
"Dewi mana Bun?" tanyanya setelah duduk di ruang tamu.
"Anak itu, selalu saja diam di dalam kamar. Entah apa yang dia lakukan di dalam sana,” papar Bunda Iren.
Putri hanya terkekeh mendengar ucapan Bunda, ia bergegas berdiri dari duduknya.
"Aku lihat Dewi dulu Bun," ucapnya meninggalkan Bunda Iren, bunda hanya menganggukkan kepalanya.
Tanpa mengetuk pintu, Putri bergegas masuk ke dalam kamar yang gelap gulita.
"Wi ...,” panggil Putri mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Mmmm," jawabnya pelan.
"Elu di mana? Kenapa gelap kaya gini sih." Putri bergegas menyalahkan lampu.
Setelah lampu menyala, Putri melihat Dewi yang sangat berantakan. Sepertinya sahabatnya ini habis menangis.
"Ada apa?" tanyanya seraya mendekati Dewi dan duduk di sisi ranjang.
Dewi hanya diam tidak menjawab pertanyaan Putri.
"Kalau elu nggak mau cerita, gue pulang deh. Gue nggak mau ganggu elu,” ujar Putri bangun dari duduknya.
Mendengar ucapan Putri, Dewi bergegas bangun dari tidurannya.
"Gue mau cerita, tapi ... gue malu," ungkap Dewi.
Putri hanya terkekeh mendengar Dewi bicara seperti itu.
"Sejak kapan Elu punya malu,” ledek Putri.
"Rese Lo!" ucapnya cemberut.
"Ada apa?"
"Mmm, Put apa salah gue suka sama—.”
"Sama siapa?" Belum sempat dewi menuruskan kata-katanya, Putri sudah memotong ucapannya.
"Menurut elu, gue suka sama siapa," umpatnya kesal.
__ADS_1
"Yaa, mana gue tau elu suka sama siapa," godanya.
"Iihh, nyebelin banget sih!"
"Hahahah,"Putri tertawa tanpa merasa bersalah.
"Tiga hari yang lalu, gue lihat Kak Biyan bersama kekasihnya. Kenapa sih setiap gue suka sama cowok, cowok itu sudah punya kekasih. Apa gue nggak pantas untuk bahagia," lirih Dewi.
Mendengar dewi berkata serius Putri menghentikan tawanya.
"Elu ngeliat Kak Biyan di mana?" ucapnya menatap intens wajah Dewi.
"Di Mall, sewaktu gue nganter bunda belanja," jawabnya.
"Mungkin kliennya Wi, bukan pacarnya, soalnya gue udah tanya sama suami gue, dia bilang Bian belum punya cewek. Yang deket sih banyak, elu tau sendiri lah, Kak Bian kan orangnya cepat akrab sama siapa aja," ucapnya mengambil salah satu bantal lalu menaruhnya di atas pahanya.
"Gue nggak tau itu pacarnya atau bukan. Perempuan itu sih kelihatan nggak suka banget sama gue, pas Kak Bian nyapa gue.”
"Kak Bian, tau kalau elu suka sama dia?"
"Belum, gue takut Dia nggak tertarik sama gue."
"Rese Lo!" umpatnya menarik rambut Putri pelan.
“Put, masa dokter Rian chat gue terus, semenjak gue ke rumah rumah Lo dianter dia."
"Terus elu tanggepin nggak?"
"Hanya sesekali gue balas.”
"Kenapa? Dokter Rian tampan kaya gitu, ya ... walaupun masih lebih tampan laki gue."
"Idih ....”
"Biasa aja kali tampang Lo!” Putri melempar bantal yang ia pegang ke arah Dewi.
"Niatnya gue kesini mau curhat, eh malah elu yang curhat sama gue."
"Kenapa? Suami Lo kurang gagah?” ledek Dewi.
"Sialan Lo!"
__ADS_1
Marvel sudah berada di dalam rumah, menunggu kepulangan istrinya sambil duduk di taman belakang.
Siska tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung menghampirinya dengan pakaian yang sangat seksi.
"Vel," sapa Siska lalu duduk berhadapan dengannya.
Melihat Siska Marvel menelan salivanya dengan susah. Bagaimana tidak, Siska memakai baju yang sangat rendah di bagian dadanya.
Walaupun Marvel sudah tidak punya perasaan apa-apa namun ia laki-laki normal. Marvel mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sis, lebih baik kamu keluar dari rumah ini. Aku tau kamu tidak mencari apartemen," seloroh Marvel.
"Kamu tega mengusir aku? Aku di sini tidak punya siapa-siapa. Hanya kamu yang aku kenal Vel."
"Aku sudah mempunyai istri, aku mau menjaga perasaannya, aku harap kamu mengerti."
"Baik, aku akan pergi dari rumahmu. Sebelum aku pergi, aku ingin memelukmu untuk yang terakhir,” ucap Siska memohon.
Putri yang sudah pulang, diam-diam melihat suaminya sedang bicara bersama Siska. Ia akan melihat sampai sejauh mana perempuan itu bertindak.
Marvel bangun dari duduknya, Siska pun bergegas bangun. Mata hitam Siska melihat keberadaan Putri, lalu ia sengaja memeluk Marvel dan tersenyum dengan licik.
Putri melihatnya dengan ekspresi datar. Seperti tidak ada api cemburu yang membakar hatinya. Ia berjalan santai menghampiri mereka.
"Apa sudah selesai?" tanya Putri setelah mendekatinya.
Marvel terperanjat kaget setelah mendengar suara sang istri, lalu ia melepaskan pelukan Siska.
"Sayang ini tidak seperti yang kamu pikir,” ucap Marvel mendekati Putri, Siska diam-diam tersenyum senang.
Putri tersenyum ke arah suaminya. "Tidak perlu kawatir, aku tidak apa-apa,” ucapnya mencium bibir Marvel secara tiba-tiba.
Marvel yang mendapatkan ciuman mendadak dari sang istri segera membalasnya. Setelah Marvel membalas ciuman itu, Putri segera melepaskan ciumannya.
"Aku tidak mau melihat perempuan ini lagi Kak," ucapnya menunjuk Siska lalu beranjak pergi.
Marvel menoleh ke arah Siska lalu menatapnya dengan tajam.
"Kemasi barang-barangmu!” perintah Marvel seraya beranjak menyusul istrinya.
,”Engga dikasih jatah deh gue," batin Marvel.
__ADS_1