Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Melahirkan Bayi Tampan (Adsila)


__ADS_3

Adsila di larikan ke rumah sakit, Bobi dan Ria mengikuti dokter dan suster mendorong brankar Adsila.


"Ma,sakit!!...Arrgg...."


"Iya sayang, kamu sabar yah. Kamu harus kuat" ucap Ria berusaha menenangkan Adsila.


Adsila terus meringis kesakitan, dia terus bergerak tidak karuan di atas brankar itu.


"Maaf tuan, nyonya. Kalian tidak di perbolehkan masuk, dokter dan team medis akan menjalankan tugas nya" ucap suster menahan Bobi dan Ria di depan pintu, lalu suster itu langsung menutup pintu.


Ria dan Bobi berdiri di depan pintu, menatap ke dalam ruangan melalui kaca bening pintu ruangan persalinan.


"Semoga Adsila dan bayi nya baik baik saja"


"Iya nak, mama juga mengharapkan hal itu" sahut Ria.


20 menit berlalu, Bobi dan mama nya menunggu dengan gelisah di luar ruangan persalinan Adsila. Mereka duduk gelisah di kursi tunggu.


"Arrrggg.....huuu hu..." Adsila terus mencoba mendorong bayi nya dengan mengejan.


Dia terlihat sangat berusaha, tubuh nya sudah bersimbah keringat.


"Ayo nona, sedikit lagi. Toko ikuti instruksi saya" ucap dokter.


Adsila pun mengangguk, dia mengikuti arahan dari dokter.


"Narik nafas,hembuskan....Tarik...Lepas .."


Huffff.....Haaa.....Hufff....Haa.....


Setelah merasa waktu nya pas, dokter memberikan instruksi Agara Adsila mengejan sekuat tenaga.


"Ok nona langsung!!!"


"Arrrggggggggg!!!!!!!!!!" teriak Adsila sekuat tenaga nya.


Bobi dan Ria saling berpelukan saat mendengar suara teriakan Adsila yang sampai terdengar ke luar ruangan.


"Uwekk....Uwekk...."


Fyu...


"Ma sudah lahir"


"Iya Bobi, akhirnya cucu mama lahir" ucap Ria girang. Kedua ibu dan anak itu terlihat seperti orang bodoh melompat lompat di luar ruangan.


Adsila terbaring lemas, nafas nya tersengal sengal.


Dokter menghampiri Adsila, dia menggendong bayi Adsila yang sudah di bersihkan.


"Selamat yah Bu, bayi nya laki laki"


Adsila menoleh, senyum haru terbit di bibir nya.


"Bayi ku" lirih Adsila di sela sela nafas nya.


"Di mana suami anda nona? " tanya dokter

__ADS_1


Deg.


Adsila terdiam mendengar pertanyaan sang dokter. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia memang tidak memiliki suami.


Dokter mengira Adsila terlalu lemas , hingga tidak bisa menjawab pertanyaan nya.


"Mungkin di luar" dokter pun membawa bayi itu ke luar ruangan persalinan, dia melihat Bobi dan Ria.


"Selamat yah tuan, bayi anda laki laki" ujar dokter pada Bobi.


Bobi tidak terlalu menanggapi ucapan dokter, dia dan mama nya terlalu bahagia melihat bayi kecil itu.


"Tuan, mohon adzan kan bayi anda" ujar dokter mengingatkan.


Baru lah Bobi dan Ria tersadar. Bobi akan menjawab, bahwa dia bukanlah suami Adsila. Tapi, mama nya lebih dulu menjawab.


"Ayo Bobi, Adzan kan" ujar Ria.


Bobi menatap mama nya bingung, tapi dia tetap mengumandangkan adzan dengan suara pelan di samping telinga bayi.


Lagi pula, siapa pun yang mengumandangkan Adzan pada bayi yang baru lahir, tidak lah masalah. Memang, akan lebih baik jika ayah dari bayi yang melakukan nya. Tapi kan,ayah dari bayi ini tidak ada. Jadi, tidak masalah jika Bobi yang melakukan nya.


Setalah mengumandangkan Adzan, Bobi mengecup pelan pipi lembut bayi itu.


"Jadilah pelindung bagi mama mu" bisik Bobi. Bayi itu menggeliat pelan, seakan memberi respon atas ucapan Bobi.


"Anak baik" gumam Bobi tersenyum.


Setelah Adsila di bersihkan, suster memindahkan Adsila ke ruangan rawat inap.


Adsila berhasil lahiran secara normal, semua nya berjalan dengan lancar.


