Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Pertukaran Tugas Bian dan Rangga


__ADS_3

Di ruangan kerja nya, Aditya berpangku dagu mengingat kejadian beberapa hari lalu.


Di rumah sakit, nama wanita itu sama dengan nama Adsila. Namun, ketika melihatnya, Aditya merasa di tampar oleh kenyataan.


Hati nya merasa sangat yakin, jika Adsila berada di sekitar nya. Sedangkan kenyataan yang Aditya temui, bertolak belakang dengan keyakinan itu.


"Mengapa dulu tidak aku nikahi saja dia!"


Aditya mulai menyesali keterlambatan nya, dalam mengerti perasaan nya. Dia hanya berpikir perasaan yang muncul di hatinya hanya perasaan pertemanan dan perasaan kasihan pada Adsila. Bukan perasaan cinta.


Namun, sekarang dia sudah merasakan cinta sesungguhnya. Setelah dia pergi, setelah wanita itu tidak ada di sisi nya.


Barulah Aditya merasakan betapa cinta nya dia pada Adsila. Perasaan yang jauh lebih besar di bandingkan perasaan nya pada Weira.


Weira? Bahkan Aditya sudah melupakan gadis itu. Gadis yang mematahkan hati nya berulang kali.


Tuk!! tuk!!


Aditya tersentak, dia melirik pintu ruangan nya yang di ketuk dua kali dari luar.


"Boss, ini aku" ucap seseorang.


"Masuk!" seru Aditya.


Setelah mendengar suara Aditya, barulah pintu ruangan kerja Aditya terbuka, kemudian tertutup kembali.


Bian berjalan menghampiri boss nya, dia membawa map berwarna biru.


"Ada apa?"


Bian memberikan map biru yang dia bawa pada Aditya. Itu adalah hasil meeting kemarin.


"Ini dokumen hasil meeting kemarin boss"


"Kenapa kamu yang mengerjakan nya? Kau itu aku perintahkan untuk kaki tangan ku di luar kantor. Sedangkan Rangga untuk kaki tangan ku urusan dalam kantor"


Bian menggaruk tengkuk nya, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Mana Rangga?" tanya Aditya tegas, mata nya menatap tajam Bian.


Hufffff hha....


Bian menarik nafas dalam, kemudi menghembuskan nya pelan.


"Sejujur nya boss, Rangga sedang mengurus restauran mu boss. "


"Restauran??" ulang Aditya. Bian mengangguk.


"Apa yang dia lakukan di sana? Restauran ku sudah di urus oleh Gladis, dia bisa menghandle semua nya di sana"


"Uhm... Sebenarnya, "


"Kasir itu?" tebak Aditya.


Fyuu.


Lagi lagi Bian menghembuskan nafas lega. Dia tidak perlu memikirkan alasan apa untuk membela Rangga, boss sudah mengetahui nya sendiri.

__ADS_1


"Gara gara wanita itu? Dia meninggalkan pekerjaan nya?"


Dengan cepat Bian menggeleng, Rangga bukan lah pria yang seperti itu.


"Tidak boss, sebenarnya kami memiliki sebuah kecurigaan boss. Karena belum pasti, makanya kami belum mengatakan nya pada mu"


"Kecurigaan apa?"


Akhirnya Bian menjelaskan pada Aditya, apa sebenarnya yang dia curigai selama ini.


Sebenarnya Bian merasa aneh dengan yang Aditya alami, mereka juga melihat keanehan pada suster ketika Adsila keluar dari rumah sakit.


Karena itulah, Bian dan Rangga bertukar peran. Bian menghandle masalah di bagian daerah restauran Dairon.


Sedangkan Bian, menghandle urusan di kantor dan beberapa yang bersangkutan dengan Aditya.


"Jadi, Hana adalah adik dari suster itu?"


"Yah boss, tapi, Rangga malah benar benar tertarik pada adik nya"


"Huh, pria kecil itu akhirnya merasakan yang namanya dewasa" kekeh Aditya pelan. Bian pun ikut terkekeh.


"Lalu, bagaimana dengan mu?" Aditya melirik kearah Bian.


"Kenapa dengan ku?"


"Kapan kau akan dewasa" ujar Aditya, membuat Bian menghela nafas.


"Kau selalu saja menghela nafas, seperti hidup mu sangat berat!"


"Yah hidup ku memang sangat berat boss, banyak buah yang menjadi pemikiran ku!" Bian menghempaskan bokong nya di atas kursi depan meja Aditya.


"Boss, bagaimana jika Adsila tidak bisa kita temukan. Apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku akan menghadap pada keluarga nya" ucap Bian lirih.


"Aku yakin Bian, Adsila masih ada di sekitar kita. Hanya saja Tuhan belum mengijinkan kita untuk bertemu dengan nya. " ucap Aditya, matanya menatap lurus ke depan.


Apa yang Aditya ucapkan sesuai dengan apa yang dia rasakan.


Di saat mereka saling berbincang persoalan Adsila, Bian tiba-tiba teringat dengan pesan sekretaris Aditya.


