Menikah Dengan Majikan

Menikah Dengan Majikan
Draft


__ADS_3

Lauren terbangun dia melihat jam yang berada di atas meja riasnya waktu sudah menujukan pukul satu malam, tenggorokannya terasa kering lebih baik dia turun untuk mengambil sebotol air. Manik matanya menyusuri setiap ruangan di mana kakaknya berada, langkah kakinya menuju kamar sang kakak, tanpa mengetuk Laura membuknya begitu saja, kosong yang dia lihat, lantas di mana kakaknya?


Tidak mau ambil pusing dengan sang kakak Laura kembali lagi ke kamar setelah mendapatkan air yang dia inginkan.


Lebih baik dia menghabiskan waktu untuk beristirahat sebelum kembali lagi mengurus ibunya.


Di sisi lain Arel sedang memperhatikan Maura yang terlelap di atas pangkuannya, wajah yang tenang membuat Arel semakin merasa bersalah, rambut Maura dia singkirkan karena mengenai wajah cantiknya ciuman lembut Arel berikan. Mata Maura terbuka setelah merasakan ciuman yang Arel berikan. Arel tersenyum sambil membelai wajah Maura.


"Kenapa tidak ikut tidur?" tanya Maura bangun dari pangkuannya.


"Tidak, kamu tidur kembali biar nene aku yang jaga," ucap Arel.


"Sekarang kamu yang istirahat, aku engga mau kamu ikutan sakit, tidak lucu bukan di acara pertunangan nanti kamu jatuh sakit. " Maura melangkah mendekati neneknya yang masih terlelap.


Dua hari lagi acara pertunangannya akan terlaksanan, dia harap semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikit pun.


Bagai mana dia bisa tidur jika seperti ini, bayang bayang rasa bersalah selalau menghantuinya.


Matahari mulai menampakan dirinya, Maura terbangun badannya terasa pegal semua karena dia tidur di sofa. Dia melihat sekeliling tidak ada arel di sana hanya ada nenek yang masih tertidur dengan pulas. Lalu di mana arel?


Maura beranjak dia ingin membasuh wajahnya terlebih dahulu, selama dia berada di kamar mandi Marvel datang dengan dua kantong pelastik di tangannya.


Mendegar suara berisik membuat bu darni terbagun. Wanita tua itu tersenyum ke arahnya sungguh beruntung memiliki keluarga seperti marvel.

__ADS_1


Maura keluar saat wajahnya sudah bersih. Dia menghampiri bu darni lalu mengambil segelas air untuk neneknya.


"Apa dedy tidak melihat arel?" tanya Maura melihat ke arah Marvel.


"Tidak, memang dia ada di sini?"


"Yeah, aku di temaninya semlam," Jawab Maura.


"Mungkin sedang membeli sesuatu," ucap bu darni.


Apa yang di katakan bu darni benar arel keluar hanya untuk membeli sesuatu dia enggan membangunkan Maura sebab itu dia pergi begitu saja.


"Maura nene ingin pulang sekarang, rasanya sudah tidak betah berada disini, lagi pula besok acara lamaran mu bukan, jadi nene ingin pulang sekarang," ucap bu darni. memang berada di rumah sakit sangat membosankan apalagi menciu


"Nanti ya bu, aku tanya sama dokter Toni terlebih dahulu," ucap marvel.


Walau pun dia masih terasa pusing tidak masalah nanti juga akan membaik, jangan sampai dia tidak melihat hari bahagia Maura walau pun hanya pertunangan dia tidak mau melewatkan hari bahagia itu.


Setelah berpamitan pada marvel arel kembali ke rumahnya. dia mendapati Lauren sedang menikmati sarapannya dan sudah terlihat rapi.


"Dari mana saja kak?" tanya Lauren tanpa memalingkan wajahnya.


"Rumah sakit." jawab arel menarik salah satu bangku yang berada dekat dengan adiknya.

__ADS_1


"Siapa yang sakit?"


"Nene Maura, apa yang hendak kamu bicarakan?"


sebelum dia menjawab pertanyaan sang kakak Lauren neneguk segelas air terlebih dahulu dia menghela napas sejenak.


"Dokter berkata ibu tidak akan bertahan lama."


"Apa maksud mu," arel benar benar tidak mengerti.


"Walau pun ibu sudah di oprasi kemungkinan bisa selamat itu sangat tipis, jadi dokter menyuruh aku untuk tanda tangan," ucap Lauren dengan wajah sedih.


"Jangan percaya begitu saja, umur seseorang tidak di tentukan oleh dokter, kau mengerti!"


"Tapi aku sangat takut kehilangan ibu kak," ucap Lauren dengan lirih.


"Tidak perlu kawatir dan tidak perlu takut, persiapkan diri kemungkinan apa pun akan terjadi. kehilangan memang sudah suatu takdir jadi persiapkan diri saja." ucap Arel.


Lauren mengusap air matanya yang sudah berada di pelupuk mata, dia harus kuat dia harus bisa.


"Lusa pertunangan aku dan Maura akan di laksanakan, persiapkan diri untuk bertemu dengan keluarganya dan jika ada seseorang yang menanyakan tentang ibu, kau tau bukan apa yang seharusnya kau jawab," ucap Arel membuat Lauren mengerti.


"Tapi kak, tentang tante mery!" Laura sungguh ingin tahu tentang kelanjutan hubungan Arel dan wanita tua itu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu memikirkan hal yang seharusnya tidak kau pikirkan, sekarang pergilah membeli gaun untuk acara besok," ucap Arel mengeluarkan sebuah kartu. seketika wajah lauren sumberingah sudah lama dia tidak shoping jadi jangan di lewatkan.


Kartu di ambil lalu dia berkata "Maksih kak," ciuman di pipi pun Arel dapatkan dari wanita yang sangat berharga baginya.


__ADS_2