
Setelah berbicara dengan Mba Gina, Putri keluar ruangan dia segera menemui Dewi yang saat itu sudah datang.
"Udah lam loe?" tanya Dewi.
"Lumayan."
"Loe hari ini enggak kerja dong?"tanya dewi penuh selidik.
" Males gue, sehari libur engak apa apa kali."
Para pelanggan satu persatu datang hanya untuk nongkrong atau sekedar meminum kopi. Tempat yang logis membuat para tamu suka berada di sana selain tempatnya nyaman pelayanannya juga memuaskan.
Putri yang saat itu sedang menikmati kopinya begitu terkejut setelah melihat empat pria tampan yang ingin memasuki Cafe.
"Mati gue," gumamnya. Seketika Putri mengambil majalah untuk menutupi wajahnya.
Setelah selesai meting Marvel dan tiga temannya memutuskan untuk nongkrong di Cafe tersebut.
Meja maling pojok menjadi pilihan mereka
salah satu pelayan menghampirinya dengan membawa buku menu di tangannya.
Setelah memilih beberapa kopi dan cemilan mereka kembali berbincang bincang. Tanpa sengaja manik mata kecoklatan tesebut menangkap seorang perempuan cantik sedang menutupi wajahnya dengan sebuah majalah yang ada di atas meja, Marvel terus saja memperhatikannya ada apa dengan wanita itu?
Dewi yang tidak tau dengan situasi yang Putri alami dengan santainya merebut majalah dari hadapannya.
"Apa yang loe lakukan," Putri merebutnya kembali dia ingin segera menutupi wajahnya lagi namun sayang Marvel sudah melihatnya.
"Mati dah gue!" umpat Putri
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dewi dengan wajah yang bingung.
"Majikan gue di sini," bisiknya dengan pelan.
"Mana." Dewi ingin mencarinya namun segera di tahan oleh Putri.
"Jangan menengok, dia di meja paling pojok."
Marvel yang sudah mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah pelayan rumahnya segera menghampirinya.
"Mau ke mana loe?" tanya bian
"Sebentar," jawab Marvel berlalu pergi.
Langkah kaki Marvel semakin mendekat membuat Putri semakin gelisah.
"Saya sedang menemui sahabat saya Tuan," jawab Putri sambil tersenyum. Di rasa situasi saat ini sedang tidak baik Dewi segera mungkin melarikan dirinya.
"Gue ke sana dulu ada yang memesan minum," ucap Dewi melangkah pergi.
"Anda tidak melupakan pekerjaan anda bukan," selidik Marvel.
"Mana mungkin aku melupakannya Tuan." jawab putri dengan cepat.
"Lalu kenapa kau tidak datang hari ini?" tanya Marvel dengan sorot mata yang begitu tajam.
Putri menelan seliva nya dengan kasar, lalu berusaha tersenyum dia bingung harus menjawab apa.
"Ikut dengan ku," sentak Marvel membuat Putri kaget.
__ADS_1
Laki laki tampan tersebut bangun dari duduknya menarik tangan putri agar mengikuti langkahnya.
Zoe. Bian dan Tian yang sedari tadi memperhatikan Marvel merasa bingung dengan sikap temannya itu.
"Kenapa si kampret narik narik gadis itu?" tanya Tian.
"Entahlah," jawab Bian.
"Sepertinya gadis itu pelayan rumahnya," ucap Zoe yang sedari tadi diam.
"Oh iya," sambung Bian.
Zoe hanya diam ia malas menimpali ucapan Bian yang tidak ada abis nya.
"Kita di tinggal begitu aja," seloroh Tian yang baru menyadari Marvel sudah tidak ada di sana.
Putri yang saat ini sudah berada di dalam mobil hanya diam dengan pikiran yang bingung. kenapa Marvel begitu marah hanya karna dia tidak masuk kerja.
"Kamu pikir saya mengaji kamu murah, hah!"bentak Marvel.
"Saya tidak dapat gaji, saya hanya mengantikan Bi Darni Tuan," jawab Putri sambil menunduk.
"Siapa bilang kamu tidak di gaji?"
"Hah! apa itu artinya saya dapat gaji," ucap Putri senang.
"Saya tidak berkata seperti itu."
Putri mendengkus kesal berdebat dengan pria kaya hanya membuat darah tingginya naik lebih baik dia diam.
__ADS_1