
Setelah mengantar Adsila ke kamar, dan selesai di periksa oleh dokter. Aditya pun kembali menemui mama nya. Ia harus membicarakan hal ini dengan wanita paru baya itu.
Brak!
Pintu kamar Maya terhempas sangat kuat. Terlihat di dalam ruangan itu, Maya tengah duduk di sofa sambil membaca majalah. Di samping Maya, ada Jasmin yang tampak ketakutan melihat Aditya.
Sejak kecil, Aditya memang terlihat tidak suka pada Jasmin. Sehingga membuat Jasmin tidak begitu dekat dengan nya.
"Kak Aditya" gumam Jasmin gugup.
Pria itu hanya melirik sekilas pada nya, lalu pria itu kembali menatap mama nya yang tampak sangat santai.
"Kita butuh bicara!" kata Aditya.
Maya masih santai, ia meletakkan majalah nya di atas meja, lalu menatap putra nya dengan tatapan malas.
"Apa lagi yang harus kita bicarakan?"
"Kenapa mama lakukan itu pada Adsila?"
"Seharusnya kamu sudah tahu jawaban nya Aditya, kenapa kamu membuang buang waktu untuk menanyakan hal ini"
Mendengar jawaban mama nya, membuat rahang Aditya semakin mengeras.
"Mama tahu tidak, perbuatan mama barusan hampir membunuh anak yang sedang di kandung wanita itu"
"Bagus dong, itu yang mama inginkan. Jadi wanita itu tidak memiliki alasan untuk mendekati kamu"
Aditya menggeleng kepala, ia tidak menyangka mama nya sekejam itu.
"Ma, di dalam kandungan Adsila. Ada darah daging ku, calon cucu mama. Kenapa mama tega sih melakukan semua ini"
"Tidak Aditya, mama tidak pernah menginginkan cucu dari seorang pembantu. Mau taro di mana muka mama di depan teman teman mama!"
"Terserah mama deh, pokoknya mulai saat ini, siapa yang berani mengganggu Adsila, akan berhadapan dengan ku! Tidak terkecuali mama!"
Mendengar peringatan dari putranya, membuat kedua tangan Maya mengepal.
"Ma, bagaimana ini. kakak sangat marah" ujar Jasmin mendekati mama nya setelah kakak nya pergi.
"Karena gadis itu, Aditya berani melawan ku!"
"Wanita itu membawa kesialan ma" sambung Jasmin.
...----------------...
Aditya kembali ke kamar, ia melihat Rangga dan Bian berdiri di sana, mereka menjaga Adsila .
"Bereskan semua barang barang gadis itu" titah Aditya .
Membuat Rangga dan Bian saling menatap bingung.
"Mau kemana boss? kenapa barang barang Adsila di bereskan?" tanya Bian.
"Aku akan membawa nya tinggal di apartemen, berada di sini tidak akan membuat calon anak ku selamat"
Bian dan Rangga mengangguk mengerti, mereka langsung melaksanakan perintah Aditya.
__ADS_1
Di atas ranjang, Adsila masih terbaring lemah. Sejak di periksa dokter, wanita itu belum juga sadarkan diri.
"Huh, kasian sekali dia. Semenjak berada di rumah ini. Dia mengalami hal hal yang buruk. Pasti mentalnya akan terganggu" batin Aditya, ia menatap lurus wajah damai Adsila.
...----------------...
"Ada apa ini, kenapa aku mendadak kepikiran Adsila" gumam Bibi Adsila.
Wanita cantik yang tampak tua karena sakit sakitan itu, mengusap dada nya. Ia merasa sangat cemas.
"Lena, Lena" panggil bibi Adsila pada adik Adsila.
Lena pun berlari masuk ke dalam rumah, ia sedang menyapu halaman rumah.
"Ada apa bibi, kenapa bibi berteriak memanggil Lena?"
"Nak, apa kakak mu ada menghubungi mu? bibi merasa sangat cemas padanya"
Lena menggeleng, kakak nya sejak 2 Minggu yang lalu tidak pernah menghubungi nya.
"Kemarin Lena menghubungi tuan Bian, dan tuan bilang kakak baik baik saja dan saat itu sedang bekerja" jelas Lena.
Fyuu...
Bibi Adsila merasa sedikit tenang, tapi di hatinya masih tersimpan rasa cemas.
Lena menangkap kegelisahan dari dalam diri bibinya. Ia mendekat, lalu memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai pengganti ibu nya.
"Sudah lah bi, bibi tenang saja. Kakak pasti baik baik saja" bujuk Lena menenangkan bibi nya. Meskipun dirinya juga merasakan hal yang sama.
Lena mengangguk di dalam pelukan bibi nya.
...----------------...
