
Bi Darni bersama Bian masih setia menunggu dokter Rian keluar, tidak lama kemudian dokter Rian keluar dengan senyum di wajahnya. Dengan cepat Bian dan Bi Darni menghampirinya.
"Bagai mana keadaan anak itu? apa dia sudah sadar?"tanya Bian cemas.
"Tidak perlu cemas dia baik baik
saja," ucapnya manik mata dokter Rian mencari keberadaan Marvel.
"Apa Bibi sudah boleh melihat Putri?"ucap Bi darni ijin kepada dokter Rian.
"Sudah Bi silahkan,"jawabnya tersenyum.
"Dimana Marvel?" tanyanya setelah bi Darni masuk.
"Entahlah, mungkin dia masih meting, gue hubungi sama sekali tidak diangkat," jawabnya kembali duduk.
"Coba hubungi sekali lagi, ada yang gue mau omongin sama dia," suruh Rian.
"Apa ada yang serius?"
"Tidak, ini kabar gembira," ucap rian membuat bian menggerutkan alisnya.
Marvel yang sudah selesai meting mendaratkan boķong di kursi kebesaran miliknya dia mengerakan otot otot menghilangkan rasa pegal ditubuhnya dia memejamkan mata senentar. Dering ponsel membangunkan dirinya.
"Ada apa si" ucapnya setelah mengangkat telpon dari Bian.
"Nggak usah sewot gitu, gue cuma mau ngabarin kalau istri loe sekarang berada dirumah sakit," ucal bian.
"Dirumah sakit? ada apa sama Putri? gue segera kesana,"ucapnya panik lalu
__ADS_1
bangun dari duduknya. Marvel berjalan keluar ruangan dengan tergesa gesa. Zoe yang melihat langsung mengejar bosnya itu.
"Ada apa bos?" tanyanya sembari mengikuti langkah kaki marvel.
"Putri masuk rumah sakit, Loe urus proyek yang berada di ujung kota gue engak bisa kesana," imbuhnya lalu masuk kedalam mobil.
Zoe menganguk mengerti.
Putri yang sudah sadar belahan lahan membuka matanya, dia menatap sekeliling ruangan manik matanya tertuju kepada Bu Darni yang sedang duduk disampingnya.
"Bi."pangilnya lirih.
Mendengar suara Putri Ni Darni mendongkakan kepalanya.
"Put, kamu sudah sadar? apa ada yang sakit? tanyanya membelai rambut panjang Putri dengan nada kawatir.
''Dokter Rian Putri sudah sadar," pangilnya. Dokter Rian melangkah masuk diikuti Bian dibelakangnya.
"Kalau ada Marvel gue yakin elu nggak akan boleh menyetuh istrinya ini," celetuk Bian mendekati Putri.
"Kakak."pangil Putri tersenyum.
Bian membalas senyuman putri.
"Apa yang kamu rasakan?" tanyanya mendekat.
"Aku hanya pusing kak, badanku ini rasanya lemas sekali," jawabnya lirih.
"Put, Bibi tinggal untuk membeli makanan, kamu bersama Tuan Bian terlebih dahulu,"
__ADS_1
Marvel yang baru turun dari mobilnya segera berlari memasuki rumah sakit. Tadi Bian sempet memberi tahu nomor kamar jadi tidak sulit untuk menemukannya.
"Sayang!"pangil Marvel lalu mendekati Putri dan mencium keningnya.
"Apa masih ada yang sakit?"tanyanya. Manik matanya menyusuri bagian tubuh Istrinyan itu.
"Aku masih pusing,"rengeknya manja.
Kini bola mata Marvel menatap tajam ke arah Rian minta penjelasan kenpa istrinya itu. Dokter Rian yang mengerti tatapan Marvel kini mendekati sepasang suami istri itu.
"Putri baik baik saja. Untuk seseorang yang sedang hamil muda mengalami seperti ini sudah biasa. Hanya saja perlu istirahat yang lebih banyak lagi, tidak boleh terlallu lelah,"ucap dokter Rian menjelaskan.
Putri yang mendengar penjelasan dokter Rian tersenyum senang.
"Aku hamil Dok?" tanyanya memastikan. Dokter Rian mengangguk.
"Sayang aku hamil," ucap putri begitu senang.
Marvel menatap dokter Rian.
"Apa kau tidak salah?" Selidik Marvel kepada Rian.
"Kau meragukan kemampuanku," ucap rian dengan nada kesal.
Mendengar perkataan dokter sekaligus sahabatnya itu Marvel seketika tersenyum dengan senangnya.
"Makasih sayang, makasih, aku sangat bahagia mendengarnya," ucap Marvel lalu mendaratkan bibirnya menyentuh bibir munggil istrinya itu.
Salah satu kebahagian bagi seorang istri adalah mempunyi seorang anak, namun bukan berati tidak mempunyi anak tidak bahagia.
__ADS_1