
Seminggu lagi mereka akan mengadakan acara lamaran, apa dia sudah siap? jujur dia ragu dengan cinta arel untuknya tapi rasa cinta dia untuk arel begitu dalam. Napas Maura hembuskan biarkan waktu yang akan menjawab.
Entah kenapa dia begitu rindu dengan momynya walau pun dia belum pernah melihat wajah ibu nya tapi rasa rindu itu ada. Lebih baik dia meminta ayahnya untuk berkunjung ke sana lagi pula dia tidak mengerjakan apapun, Maura turun dari kamarnya dia mencari Marvel yang sedang berada di ruang kerja.
Saat Maura mengetuk pintu dengan cepat Marvel mematikan telponnya karena saat itu dia sedang menghubungi seseorang untuk dia perintah.
Ponsel dia letakan saat Maura masuk ke dalam Marvel tersenyum melihat Maura mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Marvel.
"Dedy tidak sibuk bukan?"
"Tidak," Jawabnya dengan cepat, hari ini pekerjaannya sudah selesai berkat asistennya itu.
"Aku rindu dengan momy, apa dedy mau menemani aku,"
"Tentu saja,"jawab Marvel dengan cepat.
__ADS_1
"Dedy memang yang terbaik," ucap Maura mencium pipi Marvel, Marvel hanya tersenyum dengan tingkah anak gadisnya itu.
Semoga saja orang suruhannya itu bisa mendapatkan informasi dengan cepat sebelum acara lamaran di laksanakan, dia tidak akan memberikan anak gadisnya begitu saja tanpa tahu identisan pria itu,
Marvel menyuruh seseorang untuk mencari tahu tentang arel, dia tidak mau Maura salah memilih pendamping, dia tau Maura begitu mencintai arel sebab itu dia takut Maura terjebak dengan cintanya sendiri.
Mobil sudah tiba di pemakaman, Maura turun di susul marvell dengan membawa seikat bungga, langkah Maura terhenti ketika melihat seorang pria tengah berada di salah satu gundukan tanah, Maura menoleh ke ayahnya marvel hanya diam tanpa expersi membuat Maura melanjutkan jalannya.
Mungkin ini sebuah kebetulan untuk seorang pria bernama Edwin, gadis yang sudah berapa hari ini tidak dia lihat kini ada di depan matanya, rasanya ingin sekali mendekati gadis pujaan hatinya itu.
"Bu, dia ada di sini," ujar Edwin membelai batu nisan yang sudah tertancap dengan kokohnya.
Pria dengan tubuh elastis itu memandang dari kejauhan, melihat apa saja yang di lakukan oleh Maura dan marvel walau pun dia tidak mendegar percakapan mereka tapi dia dapat melihat jika ada raut kesedihan di wajah maura. Rasanya ingin sekali berada di samping Maura dan mendekap tubuhnya.
Marvel menjauh saat ponselnya berdering, tidak mau menganggu Maura Marvel memilih berbicara dengan rekannya di dalam mobil, melihat itu Edwin seperti mendapat angin segar bukan dia takut dengan marvel namun dia bingung harus bersikap seperti apa di depannya. Orang seperti dirinya akan terlihat kaku jika berhadapan dengan orang yang banyak uang sebab itu dia sedikit minder untuk mendekati Maura.
Edwin melangkah mendekati Maura yang saat itu sedang menabur bungga, Maura melihatnya dengan heran, bukan itu pria yang tadi berada di sana untuk apa dia kesini?
__ADS_1
"Hai," sapa Edwin basa basi, Maura diam saja tidak menjawab, dia merasa takut karena Edwin terus saja memandanginya.
"Kau siapa? Jangan melihat ku seperti itu," ucap Maura, dia berdiri matanya mencari sosok ayahnya namun Marvel tidak terlihat.
"Kenalkan aku Edwin," ucap Edwin mengukurkan tanggannya dengan ragu Maura menyambut ukuran tanggan pria itu.
"Kenapa kau seperti melihat setan?" tanya Edwin.
"Eh ti.... tidak," Jawab Maura tidak enak hati." aku Maura," ucapnya melepaskan gengaman tangan mereka.
"Aku sudah tahu," ucap Edwin.
"Kita sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Maura heran. Edwin tidak menjawab dia hanya tersenyum membuat Maura mengerutkan alisnya, pria aneh.
"Salam kenal, dedy sudah menunggu jadi aku duluan," ucap Maura melangkah dengan cepat meningakjan Edwin yang masih diam berdiri di tempatnya sambil memandangi Maura.
"Siapa?" tanya Marvel sambil melihat ke arah Edwin
__ADS_1
"Entah lah, pria aneh," Jawab Maura masuk ke dalam mobilnya. Edwin tersenyum senang akhirnya dia dapat berkenalan juga.