Pukul 3 sore, setelah Adsila tersadar dari pingsan. Aditya langsung menghampiri nya.
"Bagaimana kondisi mu?" tanya pria itu.
Adsila tidak menjawab, ia hanya diam dan duduk seperti orang ketakutan.
Bayangan di pukuli oleh Maya masih terngiang di benak nya.
"Tenang lah, kau sudah aman. Mama ku tidak akan mengganggu mu lagi" bujuk Aditya.
Pria itu hendak mendekat pada Adsila, tapi wanita itu bergerak menjauh.
"Sudah duduk lah di situ, aku tidak akan mendekati mu"
Barulah Adsila kembali duduk di tepi ranjang. Seperti nya mental wanita ini sedikit terganggu oleh tekanan yang terus menerpanya.
"Maaf, tolong lepaskan saya tuan. Biarkan saya pergi" lirih Adsila pelan.
Mendengar ucapan Adsila, membuat emosi Aditya seketika naik.
"Tidak! kau tidak boleh pergi sebelum melahirkan anak itu. "
"Tapi, aku tidak mau merusak keluarga kalian! tolong tuan" mohon Adsila.
__ADS_1
"Kesepakatan sudah di buat Adsila, kau harus tetap di sisi ku, hingga bayi itu lahir!"
"Tapi-"
"Aku tidak memberi mu negosiasi Adsila, aku memberi mu pernyataan!. Sekarang bersiap lah, kita akan segera pergi dari sini!"
Gadis itu terdiam seribu bahasa. Bentakan Aditya membuatnya takut dan tidak berani mengeluarkan suara lagi.
Melihat Adsila langsung terdiam, membuat Aditya sadar, bahwa wanita itu semakin takut padanya. Tapi mau bagaimana lagi, Aditya tidak akan pernah melepaskan wanita itu karena ada calon anak nya di dalam perutnya.
Agar Adsila bebas untuk bersiap, Aditya sengaja pergi dari kamar.
Setelah Aditya keluar, baru lah Adsila beringsut turun dari ranjang. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Kondisi tubuh Adsila masih sangat lemah, bekas pukulan Maya masih terasa sangat sakit di tubuhnya.
Sehingga, pergerakan gadis itu terlihat sangat lamban.
Di dalam kamar mandi, Adsila berdiri di depan kaca besar. Menatap tubuhnya yang semakin kurus. Terutama di bagian perut.
"Apa kau baik baik saja? aku tidak yakin bisa hidup tenang bersama ayah mu. Tapi, aku juga tidak yakin bisa lari dari nya" Adsila mengusap perut datar nya.
Walaupun wanita itu tidak mengharapkan kehadiran janin nya, tapi ia juga tidak pernah berpikir untuk membunuhnya.
1 jam berlalu, Adsila sudah selesai membersihkan tubuhnya. Wanita itu duduk di tepi ranjang, matanya menatap kosong dinding kamar.
Ceklek.
"Apa kau sudah siap?" tanya Aditya sembari melangkah masuk.
Membuat Adsila tersadar dari lamunan nya. Wanita itu menoleh, menatap majikan nya dengan tatapan datar.
"Ayo kita pergi!"
Adsila tidak bergerak, ia masih menatap Aditya datar.
"Hei, apa yang kau pikirkan. Kita akan segera pergi dari sini" Aditya mendekati wanita itu, lalu menarik tangan nya lembut. Nada suara Aditya juga terdengar lembut saat berbicara.
"Aku tidak mau pergi bersama mu, aku ingin pergi sendiri!" lirih Adsila.
Mendengar itu, rahang Aditya langsung mengeras. Tangan nya yang awal nya mencengkram lembut pergelangan tangan Adsila. Kini berubah menjadi semakin kuat.
"Akh...Tuan, kau menyakiti tangan ku" ringis Adsila kesakitan.
"Kau selalu memancing kemarahan ku Adsila! kau selalu membuat aku ingin melakukan sesuatu yang kasar!" ucap Aditya dengan suara tertahan, gertakan giginya juga terdengar jelas di telinga Adsila.
Adsila menunduk ketakutan, Aditya terlihat sangat mengerikan ketika marah.
"Maaf tuan, tapi saya ingin bersama keluarga saya"
"Tidak bisa! kau akan tetap bersama ku, hingga anak ku lahir!" tekan Aditya.
Adsila tidak bisa berkata kata lagi, ia hanya bisa menangis.
Lemah, tidak bisa berbuat apa apa. Itulah yang wanita itu rasakan. Ia hanya bisa menuruti semua yang Aditya katakan.
Sampai kapan aku akan seperti ini? Bibi, Lena, maafkan aku. Aku tidak bisa menghubungi kalian untuk saat ini.
__ADS_1