weira terkejut dan langsung menoleh pada mama nya.
"nak Bobi nya udah ada tu" ucap Mien menahan senyum.
"Huh? " Weira kembali menatap Bobi, dan lagi lagi dia kehilangan kendali otak nya. Dia merasa mata nya tidak mau lepas dari pemandangan indah ini.
Bobi terlihat tampan dengan penampilan casualnya. berbeda dengan penampilan yang Weira lihat ketik mereka bertemu di depan kantor Aditya.
Gila, dia cool banget. lebih bagus dari Aditya. mengapa Adsila menolak dia, astaga.... gue mah gak bakal nolak!
Pertemuan malam itu, adalah penemuan Weira dan Bobi secara formal dan bersikap biasa saja.
merek berdua berusaha untuk akrab, saling terbuka dan mau berkompromi.
Semenjak saat itu, Weira dan Bobi menjadi semakin dekat dan memutuskan untuk menikah. Atas desakan kedua mama mereka.
humm....Kita kira kalian setuju gak?
__ADS_1