
berbicara sebentar dengan Bian sudah membuat dirinya sedikit țenang namun belum sepenuhnya.
Sekarang dia akan pulang terlebih dahulu menemui bi darni takut wanita paruh baya itu kawatir padanya. betul saja setelah dia sampai bi darni sudah begitu banyak bertanya padanya.
"Kamu dari mana aja, tadi Tuan Marvel ke marin mencari mu, bibi jadi kawatir takut terjadi apa apa sama kamu sayang." ucapnya kawatir.
setelah Jeny pergi Marvel mencari putri di setiap ruangannya namun tidak mendapati gadis tersebut hinga Marvel memutuskan untuk datang ke rumah bi Darni.
"Hah... Marvel ke sini Bi?"
"iya belum lama dia pergi, memangnya ada masalah apa, sampai Marvel datang mencari mu,"
"Akh tidak bi, hanya saja tadi putri tidak bekerja," dustanya.
"Ya sudah mandi sana," suruh bibi dia tidak ingin banyak bertanya lagi melihat raut wajah putri yang sedikit murung. Walaupun putri sudah bersusah payah menutupinya tetap saja bi darni bisa melihat itu. di tempat lain Marvel sedang bingung ke mana gadis itu pergi. mencari ke semua temannya pun percuma. toh dia tidak tau siapa dan di mana teman teman putri berada.
lebih baik dia menunggu besok. bila gadis itu tidak datang ke rumahnya baru dia akan datang ke kediaman bi dari lagi. pikir Marvel saat ini.
Marvel langsung membersihkan dirinya setelah tiba. hari ini begitu melelahkan. merebahkan diri di atas ranjang tujuannya saat ini.
wajah gadis itu selalu saja berada di pikirannya. entah itu rasa bersalah atau rasa apa. yang jelas membuat Marvel begitu prustasi.
__ADS_1
"Apa yang harus gue lakuin, menikahinya,"Marvel semakin prustasi membayangkan saja dia tidak pernah menikah tanpa dasar rasa cinta.
"Akhh sial," kenapa wajah gadis itu selalu saja muncul. Marvel mengambil salah satu bantal lalu menutupi wajahnya.
Sedangkan putri tengah gelisah di sela sela tidurnya.
dia takut akan terjadi sesuatu dengan dirinya. tidak menutup kemungkinan jika dia akan hamil. bila hamil apa yang akan dia lakukan. Bi Darni pasti akan kecewa padanya.
memikirkan hal ini bisa membuatnya gila. lebih baik tidur besok dia akan datang ke rumah Marvel untuk membicarakan masalah ini. Putri mengambil selimut menutupi seluruh tubuhnya sampai tidak terlihat.
Bunyi suara ponsel membangunkan anak manusia yang sedang tertidur di dalam selimut.
"Siapa si pagi pagi begini sudah nelpon," gerutu Putri meraih benda pipih yang berada di dekatnya.
"Mau sampai kapan loe cuti, mba gina udah ngomel ngomel ke gue," cerocos Dewi.
"Akh udah dua minggu ya," ucapnya bangun lalu bersandar.
"Au akh gelap." ucap dewi dengan malas.
"Engak usah sewot gitu dong," ucap Putri sambil terkekeh.
__ADS_1
"kesel gue sama loe."
"Loe sip jam berapa?"
"Jam 8."
"Ok jemput gue, gue ikut loe ke cafe," ucap Putri setelah melihat jam yang berada di dinding kamarnya.
"Ok," jawab Dewi seraya mematikan telponnya.
sepeda motor berwana pink sudah terparkir di halaman rumah yang sederhana ini.
"Cepet napa, " ucap dewi.
"Sabar nunggu bibi bentar tadi dia bilang pergi ke warung."
"Lama engak si."
"Cerewet banget loe."
"Gue takut telat,"
__ADS_1
"kalau gue pergi gk bilang takut bibi kawatir."
Setelah perdebatan yang penuh drama akhirnya mereka pergi ke Cafe. menempel kan surat di depan pintu agar bi darni dapat membacanya. menunggunya sudah terlalu lama.