
Pagi sekali Maura sudah berada di pemakaman itu dia lakukan karna hatinya begitu sakit, perasaannya begitu hancur hanya karena pria bajingan yang tidak punya hati dia menjadi seperti ini, air matanya terus saja mengalir tanpa dia inginkan, rasa sedih tidak bisa dia hindari. seharusnya dia mendengarkan kata ayahnya jika banyak bajingan di luar sana dan ternyata benar orang yang dia cintai hanya seorang bajingan.
"Mom, apa yang harus Maura lakukan, hati Maura begitu sakit Mom," ucap Maura sambil mengelus batu nisan yang sudah mulai memudar warnanya.
"Mulai sekarang Maura tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun, Maura tidak ingin menikah, Maura ingin menjalani hidup seperti ini saja," air matanya kembali mengalir mengingat rasa sayang yang dia berikan untuk arel hanya di balas penghianatan.
"Mom, andai momy tidak pergi meningalkan Maura, Maura tidak akan serapuh ini, walau pun dedy selalu ada untuk Maura, tapi Maura tidak ingin selalau merepotkan dedy, Maura tau hati dedy hancur saat kehilangan momy sebab itu Maura tidak ingin membuat hati dedy semakin hancur melihat kesedihan maura." ucap Maura sambil menangis tangannya memeluk batu nisan kembali.
Walau pun dia berusaha untuk tidak menangis namun rasa sakit yang dia dapatkan tidak bisa membendung air matanya.
Marvel yang baru saja bangun begitu heran melihat bu darni yang sedari tadi tidak henti hentinya berjalan bulak balik, apa yang dia cari?
"Ibu membuat aku pusing, apa yang sedang Ibu lakukan, kenapa begitu terlihat cemas?" tanya marvel dia menyambar teh yang di buat bu darni lalu meneguknya.
"Maura tidak ada," ucap bu darni.
__ADS_1
"Apa maksud ibu enggak ada?" tanya Marvel menatap lekat bu darni.
"Entah lah ke mana perginya anak itu, sedari tadi aku mencarinya di mana pun tidak ada," ucap bu darni membuat Marvel semakin pusing.
"Ada apa bu, bicara yang jelas!"
"Maura tidak ada di kamarnya, aku udah cari di mana pun tidak ada," ucap bu darni dengan cemas, jangan samapai Maura nekat melakukan hal yang aneh mengingat dia sedang patah hati.
Mendegar Maura tidak ada di kamar nya dengan cepat Marvel menyambar ponselnya, hal pertama dia lakukan adalah menghubungi Maura. Saat ponselnya berhunyi Maura melihatnya, dengan cepat dia mengankatnya dia tau dedynya pasti kawatir mengingat dia pergi tanpa berpamitan.
"Ada apa ded?" tanya Maura dengan lirih.
"Aku sedang di makam momy, ded."
"Apa yang kamu lakukan di sana. Ini masih sangat pagi, Maura."
__ADS_1
"Aku ingin seperti ini sebentar ded, aku ingin berbicara dengan momy." ucap Maura tanpa terasa air matanya mengalir, kenapa dia begitu menyedihkan.
"Baiklah, jangan terlalu lama, nanti kamu sakit." ucap Marvel. Dia tau putrinya sedang tidak baik baik saja. Akan dia beri perhitungan orang yang sudah membuatnya menangis begitu lama.
Marvel menghubungi Joe dia ingin menanyakan apakah yang dia inginkan sudah dia dapatkan.
"bagai mana? " tanya Marvel tanpa basa basi.
"Santai bro, ini masih pagi, biarkan aku menikmati teh buatan istri ku terlebih dahulu," ucap Joe.
"Ck, jangan membuat ku kesal joe," ucap Marvel.
Joe terkekeh, semua informasi yang Marvel inginkan sudah dia dapatkan, hanya sedikit lagi mereka akan menemukan arel.
"Dua puluh menit lagi aku sampai," ucap Joe sambil menyeruput teh nya.
__ADS_1
"sepuluh menit, dalam waktu sepuluh menit kau belum sampai, uang pesangon mu akan aku potong."
"Teganya." ucap Joe. sedangkan Marvel sudah mematikam ponselnya