Menikah Dengan Majikan

Menikah Dengan Majikan
extra part


__ADS_3

Hari ini Edwin sudah bertekat untuk mendekati Maura secara langsung dia sudah cape bersembunyi dari kejauhan untuk memandangi kecantikannya sekarang saatnya untuk menampakan diri toh selama ini dia sudah tidak melihat kekasih Maura lagi, Edwin berpikir jika Maura sudah berakhir dengan pacarnya itu.


motor yang dia pakai dia nyalahkan dengan mudah mungkin ini hari keberuntungannya biasanya setiap kali dia memakai motor selalau saja menyusahkan. helm di kenkaan dia berniat mencari Maura di cafe yang biasa Maura datangi.


Edwin langsung masuk begitu saja dia berjalan mendekati bangku yang paling dekat dengan jendela, seorang paparaji mendekatinya sambil membawa buku menu.


"Aku mau kopi tanpa gula," ucap Edwin. menikmati kopi pahit sambil menunggu bukan ide buruk. Edwin memainkan ponselnya sambil menunggu.


Sudah beberapa menit berada di sana namun Maura belum juga datang apa dia salah mengira, tapi dia sangat yakin jika Maura akan datang.

__ADS_1


Maura memang berniat ingin datang ke cafe hanya sekedar menikmati kopi dan sepotong kue namun baru saja dia keluar rumah sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya, Maura hanya diam berdiri sambil melihat pria yang turun dari mobil berwana hitam itu, apa dia harus senang atau marah melihat pria yang dia rindukan sudah kembali. Arel mengambil seikat bungga yang tadi sempat dia beli di pinggir jalan dia berjalan menghampiri Maura dengan senyum menawanya.


"Hai," sapa Arel, entah kenapa dia merasa sangat bersalah melihat wajah Maura.


"Mmm kau masih ingat rumah ku rupanya," ucap Maura dengan ketus, dua minggu tidak menghuhunginya membuat Maura begitu marah.


"Maaf," Arel menyerahkan seikat bungga berwana merah sambil terseyum. Maura menyambar bunga tersebut dengan kekesalan di hati.


"Jangan bicara seperti itu," ucap arel mengikuti langkah Maura, dia menarik tanggan Maura saat gadis itu hendak masuk ke mobilnya.

__ADS_1


Maura tersenyum sinis, dia mulai meragukan cinta arel, apa pria itu benar benar mencintainya atau memang hanya sekedar bermain main saja. walau pun dia begitu mencintai arel dia harus tetap berhati-hati apa lagi kasus yang menimpa isabel membuat dia harus pintar pintar menilai pria. Mungkin dia harus mempercayai ayahnya jika banyak bajingan di luar sana.


"Lepas," ucap maura.


"Hai, aku mohon maafkan aku, aku tau aku salah jadi maafkan aku, aku tidak menghubungi kamu agar pekerjaan aku cepet selesai dah cepet kembali agar aku cepet bertemu dengan mu," ujar arel. Maura diam saja lalu langsung memeluk arel sesungguhnya dia begitu merindukan arel. Arel membalas pelukannya dia merasa Maura memeluknya begitu erat.


"Kapan kamu kembali?" tanya Maura.


"Baru saja, dari bandara aku langsung ke sini," dustanya, padahal dia sudah menghabiskan waktu semaleman dengan tante mery, walau pun pikirannya berkata tidak mau namun tidak dengan tubuhnya setiap tante mery menyentuhnya ada rasa yang sulit di ungkapkan.

__ADS_1


Selama ibunya belum sembuh dia akan tetap menjadi sempanan tante mery kalau tidak dari mana lagi dia akan mendapatkan uang untuk perawatan ibunya. keputusan yang dia ambil salah atau tidak dia tidak tau.


Dagu Maura di angkat tidak lama kemudian arel langsung mendekatkan bibirnya mereka berciuman dengan mesra menumpahkan rasa rindu yang membuncah, ciuman mereka terlepas tapi tidak berlangsung lama karena mereka berciunn kembali namun kali ini ciumannya penuh napsu saat arel mengusap tengkuk Maura bunyi kelakuan mobil mengagetkan mereka berdua.


__ADS_2