
Marvell sudah menjalani aktifitas seperti biasa ia sudah kembali bekerja seperti semula, walau pun perusahaan milik dirinya sendiri ia tetap bekerja keras.
Marvel saat ini sedang berada di ruangannya ia begitu pokus dengan berkas berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. walau pun hanya sebuah tanda tangan namun bisa membuatnya begitu pusing.
Zoe membuka pintu setelah mengetuknya lalu masuk ke ruangan di mana Marvel berada.
"Ada apa?" Marvel bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Di depan ada nona Jesy." ucap zoe dengan malas.
"Kenapa engak di suruh masuk?" Marvel menatap Zoe dengan sorot mata yang begitu tajam.
Laki laki tampan dengan balutan jas di tubuhnya berdiri dengan tangan yang merapihkan jasnya yang sedikit berantakan.
"Biarkan dia masuk." ucap marvel
Zoe kembali ke luar, pria tampan tersebut menghampiri wanita cantik dengan baju yang begitu sexy sedang duduk menunggunya.
"Kau sudah di tunggu." ujar Zoe dengan sinis.
__ADS_1
Tanpa menjawab Jesy berlalu begitu saja meninggalkan Zoe. Perlahan namun pasti Jesy melangkahkan kakinya menuju ruangan Marvel, tanpa mengetuk terlebih dahulu wanita sexy tersebut masuk begitu saja.
"Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Marvel seraya melangkah mendekati Jesy.
"Zoe yang menahan ku, asisten mu itu menyebalkan sekali," gerutu Jesy seraya memanyunkan bibir merah miliknya.
"Kau mengemaskan sekali jika sedang marah," ujar Marvel menarik pinggang Jesy ke dalam pelukannya.
Hal itu tidak di sia siakan olehnya, tangan Jesy sudah berada di leher Marvel. Marvel yang saat ini sangat mencintai Jesy dengan cepat mencium bibirnya kini lidah keduanya sudah saling membelit satu sama lain. ciuman yang awalnya biasa saja kini sudah semakin memanas. Marvel menuntun Jesy menuju sofa tanpa melepaskan pangutannya.
Kini Jesy sudah berada di pangkuannya dengan bibir yang masih menyatu, kini tangan Marvel sudah berada di bokong Jesy dengan sesekali mengusapnya.
"Akhh ... sayang jika kau mau jangan lakukan di sini," ucap Jesy dengan napas yang memburu. Jesy masih duduk di pangkuan Marvel dengan berhadapan dengannya hingga laki laki tersebut dengan leluasa menikmati dua benda tersebut.
Benda yang berada di bawah sana sudah mengeras hingga Jesy dapat merasakannya.
Jesy hendak membuka celana Marvel namun gerakannya terhenti setelah mendengar suara ketukan dari luar.
Marvel menghentikan aksinya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. tangannya merapihkan baju Jesy yang berantakan karna ulahnya. ia hendak berdiri namun Jesy masih berada di pangkuannya.
__ADS_1
"Bangun lah," ucap Marvel dengan sangat lembut. setelah Jesy bangun Marvel mempersilahkan Joe masuk.
"Ada apa?" tanyanya dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Dua puluh menit lagi meeting akan segera di mulai," ucap Zoe dengan datar.
"Baik lah, aku akan segera ke sana," jawab Marvel, Zoe pun pergi meninggalkannya.
"Sayang, aku lupa ada meeting, kamu tunggu di sini atau pergi?" tanya Marvel dengan wajah bersalahnya.
"Lebih baik aku pergi, dari pada menunggumu di sini sangat membosankan," ucap Jesy dengan kesal.
Jesy pergi sedangkan Marvel berjalan menuju ruangan di mana sudah ada beberapa orang yang menunggunya.
Kini waktu sudah menunjukan pukul satu siang, namun gadis cantik tersebut masih memikirkan bagai mana caranya agar bisa keluar dari rumah mewah tersebut.
Putri yang bangun kesiangan kini harus menahan kesal karna tidak bisa ke luar dari rumah mewah tersebut. Marvel mengunci rumahnya karna pelayan yang satunya izin tidak datang, ia pun lupa ada gadis cantik yang menginap di rumahnya tersebut.
Semua pekerjaan sudah selesai dia lakukan. Lalu ia harus melakukan apa lagi? sangat menyebalkan.Putri berjalan menuju jendela kaca ia bisa melihat ada satpam yang menjaga di sana.
__ADS_1
Putri melambai lambaikan tangannya agar satpam tersebut dapat melihatnya, namun usaha nya sia sia karna kaca tidak dapat terlihat dari arah luar. putri semakin kesal saat melihat satpam berlalu pergi, masa harus menunggu sampai sore.