Menikah Dengan Majikan

Menikah Dengan Majikan
extra part


__ADS_3

Dengan inpormasi yang dia dapat Zoe sudah berada di kediaman Arel, pintu di ketuk dengan sangat kencang namun tidak ada yang membukanya hal itu membuat Zoe semakin kesal.


"Dobrak pintunya," ucap Zoe dengan kemarhaan, salah satu orang yang di bawa menendang pintu dengan sangat kencang, untung dia bawa orang jika tidak, dia tidak akan sanggup untuk menendang pintu, melihat usianya yang sudah terlihat tua.


Suasana di dalam sana begitu sepi, semua orang yang Zoe bawa berpencar untuk mencari keberadaan Arel, namun tidak ada satu orang pun yang menemukan nya, tidak akan ada yang bisa menemukannya saat ini karena Arel dan Laura sudah berada di Belanda saat ini.


Saat Arel sedang membereskan jasnya untuk dia kenakan besok di acara yang dia harapkan, sebuah telpon membuat arel menaruh jasnya kembali.


Telpon sudah di angkat namun dia begitu terkejut memdegar jika ibunya sangat kritis.


"Baik, aku akan segera ke sana," Ucap Arel langsung mematikan ponselnya.


Teriakan Arel terdengar karena di memangil Lauren,


"Tidak perlu berteriak," ucap Lauren kenal.


"Segera berkemas malam ini juga kita pergi," ucap Arel sambil memasukan barang barangnya ke dalam koper.

__ADS_1


"Pergi ke mana?" tanya Lauren heran.


"Ibu kritis, segera bergegas."


"Owh astaga,"ucap Lauren dia langsung lari ke kamarnya.


"Lauren!" Teriak Arel sambil menyeret kopirnya.


"Sebentar lagi kak!" Teriak Lauren pula.


Mendengar kabar jika ibunya keritis dan sangat kecil harapannya untuk selamat membuat hati Lauren dan Arel begitu terpukul. Dari kecil dia hanya hidup bertiga tanpa adanya sosok ayah, entah di mana pria itu berada dia sama sekali tidak perduli yang dia pikirkan hanya ibu dan adiknya saja.


"Bagai mana dengan acara pertungan kak?" tanya Lauren ingin tahu.


"Biarkan saja, dari awal hubungan aku dengan Maura sudah tidak baik baik saja semenjak adanya tante Mery."


"Apa Maura sudah tahu tentang tante Mery?" Tanya Lauren lagi.

__ADS_1


"Tidak, tapi sekarang aku yakin keluarga Maura sedang mencari kita, walau bagai mana pun keluarga Maura bukan orang sembarangan."


"Aku sangat yakin Maura pasti membenci kakak, " ucap lauren. Arel bersadar di kaca, pikirannya menerawang jauh, entah perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Aku harap ibu Baik baik aja," ucap Lauren.


"Semoga, dan jika terjadi sesuatu dengan Ibu kita harus kuat," Ucap Arel merangkul adik kesayangannya itu.


Semua orang pasti akan mengalami yang namanya kehilangan, cuma bagai mana menyikapi nya saja yang berbeda, rasa rindu pasti akan datang, dengan seiringnya waktu semua akan terlihat baik baik saja.


"Bagai mana dok keadaan ibu saya," ucap Arel. Lauren mendengarkan dengan keadaan cemas.


"Saya harap bapak bisa menerima kenyataan," ucap dokter dengan menepuk bundak arel.


Arel merangkul Lauren yang hampir saja jatuh akibat terkejut, tatapan mata dia juga kosong. pengorbanan dia hanya sampai di sini saja ternyata, namun walau begitu dia sama sekali tidak menyesal.


"Apa kami sudah boleh melihat," ucap Arel.

__ADS_1


"Silahkan pak, saya tinggal sebentar," ucap dokter melangkah pergi. Sebelum masuk Arel dan lauren menarik napas mempersiapkan diri untuk melihat jenazah ibunya.


__ADS_2