
Maura menangis saat melihat bu darni terkulai lemas di atas ranjang, tangannya mengusap lembut wajah yang sudah mulai keriput itu, senyum terukir dari wajah bu darni saat membuka mata melihat Maura di dekatnya.
"Jangan menangis," ucapnya.
"Apa yang nene rasakan? bagian mana yang sakit biar aku pangil dokter Toni, nene diam jangan banyak bergerak," ucap Maura hendak berdiri namun tangannya ditahan oleh bu darni.
"Nene baik baik aja, hanya masih sedikit pusing kamu jangan kawatir," ucap bi darni lemah.
"Nene menakutkan aku, lain kali jangan seperti ini, aku tidak suka," Maura memeluk bu darni seakan akan engan untuk berpisah.
"Apa dedy menganggu?" ucap Marvel yang baru saja tiba.
Marvel meletakan makanan yang baru saja dia beli di atas meja lalu dia menghampiri dan duduk di sisi Maura.
"Maaf merepotkan kalian," ucap bu darni.
"Apa yang nene katakan, aku sama sekali tidak merasa di repotkan, jadi jangan berkata seperti itu lagi," ucap Maura tidak senang.
"Jika ada sesuatu yang ibu pikirkan sebaik nya ceritakan pada aku bu, jangan ibu pendam sendiri itu tidak baik, " Marvel sangat ingin tahu apa yang sedang ibu mertuanya itu pikirkan hingga membuatnya drop seperti ini.
"Nene jangan terlalu banyak berpikir, Maura enggak mau melihat nene seperti ini lagi," ucap Maura bangun dari duduknya dia melangkah mengambil makanan yang tadi di letakan marvel.
__ADS_1
"Apa nene mau sesuatu?"
"Tidak," jawabnya dengan cepat.
Sebuah mangga di keluarkan Maura mengupas nya secara perlahan, setelah selesai dia duduk kembali.
"Makan ini ne, agar mulut tidak terasa pahit," Maura menyuapi, dia tahu betul rasanya jika sakit apa pun yang di makan akan terasa pahit.
Di sisi lain Arel sedang menunggu adiknya di bandara, entah apa yang ingin adiknya bicarakan hingga meninggalkan ibunya di sana. Arel melambaikan tanggan saat melihat adiknya.
"bagai mana keadaan ibu? apa ada yang serius? " tanya arel saat pelukan mereka terlepas.
"Apa yang hendak kamu bicarakan hingga tidak mau bicara lewat telpon?" tanya arel heran.
"Nanti aku ceritakan, sekarang aku lelah ingin segera sampai rumah dan beristirahat," ucap adiknya.
Arel mengikuti adiknya sambil membawa sebuah koper di tangannya, mempunyi adik satu satunya membuat arel begitu menyayaginya.
Sesampainya di rumah Adiknya yang bernama Lauren langsung masuk ke dalam kamar, dia membutuhkan istirahat sebentar, walaupun arel begitu tidak sabar Tapi dia sedia menunggu.
Saat arel sedang menunggu di ruang tamu ponselnya berbunyi dia langsung menyambarnya. meliahat nama maura di sana dia langsung mengusap wajahnya dengan kasar, entah lah semenjak dia menjalin hubungan dengn tante mery dia selalau merasakan bersalah dengan maura.
__ADS_1
"Hallo, " jawab arel begitu lembut
"Haloo, sayang kamu sedang sibuk enggak" tanya Maura.
"Tidak, ada apa?"
"Nene masuk rumah sakit, kamu bisa datang kesini?"
"Tentu saja, aku segera ke sana,"
"Aku tunggu, berhati hati lah," ucap Maura.
Arel langsung bergegas menuju mobilnya dari pada dia menunggu adiknya yang sedang tidur lebih baik dia menemani Maura terlebih dahulu, bicara dengan adiknya bisa nanti.
"Bagai mana ke adaan nene?" tanya arel pada Maura.
"Sudah lebih baik, maaf menganggu waktu mu," ucap Maura tidak enak hati.
"Hai apa yang kamu katakan, aku senang menemani dirimu, lagi pula aku kawtir dengan keadaan nene sebab itu aku langsung ke sini," ucap arel.
Marvel pulang karna dia sudah seharian berada di rumah sakit sebab itu Maura menghubungi arel agar menemaninya.
__ADS_1