
...🌹 Terimakasih kepada semua pembaca yang sudah menyempatkan diri untuk membaca karya aku....
...Jangan lupa, untuk meninggalkan jejak nya. Like, komen, jadi lah pembaca yang terlihat, jangan menjadi pembaca gelap ku tanpa jejak 😅🌹...
Satu Minggu berada di rumah sakit, akhirnya Adsila sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. umur bayi nya juga sudah satu Minggu.
Bobi masuk ke dalam ruangan rawat Adsila, dia terlihat senang menatap wanita yang diam diam telah mencuri hati nya.
Adsila sedang membereskan barang barang nya, dia juga sudah berganti pakaian, yang semula dia memakai baju pasien, kini sudah memakai pakaian yang Ria siapkan kemarin.
"Hai Adsila ku sayang, apa kau sudah siap pulang?" Tanya Bobi duduk di samping Adsila.
"Seperti yang kau lihat kak" jawab Adsila, dia masih sibuk dengan kesibukan nya.
Bobi tersenyum, dia melirik bayi kecil Adsila.
"Dia terlihat tampan. Pasti dia akan lebih tampan lagi jika dia adalah putra ku" celetuk Bobi, membuat Adsila yang mendengarnya langsung melotot kesal pada nya
"Bersyukur jika dia bukan anak mu kak, aku takut anak ku akan menjadi genit seperti mu!" Balas Adsila dengan nada suara kesal.
Mendengar jawaban dari adik angkat nya itu, membuat Bobi menjadi gemas.
"Yang terpenti dia tampan"
"Huhh.." Adsila mendengus, dia memilih tidak membalas ucapan kakak nya lagi, dia yakin tak akan menang melawan pria itu.
Setelah selesai bersiap, Bobi meminta Adsila untuk menunggu nya sebentar di ruang rawat terlebih dulu.
"Adsila, jangan terlalu banyak bergerak. Kau baru saja selesai melahirkan. Tolong jaga diri mu" kata Bobi memperingatkan.
"Iya kak, kau terlalu bawel"
"Aku hanya ingin kau baik baik saja Adsila. Aku akan ke bagian administrasi dulu. Kau tunggu lah di sini sampai aku kembali" Bobi mengecup pipi Adsila, lalu berlari keluar dari ruangan itu.
"Dasar Bobi genit!!" Adsila tersenyum, hati nya menghangat, bukan berarti dia memiliki perasaan pada Bobi. Tapi, dia merasa bersyukur memiliki keluarga seperti mereka. Bobi dan Ria
"Jika bibi dan Lena ada di sini, pasti mereka akan senang melihat bayi ku" Adsila tersenyum, matanya tak bisa lepas dari wajah tampan bayinya.
Di ruang administrasi, Bobi tengah berbincang dengan suster yang bertugas tentang data data diri pasien.
"Tuan, silahkan tanda tangani surat ini, di bawah keterangan ini tulis tanggal dan nama anda yah"
Bobi mengangguk mengerti, lalu dia memberikan tanda tangan pada surat keterangan pulang Adsila.
"Baik sus, sudah selesai semua"
"Baik pak, terimakasih. Pasien sudah bisa keluar " ucap suster itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Bobi pun membalas nya dengan senyum nya, lalu dia berbalik untuk kembali ke ruangan Adsila.
Brak..
"Ups..Sorry sorry" Bobi menatap pria yang tidak sengaja dia tabrak.
"Tidak masalah, saya juga salah" balas pria yang Bobi tabrak.
Bobi tersenyum, lalu dia kembali melanjutkan langkah nya. Tanpa Bobi sadari, dia telah menjatuhkan salinan surat keterangan kepulangan Adsila.
Pria itu hendak melanjutkan langkah nya, namun dia melihat lembaran kertas dari pria yang ia tabrak tadi.
"Dia meninggalkan ini" gumam Aditya sambil mengambil kertas itu.
Yah, pria itu adalah Aditya. Ayah dari bayi Adsila. Namun, Aditya tidak tahu jika saat ini, wanita yang selama ini dia cari ada di rumah sakit ini.
"Eh bro! Su-" pria yang Aditya panggil sudah tidak terlihat. Dia melihat isi dari surat itu, Alang kapalanh kaget nya Aditya. Jantung nya hampir copot ketika membaca nama wanita yang tertera di surat keterangan itu.
"Tidak, dia tidak mungkin Adsila!" Aditya menggelengkam kepalanya.
Nama wanita di surat itu memang persis sama seperti Adsila, namun di surat itu juga tertera nama suami nya. yaitu Bobi.
