Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Lagi Dan Lagi Ada pekerjaan


__ADS_3

~🍒Hallo reders semuanya, selamat membaca yah. Terimakasih sudah mampir. Semoga ceritaku bisa menghibur kalian semua.


Jangan lupa tinggalkan jejak yah.



Like


Comment


Kasih bintang lima😘



...~happy reading~...


Setelah selesai mengerjakan pekerjaan nya. Adsila kembali ke kamar untuk membersihkan tubuh, dan ingin beristirahat.


Namun, seakan tidak senang. Salah satu art yang melihat Adsila hendak masuk ke kamar kembali memanggilnya.


"Heh anak baru!"


Adsila berhenti, ia berbalik dan menghampiri art yang bernama Dewi.


"Ada apa kak Dewi?"


"Mau ke mana kamu?" tanya Dewi sinis.


"Saya mau membersihkan diri kak. Soal nya, semua pekerjaan saya sudah selesai." jawab Sila dengan senyum ramah.


"Enak banget kamu yah, jam segini sudah mau bersih bersih."


Adsila hanya bisa menunduk, ia tidak menjawab ucapan Dewi.


"Nah bersihkan dapur. Nanti koki akan masak, dapur masih berantakan!" Dewi memberikan kain lap ke tangan Adsila.


"Tapi kak, pekerjaan saya kan sudah selesai"


"Udah deh, gak usah membantah. Masih baru, tapi sudah melawan saja!" Dewi melenggang masuk ke dalam kamar, dengan sengaja ia menabrak bahu Adsila.


"Awhs..." ringis Adsila terhuyung menabrak daun pintu.


Hufff....


Dengan sabar Adsila pergi ke dapur.


"Mereka memasak, atau berperang sih?" gumam nya heran melihat dapur yang sangat berantakan. Semua wajan, kompor dan peralatan lain nya tergeletak di sembarang tempat.


Dengan telaten Adsila membersihkan meja dan mencuci bersih piring piring yang ada di wastafel.


Pukul delapan malam, Adsila baru selesai membersihkan dapur.


"Akhirnya selesai juga" ucapnya tersenyum lega.


Dengan wajah senang Adsila bersiap pergi ke kamar, tapi lagi lagi art yang lain datang menghampiri nya.


"Heh anak baru!"


"Iya kak?" Adsila menatap takut pada Pita. Wanita ini adalah yang paling kejam di bandingkan 2 art lain nya. Mulut Pita lebih tajam, dia juga merupakan kepercayaan nyonya besar.


"Mau kemana kamu?"


"Saya mau ke kamar kak, mau istirahat" jawab Adsila.


"Mau istirahat? pekerjaan kamu sudah selesai semua?"

__ADS_1


"Sudah kak, saya sudah menyelesaikan semuanya" jawab Adsila jujur. Karena memang sebenarnya pekerjaan nya sudah selesai sejak sore tadi. Tapi, entah mengapa semua art menghampiri nya, lalu memberinya pekerjaan lain.


" Di ruang tamu masih berantakan, apa kau tidak melihat nya?" ucap Pita marah.


"Tadi saya sudah membereskan nya kak, kenapa bisa berantakan lagi"


"Kau pikir ini rumah kosong, setelah di bersihkan tidak kotor lagi. Ini rumah berpenghuni, tentu saja akan banyak orang yang membuatnya kotor."


"Tapi kak.."


"Bagaimana sih kamu, masih baru tapi sudah malas malasan begini!"


Adsila tidak menjawab, ia hanya diam mendengarkan ocehan Pita. Menjawab pun juga tidak ada gunanya. Pikir Adsila.


"Rumah kosong saja, akan berdebu walaupun tidak ada yang mengotori nya!" kata Pita lagi.


"Iya kak"


"Iya iya, sudah sana. Bersihkan semuanya sebelum tuan pulang!" sentak Pita mendorong Adsila pergi.


"Baik kak!" Adsila bergegas pergi ke gudang mengambil peralatan kerjanya.


"Hem...Rasain kamu. Emang enak kerja terus. Siapa suruh cari muka di depan tuan Aditya." dengus Pita tersenyum licik menatap kepergian Adsila.


Setelah mengambil peralatan nya, Adsila bergegas menuju ke ruang tamu.


Benar, ruangan ini tampak seperti kapal pecah.


"Astaga, bagaimana ini bisa terjadi? orang hutan kah tamu dari orang kaya ini??" pikir Adsila heran.


Bagaimana tidak? ruangan yang tadinya rapi dan bersih. Kini berubah menjadi sangat kotor dan berantakan. Lantai penuh dengan tumpahan coklat, susu, dan Snack lainnya. Sedangkan bantal sofa bertaburan di mana mana.


