
Jeny begitu marah setelah bertemu dengan Marvel, Apa marvel pikir dia akan takut dengan ancamannya, tentu tidak, kalau dia tidak bisa mendapatkannya tidak ada satu wanita pun yang boleh memilikinya.
Sebuah ponsel sudah berada di tangan nya, menghubungi seseorang adalah tujuannya saat ini dia akan menghubungi kembali orang yang dibayar dulu.
Saat jeny menelponnya dengan cepat orang itu menjawabnya.
"Ada apa?" Tanya orang itu dengan tidak sabar. Dia tau bila ada yang menghubunginya pasti akan ada yang meminta bantuan padanya.
"Aku butuh bantuan mu," ucap Jeny sambil menghisap sebatang rokok yang berada di tangannya.
"Aku tau," jawab orang itu.
"Bagus bila kau sudah tau."
"Jadi ****** mana yang mau kau singkirkan?" Tanyanya.
"Istri Marvel Lee." sebuah foto sudah dia kirim dengan cepat orang itu melihatnya.
"Ini sangat beresiko," ucap orang itu dengan santai.
__ADS_1
"Berapa pun yang kau mau kau akan dapatkan, asalkan kau bisa mengghabisinya. Akan aku kirim uang nya sekarang separuhnya bila tugasmu sudah selesai." Setelah mematikan ponselnya Jeny tersenyum dengan sinis.
Sebuah Foto sudah dia dapatkan, akan dia lakukan besok karena sekarang hari sudah mulai gelap.
Sementara di tempat lain Putri sedang bersandar di pundak suaminya sambil menikmati beberapa cemilan yang di buat bi darni.
"Sayang, kenapa kaki kamu membengkak?" Tanya Marvel seraya mengangkat sebelah kaki putri ke atas pahanya.
"Tidak perlu kawatir kak, ibu bilang memang seperti itu bila sudah memasuki bulannya." Ucap Putri mengangkat satu kakinya lagi.
"Tapi ini baru delapan bulan, apa sakit?" Tanya nya kawatir sambil memandangi putri, yang di pandang tersenyum dengan manis.
"Engak sakit kak, hanya saja terkadang terasa nyeri, tapi kakak tidak perlu kawatir."
"Apa yang kamu bicarakan, kita akan merawat dan membesarkan anak kita bersama sama, kita berdua akan menyaksikan dia tumbuh besar nanti." Marvel mengelus lembut perut yang sudah membesar itu dengan mencium pipi Putri.
"Ibu bilang, seorang ibu akan bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya, aku hanya takut tidak bisa bertaruh dan akan meninggalkan kalian." Ucap Putri dengan nada sedih.
"Jangan bicara seperti itu lagi, aku engak suka dengarnya," Marvel menatap Putri dengan memegang kedua pipinya.
__ADS_1
"Lebih baik tidur, dari pada kamu bicara yang tidak tidak."
"Gendong," renggek Putri. Marvel hendak menggendong putri namun dengan segera ibu Darni melarangnya.
Ibu yang saat itu tidak sengaja melihat marvel ingin menggendong putri langsung ia larang. Ibu takut Marvell tidak kuat dan akhirnya mereka terjatuh,melihat perut putri yang sudah besar membuat bu darni selalu merasa kawatir.
"Kalian mau ke mana?" Tanya ibu.
"Mau ke kamar," jawab putri kini tangannya sudah melingkar di leher Marvel. Marvel diam tapi mata nya menatap bi darni.
"Turunkan tangannya."
"Tapi bu, aku pingin di gendong sampai kamar," rengek Putri dengan wajah memelas.
"Put lihat perut kamu sudah besar, apa kamu tidak takut jatuh saat Marvel menggendong mu."
"Sayang, ibu meremehkan kamu," ucap Putri menatap Marvel.
"Ibu tidak meremehkan aku sayang, tapi itu benar. Bagai mana bila kita terjatuh," jawab Marvel dengan mengusap lembut pipi Putri.
__ADS_1
"Kalian menyebalkan," Putri melangkah pergi dengan kesal.
"Sabar," ucap bi darni kepada Marvel lalu melangkah pergi, marvel yang tersadar putri sudah menghilang segera menyusulnya.