
Setelah Tian mengatakan bila Jeny yang menyuruh seseorang untuk mencelakakan Putri Marvel diam diam menghubungi Jeny tanpa sepengetahuan Putri. Ia ingin tau kenapa Jeny ingin membunuh putri dan bayinya.
Jeny begitu senang ketika melihat nama Marvel yang menghubunginya.
"Akhirnya kau menghubungi ku," ucap Jeny setelah mengangkat telpon nya.
"Aku tidak mau basa basi, temui aku di Cafe Delima jam delapan malam," ucap Marvel dengan datar.
"Tunggu aku, aku pasti datang," ucap Jeny begitu senang.
Ponsel sudah di tutup dan di simpan kembali, saat itu Jeny sedang berada di sebuah kamar hotel dengan seorang pria. setelah mendengar bunyi ponselnya dengan cepat menyambar beda pipih tersebut sambil mengikat tinggi rambutnya yang tergerai.
Setelah menghubungi Jeny, Marvel menghampiri Putri yang sedang berbincang dengan Dewi.
"Sayang aku ada urusan, tidak apa kan aku tinggal sebentar," ucap Marvel membelai rambut Putri.
"Ia kak, tapi kamu Mau ke mana?" Putri mendongkak menatap wajah Marvel.
"Mau bertemu Tian, hanya sebentar."
"Kamu jangan pergi sebelum aku kembali," ucap Marvel pada Dewi. Sebelum melangkah pergi Marvel mencium kening Putri terlebih dahulu.
Dewi hanya mengangguk menatap kepergian Marvel.
"Hubungan loe sama Zoe gimana?" tanya Putri setelah Marvel pergi.
"Hubungan apa? gue engak ada hubungan sama dia."
__ADS_1
"Lantas, selama ini?" tanya Putri dengan wajah yang heran.
"Entah lah gue juga engak tau."
"Tapi loe naksir kan," goda Putri.
"Engak," jawabnya namun wajah nya sudah bersemu merah.
"Cie, Loe naksir kan, kalau engak ngapa muka loe merah gitu." ujar Putri sambil terkekeh.
"Rese loe."
"Jujur aja sama gue mah."
"Tanpa gue jawab loe udah tau jawabannya." jawabnya sambil cemberut.
"Ada bahan bahannya engak, kalau ada gue bikin,"
"Tau, coba loe liat," ucap Putri, Dewi melangkah menuju lemari pendingin.
Di dalam lemari pendingin hanya ada beberapa sayur sayuran dan buah.
"Loe tunggu aja, gue yang bikin," ucap Dewi.
Bi Darni yang kebetulan berada di dapur segera menghampiri Dewi.
"Mau buat apa Dew?"
__ADS_1
"Bikin seblak Bi."
"Bibi bantu, jangan terlalu pedas buat nya Putri di larang makan pedas sama Dokter Rian."
"Ia Bi, engak pakai cabai."
"Pakai aja dikit," Teriak Putri dari arah ruang tamu.
"Engak engak nanti bibi yang di marahin Marvel."
"Emang engak ngerti di bilangin tuh anak." seloroh Dewi yang sedang mencuci sayuran.
Dengan di bantu Bi Darni tiga mangkuk seblak sudah terhidang di atas meja.
"Kok sama sekali engak berasa pedas."
"gimana mau pedas, satu cabe aja gue engak kasih." jawab Dewi. Putri hanya memanyunkan bibirnya.
Mobil yang di kendarai Marvel sudah tiba di tempat tujuan. Tanpa membuang waktu Marvel turun menghampiri Jeny yang sudah duduk menunggu. Jeny begitu senang melihat Marvel berjalan ke arahnya.
"Aku pikir kamu tidak jadi datang," ucap Jeny seraya mencium bibir Marvel namun Marvel dengan cepat menghindar.
"Aku tidak mau basa basi," Marvel menarik bangku lalu duduk Jeny pun duduk kemvali." jadi katakan. Apa maksud kamu mencelakakan Putri," ucap Marvel menahan amarah.
"Apa maksud kamu? aku engak ngerti." ucap Jeny dengan wajah yang tenang.
"Tidak perlu berbohong, aku sudah tau apa yang kau lakukan, bila kamu berniat mencelakakan istri dan anak ku lagi. aku harap kamu jaga baik baik nyawa mu." setelah berkata demikian Marvel bangun meninggalkan Jeny.
__ADS_1