Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Keputusan Yang Tepat


__ADS_3

Adsila menuruni anak tangga, satu tangan nya menenteng koper, dan satunya lagi memegang tangan Adit.


Ria dan Bobi yang sedang duduk di ruang tengah, terkejut melihat nya.


"Sayang? Kamu mau kemana?" Ria langsung menghampiri Adsila.


"Hmm..Ma, maaf. Aku pikir, aku harus keluar dari rumah ini. Keluarga ku juga sudah menerima ku, dan .."


"Dan apa Adsila, kamu tidak perlu beralasan lagi. Aku tahu, kamu ingin keluar dari rumah ini karena kamu ingin bersama pria itu kan?" Bobi bangkit, dia berdiri di depan Adsila.


"Tidak kak, aku akan tinggal bersama bini Titi" jawab Adsila membantah ucapan Bobi.


"Nak, kenapa harus mendadak seperti ini? " Ria mengusap tangan Adsila, menuntun nya duduk di sofa. Namun Adsila menahan diri. Dia menggeleng pelan.


Sudah cukup lama dia menyusahkan orang baik seperti mereka. Adsila pikir dia tidak bisa terus begini.


"Ma, aku tetap anak mama. Tapi aku tidak bisa terus menerus di sini. Aku akan berjuang demi masa depan ku dan Adit"


"Tidak Adsila! Masa depan mu ada di sini, bersama ku!"tegas Bobi. Dia menarik koper Adsila, lalu melemparnya jauh.


Adit yang melihat perdebatan ini, menjadi takut. Dia bersembunyi di balik kaki mama nya.


"Bobi, jaga sikap kamu. Adit jadi takut!" Tegur Ria.


Adsila memegang kepala putranya, dia memberikan ketenangan agar putranya tidak perlu khawatir.


"Ma, kak. Aku tetap harus keluar, aku akan tinggal bersama bibi ku" ucap Adsila. Dia berbalik memungut kopernya.


Saat Adsila akan mencapai pintu, tiba-tiba Bobi menarik tangan nya dan langsung memeluk nya.


"Aku mohon, jangan pergi. Walaupun saat ini kau belum mencintai ku, aku akan menunggu mu! Tapi tolong, jangan pergi"mohon Bobi.


Adsila terdiam, membiarkan Bobi memeluknya untuk terakhir kali. Yah, Adsila tidak bisa terus menerus membuat kesalahpahaman ini berlanjut. Dia harus tegas, dia harus memantapkan hatinya agar orang orang di sekitar nya tidak terluka.


Setelah cukup lama di peluk Bobi, Adsila mulai melepaskan nya. Dia menatap wajah Bobi dengan tatapan seorang adik pada kakak nya.


"Kak, sampai kapan pun. Kak Bobi adalah kakak ku. Aku tidak bisa lebih dari itu.Sejak awal sudah begitu, hingga saat ini"


Bobi menggeleng, dia tidak bisa menerima hal itu.


"Tolong Adsila, jangan mengatakan hal itu lagi. Kamu harus merubah nya , aku mohon"


Ria menutup mulutnya, menahan tangis saat melihat putranya yang terlihat rapuh.


Adsila menggeleng, dia meminta maaf untuk hal itu. Dia benar benar tidak bisa merubahnya.


"Kak Bobi adalah kakak terbaik ku"


Setelah mengucapkan hal itu, Adsila tersenyum dalam tangis nya. Dia harus pergi dan kembali pada keluarga nya.

__ADS_1


"Aku pamit ma, Kak" lirih nya.


Adsila berbalik, lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah yang selama 3 tahun ini menjadi tempat berteduh nya.


Bobi ambruk, dia berlutut di lantai. Menatap nanar kepergian Adsila dan Adit.


"Bobi..."gumam Ria menangis, dia mendekati putra nya. Memeluknya erat dari belakang.


Sedangkan Bobi, menangis dalam diam.


"Ma, dia menolak ku" lirih Bobi dalam tangis.


Setibanya di luar, pak Somat mengejar Adsila. Dia terkejut melihat wanita yang dia anggap seperti putrinya sendiri tengah berjalan sambil menyeret koper.


"Loh, neng Adsila dan Adit mau kemana? Kok bawa koper segala?"