Untuk memastikan semua itu, Aditya berlari mengikuti kemana pria yang dia tabrak tadi pergi. Berlari ke sana kemari menyusuri rumah sakit untuk mencari Adsila.
Bian melihat boss nya berlari ke sana ke mari. Dia pun ikut berlari mengijuti boss nya.
Saat itu, Adsila dan Bobi akan melangkah keluar. Bobi menuntun Adsila yang menggendong bayinya.
"Boss!" Panggil Bian.
Aditya berbalik, bertepatan dengan Adsila dan Bobi keluar dari ruangan. Mereka berbeda arah, sehingga Aditya tidak melihat mereka.
"Apa yang boss lakukan? Kenapa berlari ke sana ke mari?" tanya Bian heran.
Aditya tidak menjawab, nafas nya terengah. Mata nya masih melihat ke sana ke mari, berharap menemukan Adsila.
Ketika sudah berbalik lagi, Adsila dan Bobi sudah masuk ke dalam lift.
Aditya memberikan lembaran kertas itu pada Bian, agar Bian melihatnya sendiri.
"Boss, ini tidak mungkin Adsila. Sudah jelas ada nama suaminya boss"
"Aku tahu Bian, tapi hati ku terus saja menyuruh ku untuk mencari nya. aku merasa yakin dia adalah Adsila ku!"kata Aditya yakin.
"Boss, anda terlalu memikirkan Adsila akhir akhir ini. Sampai sampai kau terbawa suasana " kata Bian.
"Tidak Bian! Aku yakin Adsila ada di sekitar ku!" Aditya terlihat marah pada Bian.
__ADS_1
"Aku yakin itu!" Dengan kesal, Aditya meninggalkan Bian.
"Huh, boss ku mulai gila" lirih Bian menatap iba kepergian Aditya.
Aditya tidak berhenti di situ, dia berlari keluar dari rumah sakit. Menurut surat keterangan itu, pasien akan keluar hari ini.
"Pasti mereka ada di parkiran "
Aditya pun menyusuri seluruh penjuru parkiran rumah sakit. Meskipun sudah merasakan kaki nya capek, Aditya tetap melangkah cepat, berlari mencari Adsila nya.
"Sayang, masuk lah. Mama akan membantu Bobi memasukkan barang ke bagasi" kata Ria.
"Baik ma"
Adsila dengan patuh, di bantu oleh Bobi masuk ke dalam mobil. Sebenarnya, Adsila merasa tidak enak, dia tahu jika mama angkat nya sedang sakit. Tapi, dia tidak bisa membantu mereka.
Bobi melihat mama nya mengangkat tas milik Adsila, dia langsung merebutnya.
"Mama tidak perlu melakukan nya. Aku bisa melakukan nya. Mama kan lagi sakit, ayo masuk ke dalam mobil" kata Bobi mendorong mama nya pelan, lalu membukakan pintu mobil agar mama nya masuk.
"Bro" panggil seseorang.
Bobi berbalik, Ria yang hendak masuk pun menunda niat nya untuk masuk ke dalam mobil. Dia kembali menutup pintu mobil.
"Eh-" Bobi terlihat bingung, dia tidak mengenal siapa pria yang memanggilnya ini.
"Aku yang tidak sengaja kamu tabrak tadi"jelas Aditya. Matanya melirik wanita yang berada di samping Bobi.
"Oh iya, ada apa yah?" Tanya Bobi.
"Tidak apa apa, hanya ingin mengembalikan ini, mungkin nanti anda memerlukan surat ini"
Bobi menerima surtmat keterangan itu, "makasih yah bro, sudah repot repot mengembalikan nya"
Ria melihat pria di hadapan nya itu aneh. Dia beberapa kali menatap dirinya dengan tatapan menyidik, bahkan pria itu terlihat mencuri pandang ke dalam mobil.
"Apa ada lagi?" Tanya Bobi.
"Oh tidak, maaf.." Aditya tersenyum canggung, lalu berbalik dengan hampa. Dugaan nya ternyata salah, wanita itu bukan lah Adsila nya. Melainkan orang lain.
Sementara dari dalam mobil, Adsila menutup mulut nya. Dia melihat semuanya, dia melihat Aditya berbicara dengan kakak dan juga mama angkat nya.
Tubuh Adsila membeku, dia benar-benar takut jika Aditya melihatnya.
Bobi dan Ria masuk ke dalam mobil, mereka melihat sikap Adsila terlihat aneh, dia lebih banyak diam dan melamun.
"Sayang. Kamu baik baik saja?" Tanya Ria, membuat Adsila terkejut.
__ADS_1
"Eh iya ma, aku baik baik saja" Adsila tersenyum, menghalau rasa curiga kedua orang itu.