Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Tidak Layak!


__ADS_3

Titi pergi mencari Aditya, dia harus berbicara dengan pria itu.


"Aditya! Aditya!!"


Brak!!! Brak!!!


"Aditya!!! Aditya!!!!"


Berulang kali Titi menggedor pintu utama rumah besar milik Aditya.


Ceklek.


Pita membuka pintu, dia menatap wanita aneh yang terlihat mengamuk di depan rumah boss nya.


"Anda siapa yah, mengapa membuat keributan!"


"Saya tidak ada urusan dengan mu! panggil majikan mu ke sini!" titah Titi penuh amarah.


Pita pun hendak menutup pintu, dia malas meladeni orang aneh seperti Titi.


"Eh eh, kenapa kamu menutup pintu. Saya menyuruh kamu memanggil majikan mu!" hardik Titi.


"Maaf yah, majikan saya tidak ada di rumah. Dia juga tidak akan mau meladeni orang gila seperti mu!" ucap Pita mendelik kesal pada Titi.


"Baiklah, jika kau tidak mau memanggil majikan mu. Maka aku akan memanggil nya!"


"Eh..Eh ..Keluar kamu!"


Titi menepis Pita, dia mendorong wanita itu ketika jalan nya di halangi.


"Awas...." Pita tersungkur, dia meringis kesakitan pada bokongnya.


"Aditya!!! Aditya!!!" Titi terus berteriak, memanggil Aditya yang tak kunjung keluar.


Dari dalam kamar nya, Aditya terbangun mendengar suara keributan di bawah.


"Ada apa ini?" pikirnya.


Pria itu segera keluar dan turun ke bawah. Melihat apa yang telah terjadi di dalam rumah nya.


Di saat suasana hati yang gundah gulana, siapa yang berani membuat keributan di rumah nya malam malam begini. Cukup Weira yang sudah mengacaukan hidup nya.


Kini, Weira sudah dia kurung di dalam ruangan yang terletak di sudut paling belakang rumah nya.


Titi menatap pria yang bertanggung jawab atas hilangnya Adsila.


Wanita itu menghampiri Aditya, melayangkan sebuah tamparan keras di wajah Aditya.


Plak!


Aditya terkejut, begitu juga dengan Bian dan Rangga yang baru saja tiba.


"Nona, apa yang kau lakukan?" gumam Aditya sembari memegangi pipinya.


"Titi, cukup!" cegah Bian, dia memeluk Titi agar tidak menyerang Aditya lagi.


"Lepaskan aku, aku akan membunuh pria bajingan itu!!"


Titi terus berusaha menggapai Aditya, dia tidak akan membiarkan pria itu hidup tenang. Sedangkan keponakan nya teraniaya oleh orang lain.


"Ada apa ini?" gumam Rangga heran.


"Titi diam!!!" Bentak Bian.


Seketika Titi langsung terdiam, dia berhenti memberontak.

__ADS_1


Huh..


"Maafkan aku! Tapi, kau tidak boleh emosi begini! kita harus membicarakan nya secara baik baik!" lirih nya.


Bian menuntun Titi duduk di sofa. Di ikuti oleh Rangga yang menuntun Aditya ikut ke sofa.


"Bawakan air!" titah Aditya melirik sekilas Pita.


"Baik tuan!" jawab kita, dia segera berlalu ke dapur.


Aditya menatap Titi dengan tatapan bingung. Ada apa dengan wanita ini, dia sudah gila. Sampai menyerangnya secara brutal seperti itu.


"Sebenarnya ada apa? mengapa anda menyerang ku?" tanya Aditya.


Titi tidak menjawab, dia masih menetralkan nafasnya, berusaha untuk menenangkan diri.


Setelah merasa sudah tenang, barulah Titi menatap wajah Aditya.


"Keponakan saya di culik, mereka meminta Adsila menjauhi anda!"


Deg.


"Apa? Adsila di culik?"


Cih.


Titi berdecih, sudah seperti yang dia duga. Aditya bukan lah pria yang baik untuk keponakan nya.


Bahkan, ketika Adsila di culik saja dia tidak tahu.


"Anda adalah pria yang paling egois tuan! saya ragu untuk merestui hubungan anda dengan keponakan saya!"


"Maaf nona, tapi saya benar benar tidak tahu!"


"Itu karena anda egois! hanya mementingkan perasaan anda sendiri!" teriak Titi, dia kembali emosi.