Hari semakin malam, art lain sudah bersiap beristirahat. Sedangkan Adsila masih sibuk membersihkan ruang tamu.


Ceklek.


Lampu ruang tamu masih menyala, membuat Aditya jadi penasaran.


"Siapa yang masih bertamu jam segini?" pikirnya.


Karena merasa penasaran, akhirnya Aditya melangkahkan kaki nya menuju ke ruang ramu.


Aditya melihat wanita yang beberapa hari lalu, menjadi pelampiasan kemarahan nya pada mantan tunangan nya.


Gadis itu tengah mengelap meja ruang tamu.


"Apa yang kamu lakukan?"


Deg.


Aditya dapat melihat tubuh gadis itu menegang setelah mendengar suaranya.


Perlahan Adsila berdiri, lalu berbalik menghadap Aditya. Namun, ia tidak berani menatap wajah Aditya.


"Tuan.."lirih Adsila takut takut. Jujur saja, jantung nya saat ini berdetak sangat cepat. Ia takut, kejadian semalam terulang lagi.


"Jam 10 malam, kenapa kamu masih bekerja?"


"Saya..."


"Di mana teman teman mu??" tanya Aditya lagi, namun pertanyaannya tak sepenuhnya di jawab oleh Adsila.


"Ma-af tuan.."


Aditya tahu Adsila masih takut padanya, ia mengakhiri percakapan mereka, lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


"Lakukan pekerjaan mu esok hari. Sekarang beristirahat lah!"


"Baik tuan" jawab Adsila patuh.


Setelah memastikan Aditya telah pergi, barulah Adsila mengumpulkan semua peralatan nya, dan pergi dari sana secepat mungkin.


Fyuu....


Adsila bernafas lega, ia berhasil kabur dari Aditya.


Ketika masuk ke dalam kamar, Adsila mendapati semua orang telah tertidur.


Terasa tidak adil, namun gadis itu tidak mempermasalahkan nya. Ia tetap melakukan pekerjanya dengan baik.


Setelah membersihkan diri, Adsila merebahkan tubuhnya di atas ranjang kecil, ranjang itu hanya muat untuk dirinya saja.


"Ibu...Bapak...Doakan Adsila yah, semoga Adsila bisa kuat dan sehat." Hanya itu lah yang membuat Adsila menjadi semangat.


Tidak menunggu waktu yang lama, Adsila masuk ke dalam dunia mimpi nya. Seharian bekerja, membuat tubuh nya terasa sangat lelah.


...----------------...


Di kamar nya, Aditya duduk di kursi goyang tepi pagar tembok balkon.


Sungguh bukan manusia jika Aditya tidak merasa bersalah pada Adsila.


Sebenarnya ia tahu jika mental gadis itu sedang terganggu oleh perbuatannya malam itu.


Andai saja bukan dia yang masuk ke kamar nya, maka semua ini tidak akan terjadi.


Namun, Aditya juga tidak bisa menyalahkan wanita itu. Karena seperti cerita Rangga, Wanita itu hanya membantu membawa nya ke kamar.


"Ahhh....Kenapa aku merasa bersalah seperti ini?? "


Ceklek.


Suara pintu terbuka, lalu tertutup kembali mengalihkan perhatian Aditya.


"Selamat malam tuan, anda memanggil saya?" ucap Bian menghadap ke Aditya.


"Hem...Bian, berikan saya semua informasi tentan gadis itu"


"Maksud anda tuan?" Bian pura pura tidak mengerti, ia tidak mau tuan nya berpikir dirinya mengetahui soal kejadian malam itu.


"Art baru itu, aku mau tahu tentang dirinya Bian!"


"Adsila?"


"Oh, namanya Adsila?" gumam Aditya.


"Dia adalah keponakan dari sahabat saya tuan, mereka tinggal di kota ini juga. Karena ingin membiayai adik nya sekolah, Adsila meminta pekerjaan pada saya"


"Memang nya apa yang terjadi tuan?" tanya Bian penasaran.


"Aku tahu siapa kamu Bian, aku tahu kau pasti sudah mengetahuinya" cibir Aditya.


"Heh, maaf tuan. Saya hanya ingin menjaga rahasia anda saja" lirih Bian tercengir.


"Kau dan Rangga sama saja"


"Kami bersahabat tuan" jawab Bian.


"Sudah lah, aku ingin istirahat. Keluar lah!" usir Aditya.


"Baik tuan, selamat beristirahat "

__ADS_1


Bian keluar dari kamar Aditya, ia merasa lega jika tuan nya tidak memerintahkan nya untuk mengusir Adsila.


__ADS_2