
Marvel yang melihat Putri belum sadarkan diri begitu kawatir. ke marahan jelas tergambar wajahnya. Siapa yang berani melakukan hal ini kepada istrinya?
Dengan cepat ia melangkah keluar menghampiri Tobi yang masih duduk menunggu Putri sadar. Rian yang melihat Marvel mendekati tobi dengan cepat rian menghampirinya itu ia lakukan agar Marvel tidak melakukan hal yang memalukan.
"Coba kau jelaskan bagai mana kejadiannya," ucap Marvel dengan sorot mata yang begitu tajam menatap Tobi, ruangan yang begitu dingin membuat Tobi merasa kepanasan.
"Ada sebuah mobil melaju dengan kencang menuju Putri, saya melihat langsung berlari menariknya," ucap Tobi mencoba mengingat kejadian itu.
"Apa kau ingat mobilnya?" tanya Rian yang ikut mendegarkan.
"Sedan warna hitam tapi aku tidak melihat nomor plat nya, mobil itu berlalu begitu kencang jadi aku tidak dapat melihatnya." seloroh tobi membenarkan duduknya.
"Apa loe punya musuh?"
"Jangan bertanya layaknya loe engak kenal gue," decak Marvel,
"Akh iya, musuh loe kan banyak," seloroh Rian sambil terkekeh.
"Yang gue bingung ...." ucapan Marvel terhenti ketika melihat tobi berdiri dari duduknya.
"Apa saya sudah boleh pergi?" tanyanya ragu ragu.
"Silahkan, maaf sudah membuat wajah mu seperti itu." tunjuk Marvel di wajah Tobi yang di penuhi memar.
Tobi hanya tersenyum sinis lalu pergi begitu saja.
Wanita yang sedang terbaring di atas tempat tidur kini perlahan lahan matanya terbuka. Bola Mata hitam itu menyusuri setiap sudut ruangan lalu tersenyum melihat Bi Darni berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Kau sudah sadar sayang," Bi Darni mengelus lembut rambut panjang Putri.
"Anak aku baik baik saja kan bi." ucapnya lirih.
"Alhamdulilah Put, Tuhan masih menjaga kamu dan dede," ucap Bi Darni mengelus perut Putri.
"Aku haus Bi."
Wanita paruh baya itu dengan sigap membantu Putri bersandar lalu mengambilkan segelas air yang berada di atas meja.
"Marvel mana bi?"
"Sedang di luar, Bibi akan panggilkan," ucap Bi Darni mengambil gelas itu kembali.
Pintu ruangan sudah di buka Marvel yang melihat Bi Darni langsung berdiri di ikuti Rian.
"Putri sudah sadar."
Mendengar itu Marvel langsung berjalan dengan senyum di wajahnya.
"Sayang," ujar Marvel mendekat.
"Apa masih sakit?" tanya Marvel mengecup keningnya.
"Anak kita?"
Jujur ia sangat takut akan terjadi hal yang buruk kepada calon beby nya mengigat darah yang mengalir cukup banyak membuat ia kawatir akan buah hatinya.
__ADS_1
"Jangan kawatir dia anak yang kuat dan hebat seperti kamu."
"Aku periksa dulu." ucap Rian mendekat.
"Semuanya baik, hanya saja mulai sekarang kamu tidak boleh banyak begerak." saran Rian.
"Bagai mana dengan Tobi?" tanya Putri kawatir.
"Dia tidak apa apa."
"Tapi ...."
"dia baik baik saja kamu tidak perlu kawatir."
"Put Bibi pulang sebentar mau mengambil barang barang kamu."
"Tidak perlu Bi," larang Putri.
"Kenapa sayang," tanya Marvel heran.
"Kamu bilang aku dan dede tidak apa apa, jadi tidak perlu menginap aku mau pulang aja."
"Walau seperti itu kamu akan tetap menginap menjaga hal hal yang tidak di inginkan. sayang."
"Biak lah."
Sementara itu di dalam kamar seorang wanita sedang berteriak Marah semua barang yang berada di dekatnya hancur berantakan.
__ADS_1
"Brengsek, Tidak boleh ada yang memiliki Marvel kecuali gue," Teriak Jeny dengan sangat kencang.