"Ini nona, bayi anda. Dia sangat tampan" puji sang dokter, dia tidak henti hentinya menatap wajah bayi tampan itu.


"Terimakasih dok" ucap Adsila menerima bayi nya, lalu memeluk penuh kasih.


"Bayi ku" gumam Adsila.


"Kalau begitu, saya pamit dulu non, mari nyonya, tuan" ucap dokter pamit.


Ria dan Bobi mengangguk, mempersilahkan dokter keluar.


"Selamat yah sayang, kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu"


"Iya ma, makasih yah" balas Adsila.


"Selamat yah Adsila, putra mu tampan. Mirip seperti ku" ujar Bobi dengan nada bercanda nya.


Adsila tersenyum, lalu ekspresi wajahnya berubah menjadi murung.


"Ada apa nak, apa yang membuat mu sedih begini?" tanya Ria menangkap raut kesedihan putri angkat nya.


"Humm...Aku khawatir ma, jika suatu hari pria itu mengetahui putra nya masih hidup, pasti dia akan mengambil putra ku dari sisi ku" ucap Adsila hampir menangis.


"Tidak Adsila, jika dia berani melakukan hal itu, aku yang akan menjadi lawan nya." sahut Bobi.


"Iya sayang, kamu tidak usah khawatir. Kami bersama mu. Tidak akan ada yang bisa mengambil cucu mama dari sisi putri mama" sambung Ria.

__ADS_1


"Hiks....Hiks..." Adsila menangis, dia memeluk erat putra nya. Dia tidak akan bisa hidup jika putra nya tidak bersama nya.


Ria mengambil bayi Adsila, lalu menidurkan nya di dalam ranjang bayi samping ranjang Adsila.


"Kamu tenang yah sayang, jangan pikirkan hal hal lain dulu. Istirahat lah" ujar Ria.


Adsila mengangguk, dia memeluk mama angkatnya pelan, karena memang dia tidak boleh terlalu bergerak dengan keras.


"Makasih yah ma, kak" lirih Adsila.


" Tidak perlu berterimakasih, ini sudah tugas mama dan Bobi melindungi kamu sayang" ucap Ria membalas pelukan Adsila.


Sedangkan Bobi, dia hanya diam menatap mama dan wanita yang beberapa bulan ini menghiasi hidup nya yang hampa.


"Andai kau tahu Adsila, aku siap menjadi ayah dari anak mu. Agar pria itu tidak bisa mengambil anak mu dari mu" batin Bobi.


"Ya sudah sayang, sekarang kamu istirahat. Tubuh mu perlu istirahat "


Ria merapikan posisi tidur Adsila, menyelimuti wanita yang beberapa jam lalu baru saja selesai melahirkan putranya.


"Iya ma"


Ria tersenyum, lalu dia membawa Bobi keluar bersama nya, membiarkan Adsila istirahat.


...----------------...


"Adsila!!!"


"Ah apa?" Bian dan Rangga terkejut, mereka yang tertidur di sofa kamar Aditya, langsung berdiri setelah mendengar teriakan boss mereka.


Bian dan Bobi menghampiri boss mereka.


"Ada apa boss? apa boss mimpi buruk?" tanya Rangga.


Aditya duduk, nafas nya tersengal sengal. Dia baru saja mimpi bertemu Adsila.


"Bian, Rangga, Aku bertemu Adsila. Mereka datang dan menjauh dari ku" ucap Aditya menceritakan mimpinya.


"Boss, mereka siapa? Adsila bersama siapa?" tanya Bian bingung.


Aditya terdiam, dia mencoba mengingat kembali mimpinya. Namun, entah mengapa Aditya tidak bisa mengingat mimpi nya. Dia hanya ingat, Adsila menggendong seorang bayi kecil, lalu setelah melihat dirinya, Adsila membawa bayi itu pergi.


"Aku tidak tahu, tapi Adsila menggendong bayi" lirih Aditya .


Rangga melongo, otak oleng nya kembali berimajinasi yang aneh.


"Boss, jangan jangan Adsila bunuh diri, menyusul bayi kalian" gumam Rangga.


Plak.


Bian langsung menghadiahkan Rangga dengan pukulan di kepalanya.


"Jangan berbicara omong kosong, jika tidak ada bukti!" serga Bian.


"Aww...Sakit Bian. Aku kan hanya menyimpulkan dugaan ku!"


"Tetap saja, kau hanya menimbulkan kepanikan!" balas Bian. Membuat Rangga merungut tidak jelas.

__ADS_1


Sedangkan Aditya malah terdiam memikirkan maksud dari mimpinya.


__ADS_2