Menikah Dengan Majikan

Menikah Dengan Majikan
Extra part


__ADS_3

Dewi terus saja memandangi bian yang sedang membetulkan motornya, sebetulnya bian sudah ingin menelpon bengkel namun dewi melarangnya beralasan tidak ingin merepotkan padahal seperti ini lebih merepotkan lagi.


Bian diam saja padahal dia tau dewi terus memperhatikannya sedari tadi dia teringat ucapan putri jika dewi menyukainya namun dia tidak ingin membuat dewi sakit hati jadi dia berpura pura tidak tau tentang perasaan dewi padanya.


"Kamu bisa enggak sih?" tanya dewi memastikan.


"Sedikit lagi," Bian bangun terus melihat ke arah dewi.


"Dewi," pangil bian membuat dewi membeku menatapnya jantungnya berdetak begitu kencang baru kali ini melihat wajah Bian sedekat ini.


"A ... apa," jawabnya gugup sambil membuang wajahnya ke sembarang arah.


Bian semakin ingin mengoda melihat wajah dewi yang merah merona, entah kenapa dia senang sekali mengodanya.


"lihat di wajahmu ada kotoran," ucap bian, dengan cepat dewi mengusap wajahnya namun tidak menadapati apapun.


"Masi ada, sini aku bersihkan," ucap bian. namun bukannya membersihkan dia malah memcoret pipi dewi dengan sisa oli yang menempel di tangannya.


"Sudah," ucap bian. dewi melihat wajahnya dari kaca spion setelah itu teriakannya terdengar nyaring.

__ADS_1


"Bian!"teriak dewi kesal. Bian tertawa begitu kencang membuat dewi melempar tas ke arahnya dengan kemarhaan di hati. dengan kesal dewi menigalkan bian dia tidak perduli dengan motornya lagi


"Hai tunggu, aku hanya bercanda," ucap bian mengejar dewi, dewi diam saja dia terus berjalan tanpa mendegarkan teriakan bian.


"Aku minta maaf aku hanya bercanda," ucap bian menarik tangan putri hingga menabrak dada bidangnya hal itu semakin membuat dewi gugup.


"Menyebalkan," ucap dewi mendorong tubuh bian, bian terkekeh melihat tingkah dewi yang menurutnya mengemaskan.


"Ayo aku antar," ucap bian.


"Tidak perlu," jawab dewi dengan cepat.


"Tidak, sana pergi," usir dewi. wajahnya cemberut namun tidak dengan hatinya. dia begitu senang bisa ngobrol lama seperti ini walau pun begitu menyebalkan.


Bian pergi begitu saja setelah mendegar perkataan dewi. Bian pergi bukan marah dia hanya suka menggoda saja. dewi begitu kesal melihat bian pergi meningalkannya padahal dia hanya pura pura tidak mau kenapa dia tidak peka sama sekali.


Motor di nyalahkan setelah sekian lama akhirnya hidup juga, dia menghela napas demi maura dia akan tetap datang ke sana untuk sekedar melihat.


Dewi semakin kesal melihat mobil bian berada di rumah marvel juga.

__ADS_1


"Halo Tuan," sapa dewi pada marvel walaupun mereka sudah lama kenal namun dewi sama sekali tidak merubah pangilannya. dewi memutar bola matanya setelah melihat Bian yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Tuan maura mana?" tanya dewi.


"Di kamar bersama ibu," jawab marvel. dewi pergi setelah mendapat persetujuan dari marvel.


"Asalamualaikum bi," salam dewi setelah masuk ke kamar maura.


"Waalaikumsalam, kami kapan sampai wi?"


"Baru saja bi, akh semakin cantik aja kamu sayang," ucap dewi mencium pipi maura.


"Bibi buatkan minum."


"Jangan bi nanti dewi buat sendiri aja."


Cukup lama dewi berada di sana menceritakan masa masa dia bersama putri dulu, kangen sudah pasti, tanpa terasa hari semakin sore membuat dewi berpamitan pada bi darni.


"Sering sering datang ke sini hanya sekedar melihat maura," ucap bi darni.

__ADS_1


Sebelum pergi dewi berpamitan terlebih dulu pada marvel, mata nya mencari sosok laki laki yang tadi mengodanya namun sudah tidak terlihat karena bian sudah lebih dulu pulang. bian hanya sebentar berada di sana hanya sekedar meminta bantuan marvel perihal perusahaannya yang sedang dalam masalah.


__ADS_2