
Jeny yang emosi langsung masuk ke dalam mobilnya. dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Dengan perasaan kesal jeny menghubungi seseorang. Tidak butuh waktu lama panggilannya sudah terhubung.
"Bagai mana? Apa kamu sudah mengetahuinya?"
"Kau terdengar tidak sabar." godanya
"Jangan membuat ku kesal Bram."
"Ck, kau selalu saja seperti ini. Tidak berubah sedari dulu." ucap Bram.
"Aku tidak butuh omong kosong mu itu, lebih baik kita bertemu di cafe kenangga."
jeny begitu marah setelah mengetahui jika marvel telah menikah. jeny menghubungi sahabat lama nya yang selalu bisa dia andalkan sebab itu jeny menyurug bram mencari informasi tentang gadis yang sudab menikah dengan marvel.
Sementara di tempat lain seorang gadis tengah kebingunag sendiri siapa lagi kalau bukan dewi.
Dewi yang sedang mengendarai sepeda motornya tiba-tiba terhenti di pinggir jalan.
motor yang sudah tua namun masih terlihat bagus itu telah mati di pinggir jalan. jalanan yang begitu sepi membuat dewi begitu takut dengan terpaksa dewi mendorongnya. matanya masih mencari orang yang tiba tiba lewat namun sayang jalanan yang sepi membuat orang engan untuk melewati jalan tersebut.
Dengan perasaan kesal Dewi mendorong pelan sepeda motornya itu. Sumpah serapah dewi keluarkan sesekali dia juga menendang sepeda motornya.
Rian yang mau menuju rumah sakit, tanpa sengaja bola matanya melihat wanita yang dia kenal.
Rian menghentikan kendaraannya. Dewi yang masih mendorong sepeda motornya kini berhenti sejenak.
Rian turun dari mobil itam miliknya. dia perlahan berjalan mendekati wanita yang sedang ngomel-ngomel sendiri.
"Ada yang bisa aku bantu?" ucap Rian dari arah belakang.
Seketika Dewi membalikan badannya seraya melihat siapa seseorang yang ingin membantu dirinya.
__ADS_1
Dewi terdiam sejenak terlihat sedang berpikir. seperti pernah ngeliat deh.
"Hai! Ko malah bengong, ada yang bisa aku bantu tidak?" ucap Rian tersenyum ramah.
"Oh iya, ini Tuan, sepeda motor saya mogok." ucap Dewi menunjuk kearah kendaraannya.
"Coba aku lihat."
Rian yang sama sekali tidak mengerti tentang sepeda motor hanya diam aja.
"Apa anda bisa Tuan?" tanya Dewi memastikan. Pasalnya laki-laki yang berada dihadapannya hanya melihat-lihat saja tanpa berbuat apapun.
Rian yang sama sekali tidak mengerti hanya mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, tanpa menjawab pertanyaan Dewi.
"Tuan!"
Rian tersenyum kearah wanita yang memanggilnya.
"Benarkah?"
"Iya, kamu tidak usah kawatir,
sepertinya kita pernah bertemu?" ucap Rian memandang wajah mulus wanita yang berada dihadapannya.
Dewi diam saja tampak mengigat-ingat.
"Tuan, apa anda kerabat Tuan Marvel?" tanyanya.
"Ya, kau benar, kamu sahabatnya Putri bukan?"
"Ia, Tuan, saya sahabatnya. sebelumnya terimakasih sudah mau membantu saya." ucap Dewi tersenyum.
Rian mengganguk tersenyum." Kamu mau kemana?"
__ADS_1
"tadinya mau kerumah Putri."
" kalau gitu bareng aja." ajaknya.
"memangnya Tuan mau kesana?"
"Tidak, aku mau kerumah sakit, sekalian saja arahnya sama." ujar Rian.
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak, ayo."ajaknya berjalan kearah mobil hitam miliknya.
***
Sementara wanita yang sedang duduk sendiri di cafe kenanga sedang mengumpat kesal, pasalnya Ia sudah menunggu setengah jam. tapi orang yang ia tunggu belum juga datang.
Bram yang baru saja tiba mencari keberadaan Jeny. Bola mata itu tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk sendiri, lalu ia berjalan melangkah mendekatinya.
"sorry, aku terlambat." ucapnya menarik kursi lalu mendudukinya.
"apa yang kamu ketahui?" tanyanya menatap laki-laki yang berada dihadapannya.
"Kenapa kau tidak sabar sekali?"
"Aku tidak mempunyai banyak waktu, jadi cepat katakan."
"Ck, aku hanya mendapatkan informasi ini." ucap Bram memberikan berkas yang sedari tadi ia bawa.
Tidak membuang waktu Jeny langsung memgambilnya. dengan cepat Ia membuka dan melihat-lihat berkas itu.
Dengan seringai penuh arti ia menaruh berkas itu kembali.
hanya seorang pembantu, tidak sulit untukku menyingkirkan nya,
__ADS_1