"Boss, ada perusahaan yang harus kita temui. Mereka ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan kita." ucap Bian.


Alis Aditya terangkat sebelah, perusahaan mana yang ingin bekerjasama dengan perusahaan nya. Jika tidak menguntungkan baginya perusahaan nya, maka Aditya tidak akan menerima nya.


Perusahaan besar dan berkuasa di dunia bisnis seperti perusahaan Aditya ini, tentu banyak perusahaan lain yang ingin bekerja sama dengan nya.


"Sebesar apa keuntungan yang kita dapat?"


"Tidak terlalu besar boss, tapi perusahan ini hampir sama besar dengan perusahaan kita"


"Benarkah? atur pertemuan ku dengan CEO nya. Katakan pada mereka, kita akan melakukan pembicaraan kerja sama di sana!" ucap Aditya. Dia penasaran dengan perusahaan yang hampir menyaingi perusahaan nya.


"Baik boss" jawab Bian.


_______________________


"Waw. Pagi pagi begini sudah rapi banget. Mau kemana kak?"

__ADS_1


Adsila duduk di ayunan depan teras rumah besar milik Bobi. Dia sengaja membawa putra nya menikmati sinar pagi matahari.


"Eh bidadari surga. Kau sedang apa di sana?"


"Aku sedang nungging!" Balas Adsila kesal. Sudah jelas dia sedang duduk menikmati panas pagi matahari di depan rumah. Pria itu malah bertanya sedang apa dia di sana.


Bobi menghampiri Adsila, dia ikut duduk di samping Adsila, lalu mengecup pipi bayi mungil yang hanya menatap ke depan saja. Sesekali bayi itu menggeliat setelah Bobi cium.


"Baru selesai melahirkan saja, kau sudah mau nungging saja. apa kau sudah ingin memberikan adik untuk Adit?" gurau Bobi.


Adsila memukul pelan lengan Bobi, pria itu sungguh menyebalkan di matanya.


"Kau tidak lihat aku sedang duduk bersama Adit? Kenapa kau malah bertanya lagi"


Bobi terkekeh pelan, dia sangat menyukai ketika Adsila kesal padanya.


"Hallo bayi kecil, apa kau sudah minum susu? Atau mau aku ajarin" ucap Bobi kembali nyeleneh.


"Kak!!!... Kau ini yah! Sangat sangat menyebalkan!"


"Hahaha....Dan kau sangat menggemaskan " sahut Bobi di sela sela tawanya.


"Yasudah, aku mau berangkat ke kantor dulu "


"Secepat ini? Biasanya kau berangkat jam 10 atau jam 1 siang. Kenapa sekarang kau berangkat sangat awal?"tanya Adsila heran.


Bukan nya menjawab, Bobi malah menatap Adsila dengan tatapan menggoda.


"Apa kau ingin aku selalu ada di sisi mu? Apa kau ingin selalu menempel dengan ku baby Adsila?"


Adsila memutar matanya bosan, Bobi tidak pernah bisa serius.


"Hahahha....Sayang nya kau sudah membatasi hubungan kita. Jika tidak. Kau sudah ku suruh nungging setelah masa 40 hari mu" ucap Bobi. Membuat Adsila semakin kesal.


"Pergi saja kau sana ke kantor, semakin lama kau berada di dekat ku. Semakin naik darah ku!!" Usir Adsila sambil mendorong Bobi menjauh dari nya.


Bobi kembali tertawa, dia menyempatkan mengecup pipi Adit sebelum benar pergi dari sana.


Kedekatan Adsila dan Bobi, tertangkap oleh penglihatan Ria.


"Kau benar benar menyukai nya nak?" Lirih nya setelah melihat bagaimana cara putra nya menatap Adsila.


Ria menghela nafas, sangat sulit bagi nya untuk menyatukan putra nya yang mencintai wanita polos dan lugu seperti Adsila.


Apalagi, Adsila seperti nya menyimpan rasa pada ayah dari anak nya.


Bobi adalah pria yang sulit jatuh cinta, sekali jatuh cinta. Dia malah jatuh cinta pada wanita yang mencintai orang lain.


Alasan mengapa Bobi masih belum menikah adalah, karena dia belum menemukan wanita yang sesuai kriteria nya.


Manis, lugu, jutek. Yang paling penting adalah, wanita itu mampu membuat jantung nya berdetak kencang.


Seperti ketika Bobi bertemu dengan Adsila. ketika dia menggendong Adsila, dan ketika Adsila pendarahan karena ingin melahirkan.


Semua kejadian itu membuat Bobi merasakan jantungnya akan copot. Rasa takut dan khawatir bercampur menjadi satu, ketika sesuatu terjadi pada Adsila.


Tidak membutuhkan waktu lama, Bobi sudah mengetahui kalau itu adalah perasaan cinta.

__ADS_1


Namun, sebelum dia mengutarakan perasaannya, memperlihatkan perhatian yang melebihi rasa kasihan. Adsila lebih dulu membatasi hubungan mereka dengan menganggap Bobi sebagai kakak nya.


__ADS_2