Sedangkan Rangga, dia seperti biasanya. Diam, memikirkan sesuatu yang mungkin berguna.


Di culik? menjauhi Aditya?


Mata Rangga berbinar, dia dapat memecahkan titik masalah mereka. Dia mengetahui siapa yang telah menculik Adsila.


"Bos aku tahu!" seru Rangga, mengundang perhatian ketiga anak manusia itu.


"Apa yang kamu tahu?" tanya Aditya.


Rangga tersenyum, dia memperbaiki posisi duduknya yang kurang nyaman. Lalu menatap mereka satu persatu.


"Cepat lah bicara, atau aku akan mematahkan leher mu!" desak Titi sambil mengancam.


Glek.


Rangga merasa terintimidasi oleh Titi.


"Ada dua kemungkinan, siapa yang menculik Adsila. " jeda Rangga, membuat mereka tidak sabar mendengar nya.


"Siapa?" desak Bian.


"Maya dan Weira!" ucap Rangga.


Mereka semua terkejut, kecuali Aditya.


"Kita harus menangkap mereka!" seru Bian.


"Tidak mereka Bian!" sela Aditya.

__ADS_1


Titi menatap marah, apalagi yang pria itu pikirkan.


"Kau ingin membela mereka?? apa kau tidak percaya jika mereka yang menculik keponakan ku huh?!"


Aditya menoleh, menatap datar Titi.


"Kita hanya akan menangkap Maya, aku yakin dia pelakunya!" jelas Aditya.


Rangga menaikkan alisnya. "Bisa jadi Weira juga kan boss!"


"Tidak Rangga, Weira sekarang aku kurung di ruangan belakang rumah ini!" jawab Aditya.


Mereka semua terkejut, bagaimana mungkin wanita cantik itu Aditya kurung.


"Sudah lah, sekarang yang paling penting, kita cari Maya!" seru Aditya.


...----------------...


Brak!! Brak!!!


"Aditya!!! keluarkan aku!!! Hei...Aku takut di sini!!!"


"Aditya!!!"


Weira terus menggebrak pintu ruangan yang dia sendiri tidak tahu itu ruangan apa.


"Hiks, hiks..Kenapa kamu kurung aku Aditya!!!!"


Brak!!!


"Aditya!!!!"


Weira berteriak sambil menangis, dia tidak menyangka jika Aditya akan melakukan hal ini pada dirinya.


Cinta yang dulu dia lihat di mata Aditya, sudah sirna dan berganti dengan tatapan kebencian.


*Aku menyesal, aku tidak akan pernah menyia nyiakan kamu lagi Aditya.


Tapi, mengapa di saat aku sudah sadar. kamu sudah tidak mencintai aku lagi*.


Brak!!! Brak!!!


"Aditya, keluarkan aku dari sini!!!!", teriak nya putus asa.


Dari luar ruangan tempat Weira di kurung, ada dua orang bertubuh tegap menjaga pintu itu.


Mereka tampak seperti patung berdiri dengan kondisi istirahat di tempat.


Suara teriakan dan gebrakan tangan Weira pada pintu, terasa seperti alunan musik di telinga kedua bodyguard tersebut.


...----------------...


Kembali pada keempat orang ini, mereka berada di dalam sebuah mobil.


Rangga yang pintar itu berhasil menemukan titik di mana Mata berada saat ini.


Takut itu adalah sebuah jebakan, Rangga mengutus beberapa mobil yang di kendarai oleh anak buah nya, untuk pergi ke tempat itu terlebih dulu.


Ternyata benar, itu bukan sebuah jebakan. Mata memang bodoh, dia lupa memutuskan jejaringan internet ponselnya. Sehingga Rangga bisa meretas dan mendapatkan IP lokasi ponselnya saat ini.


"Apakah keponakan ku baik baik saja?" tanya Titi khawatir. Dia duduk di kursi belakang bersama Bian. Sedangkan Aditya dan Rangga duduk di kursi bagian depan mobil.


"Tenang lah Titi, kita tidak boleh gegabah. Adsila pasti akan baik baik saja!"


"Tapi Bian, aku takut mereka melukai Adsila.",

__ADS_1


"Tidak akan, jika mereka berani menyakiti Adsila. Mereka akan mati di tangan ku!", tegas Aditya menyahut ucapan Bian dan Titi.


Suasana malam terasa semakin mencekam, apalagi sekarang sudah hampir pukul 3 dini hari.


__ADS_2