Menikah Dengan Majikan

Menikah Dengan Majikan
hari terakhir


__ADS_3

Jam berdetak begitu cepat hingga waktu menjelang pagi pun tiba, suasana kediaman Marvel begitu ramai itu karena kerabat serta rekan bisnis berdatangan untuk memberi ucapan duka cita.


Sementara orang yang ingin di beri kekuatan masih berada di rumah sakit sedang mengurus kepulangan jenazah.


Marvel seperti orang yang tidak punya semangat hidup, melihat wanita yang sangat di cintainya di masukan ke dalam peti, hatinya begitu sakit, separuh jiwanya hilang entah kemana.


Bian menemani Marvel mengurus jenazah, sedangkan bi darni dan Dewi berada di rumah menyambut


tamu tamu yang berdatangan untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa.


Marvel sengaja tidak lansung ke pemakaman ia menuju rumah terlebih dahulu, itu semua karena permintaan Bi Darni. Bi darni ingin sahabat serta rekan rekan kerja Marvel bisa melihat Putri untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


Selama di dalam mobil Marvel hanya diam dengan tatapan mata yang begitu kosong, Bian yang melihat begitu iba, jujur dia juga begitu sedih namun semua kehendak Tuhan tidak bisa di ubah kembali.


"Loe harus ikhlas, dia udah tenang di alam sana. Gue yakin Putri udah bahagia di sana," ucap Bian dengan begitu jelas.


"Gue engak bisa yan, gue enggak bisa hidup tanpa dia," ucap Marvel begitu lirih.


"Ini sudah takdir yang harus loe jalani, loe harus bangkit, inget ada putri kecil yang harus loe besarkan," Bian memeluk Marvel, Bian ingin menangis namun sebisa mungkin ia menahan nya, Bian enggak mau membuat Marvel terlihat semakin terpuruk. Marvel menumpahkan segala kesedihannya di pundak Bian tanpa merasa malu.


Sebuah mobil ambulan sudah tiba di kediaman nya, Bian keluar terlebih dahulu di susul Marvel, sebuah peti di keluarkan, semua orang yang berada di sana mengucapkan suka cita kepada Marvel namun laki laki itu hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun.


"Sayang, bagai mana mungkin aku bisa membesarkan anak kita sendiri, lihat dia, bukan kah kau begitu menyayanginya, lalu kenapa kau meninggalkan dia begitu cepat, aku mohon baggun,"ucap Marvel dengan isak tangis yang nyaris tidak terdengar, Marvel mengangkat jari jemari anaknya untuk menyentuh wajah Putri.

__ADS_1


Tangisan kembali terdengar ketika sebuah peti di buka, wanita tua


yang saat ini sedang berada di sebelahnya sama hancurnya dengan Marvel.


"Ibu hanya punya kamu, lalu kenapa kamu begitu cepat ninggalin ibu sayang." Air matanya sama sekali tidak bisa di tahan.


Sebuah pemakaman terbesar di jakarta menjadi tempat peristirahatan Putri, sahabat serta rekan kerja Marvel pun ikut mengantar.


Bayi mungil yang berada di gendongan Marvel di berikan kepada bu Darni, Marvel berjongkok menaburkan kembang yang sedari tadi dewi bawa, dengan perasaan sedih ia menaburkan bunga tersebut.


Satu persatu orang yang mengantrer pergi berlalu, hanya bu darni dan sahabat yang masih setia menunggu Marvel, mereka tau semua ini pasti begitu berat untuk Marvel, biarkan dia seperti ini terlebih dahulu, mereka tidak ada yang bersuara hanya diam memperhatikan Marvel yang sedang menabur bungga.

__ADS_1


"Sayang, aku sudah mengiklaskan mu, walau kamu sudah tiada namun nama mu selalu ada di hati ku, cinta dan sayang ku hanya untuk mu seorang." Satu ciuman mendarat di batu nisan.


Langkah kaki begitu terdengar meninggalkan pemakaman yang masih terlihat basah.


__ADS_2