Adsila menoleh, dia tersenyum sedih.


"Pak, Adsila pamit yah. Adsila harus kembali ke keluarga Adsila"pamit Adsila, dia meraih tangan pak Somat, lalu mencium punggung tangan nya.


"Huh, kok mendadak neng?"


"Gak papa pak" jawab Adsila tersenyum tegar.


Pak Somat hanya bisa mengangguk pelan, dia tidak bisa melarang atau memaksa Adsila tetap di rumah ini.


"Yasudah neng, hati hati yah. Apa perlu bapak antar?"tawar pak Somat.


"Yasudah pak, saya sama Adit pamit dulu yah"


"Oh iya neng, hati hati yah"


* * *


Adsila dan Adit tiba di halte bus, mereka duduk sambil menunggu bus datang.


Adit menatap mama nya, di dalam otak nya tersimpan pertanyaan yang tidak dia mengerti.


Adsila menyadari tatapan putranya. Dia tersenyum, mengusap pipi Adit penuh kasih sayang.


"Adit pasti bingung kan? "tanya Adsila.


Adit pun mengangguk, menjawab pertanyaan mama nya.


"Suatu hari, Adit pasti akan mengerti. Mama akan jelaskan pada Adit, setelah Adit dewasa nanti"


"Iya ma" jawab Adit patuh. Dia memeluk mama nya erat.


"Adit sayang mama"ungkap Adit lagi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, bus rute pasar dekat rumah bibi nya pun tiba. Adsila bergegas naik ke dalam bus, dia menggendong Adit dan mengangkat kopernya.


"Perjalanan kita hanya sebentar, jika Adit capek. Tidur yah" bisik mama muda itu pada putranya. Dia tahu, saat ini adalah waktu bagi putranya tidur.


* * *


Di rumah kontrakan nya, Titi dan Lena bergerak tidak sabaran. Mereka mondar mandir berlawanan arah menunggu kedatangan Adsila dan Adit.


"Mereka jadi gak sih bi, pulang?" Tanya Lena.


"Jadi lah, kamu pikir kakak kamu tukang boong?"


"Yah gak sih, tapi siapa tahu si Bobi dan Tante Ria itu tidak mengijinkan" balas Lena lagi.


Titi terdiam, dia juga merasa resah saat ini. Namun, dia tidak bisa berbuat apa apa selain menunggu kedatangan Adsila.


"Udah deh, kamu sabar aja. Nanti kakak kamu pasti datang kok"dengus Titi. Dia beranjak masuk ke dalam kamar nya, dia ingin menghubungi Bian.


"Huh, apa dia tahu Adsila sedang ke rumah ini"gumam nya sambil mencari nama Bian di daftar kontak nya.


Drrrt....Drrrt....


Dua kali dering, panggilan langsung terhubung.


"Halo Bian, kamu dimana?"


"Huh? Apa??" Teriak Bian di seberang sana. Dia tidak bis mendengar suara Titi.


"Kau sudah gila? Suara keras ku sudah tidak bisa kau dengar??"teriak Titi mulai emosi.


"Sebentar aku cari tempat sepi duku!!", Ucap Bian dengan suara keras nya.


"Di mana dia!!" Gerutu Titi menunggu Bian mendapatkan tempat yang bisa dia mendengar suaranya.


Setelah mendapatkan tempat, Bian kembali bersuara.


"Hallo Titi, ada apa?" tanya Bian.


"Apa kau sudah bisa mendengar suara ku?"tanya Titi memastikan.


"Yah!" Balas Bian.


"Kau tahu Adsila akan pindah ke rumah ku??? Sejak tadi dia tidak tiba. Sekarang sudah pukul 8 malam. Dia mengatakan akan berangkat pukul 7."


"Huh? Apa kau serius?"


"Iya Bian, aku tidak akan berbohong. Lagi pula aku bukan diri!" Ucap Titi menyindir Bian.


"huh, baik lah aku akan mencoba mengeceknya. Kau tenang lah, tidak usah panik!"ucap Bian. Kemudian, mereka mengakhiri panggilan nya.

__ADS_1


"Huh, dasar tidak sopan!"dengus Titi mengomeli Bian.


__ADS_2