
Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, Marvel sudah siap dia sednag berdiri di depan pintu karena saat itu sahabatnya sudah datang. Seorang pria turun dari mobilnya dia berjalan menghampri marvel sambil tersenyum.
"Apa aku terlambat," ucap sahabatnya basa basi.
"Tidak, ayo kita ngobrol di dalam saja," ucap Marvel. Rian melihat ke sekeliling sudah lama tidak datang ke sini tidak ada yg berubah sama sekali. Setelah putri pergi Rian memutuskan untuk pindah ke luar negri. Rasa penyesalan karena tidak bisa menyelamatakan putri membuat dia harus pergi.
Waktu semakin cepat berlalu, marvel menyambar ponselnya, dia mau menghubungi Maura, kenapa gadis itu lama sekali jangan katakan jika di lupa.
"Halo ded," jawab maura.
"Kamu di mana? sahabat dedy sudah datang," ucap marvel.
"Astaga aku lupa," ucap maura. Saat dia ingin pulang isabel dstang ke kantornya dia melupakan ucapan marvel karena ke asikan ngobrol sama isabel samapai sampai melupakan acara makan malam bersama ayahnya.
"Yasudah lain kali saja, jangan pulang terlalu larut," ucap marvel.
"Lama tidak bertemu, loe semakin terlihat tampan," goda Rian.
__ADS_1
"Loe sama sekali enggak berubah, geli gue denger omongan loe," ucap marvel.
"Maura mana?" tanya Rian yang penasaran dengan gadis itu.
"Dia sedikit terlambat, jadi kita nikmati saja malam ini." ucap marvel menyambar sepotol minuman lalu menuangnya.
Maura meletkaan ponselnya kembali, biarkan saja dedynya itu.
"Kenapa?" tanya isabel sambil memakan sepotong kue.
"Jangan bilang kamu mau di jodohkan," maura hampir saja tersedak dengan ucapan isabel.
"Tidak, mana mungkin dedy mau melakukan itu. lagi pula sekarang dedy sudah tau kalau aku sudah punya pacar, sekarang aku sudah di ijinkan untuk berpacaran." ucapnya sambil tersenyum.
"Sekarang aku mendukung ucapan paman marvel waktu itu jika tidak mengijinkan kamu untuk mengenal laki laki, jangan sampai yang aku alami terjadi juga dengan kamu, mungkin yang ada di pikiran paman marvel seperti itu dia tidak mau melihat kamu di rusak oleh seorang pria mana pun," ucap isabel sambil tersenyum getir mengigat percintaanya dengan bayu begitu bebas.
"Aku yakin bisa menjaga diri tidak seperti dirimu," celetuk maura. isabel sama sekali tidak marah dengan ucapan maura memang itu kenyataannya dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri dia sudah mengecewakan kedua orang tuanya yang begitu percaya padanya.
__ADS_1
Setelah berbincang cukup lama mereka berdua memutuskam untuk pulang isabel ikut bersamanya.
Arel yang saat itu sedang bersama seorang perempuan tampak termenung, mengapa begitu sulit untuk medapatkan restu dari marvel, Arel belum mengetahui jika marvel merestui hubungan mereka.
"Ada apa kak?" tanya adik Arel.
"Tidak, bagai mana rencana kamu sudah berhasil?" tanya arel kepada adik perempuannya.
"Tinggal sedikit lagi, hanya nunggu sebentar saja kita akan bisa membawa ibu berobat keluar kak." jawabnya." bagai mana dengan rencana kakak?"
"Enatah lah rasanya begitu sulit."
"Aku yakin kakak pasti bisa, demi ibu," jawab adiknya.
Arel terdiam apa mungkin dia bisa, awalnya dia mendekati maura hanya untuk uang namun seringnya bersama membuat dia jatuh cinta dengannya, apa maura akan membenci dirinya jika dia tahu tujuannya mendekati hanya untuk uang, membawa ibunya berobat ke luar negri membutuhkan uang yang sangat banyak, dia tidak mempunyai uang dan akhirnya memutuskan untuk mendekati maura. namun apa yang di sangka ayahnya begitu sulit untuk di dekati. teryata tidak semudah itu.
Arel masih terdiam, apa jika maura tau tujuannya dia akan di maafkan, apa mungkin akan memberinya uang untuk ke sembuhan ibunya?
__ADS_1