Menikah Dengan Majikan

Menikah Dengan Majikan
tinggal bersama


__ADS_3

Jendela yang terbuka membuat cahaya matahari masuk ke dalam kamar, hal itu membuat Marvel begitu kesal, siapa yang berani membuka jendela kamarnya di pagi hari?


Marvel bangun dia duduk dan melihat ke arah ranjang dimana semalem putri tidur di sana. Marvel terdiam sambil melihat ranjang yang sudah kosong dan terlihat rapih, sungguh aneh sekarang dia sudah menikah dan mempunyai istri.


Sebaiknya sekarang dia membersihkan diri sebelum gadis itu masuk ke dalam dan melihat muka bantalnya, lagi pula perutnya sudah terasa lapar. Sedangkan di bawah sana putri sedang membantu bi darni mengeringkan pakaian berdiam diri membuat putri begitu bosan tidak ada salahnya mengerjakan pekerjaan yang dulu dia lakukan.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya bi darni yang melihat putri sedang membawa keranjang pakaian.


"Kenapa bi?" Putri begitu heran melihat sikap bi darni yang menurutnya sedikit aneh.


"Nanti Tuan melihat bagai mana?" ucap bi darni dengan nada kawatir.


"Lah, memangnya kenapa bi." Ucap Putri dengan heran.


"Nanti dia melihat dan marah bagai mana, kamu kan istrinya masa mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu bibi."


"Sebelum menikah dengannya, aku memang sudah mengerjakan ini semua kan bi, jadi tidak perlu kawatir." Ucap putri sambil membawa pakaian yang sudah di keringkan untuk di jemur.


Putri menghentikan kegiatannya setelah melihat marvel namun itu hanya sesaat setelah itu putri melakukan pekerjaan nya kembali, bibi yang melihat langusng mengambil alih pekerjaan putri.

__ADS_1


"Ada apa bi?" Tanya putri yang bingung melihat bibi tiba tiba merebut keranjang yang ada tangannya.


"Layani dulu suami kamu put," ucap bi darni dengan tegas.


"Dia bisa sendiri bi," jawab Putri membantah.


"Walaupun dia bisa sendiri, tapi kamu harus tetap melayaninya, jadilah istri yang baik," ucap bi darni membuat Putri melangkah menghampiri Marvel yang saat itu sedang duduk di beja makan.


"Apa Ada yang Tuan butuhkan?" Tanya Putri kepada Marvel. Jujur dia bingung harus memanggil marvel dengan sebutan apa, apa dia harus panggil kakak seperti yang dia lakukan ke pada bian, akh entah lah. Biarkan saja mengalir seperti ini. Marvel saja sepertinya tidak keberatan.


"Buatkan aku teh," ucap Marvel tanpa melihat ke arah Putri.


Secangkir teh dan sepotong roti putri letakan di atas meja, putri ingin meninggalkan marvel dan meneruskan pekerjaannya, namun marvel lebih dulu menahannya.


"Kamu mau ke mana?" Tanya marvel .


"Meneruskan pekerjaan ku," jawab Putri, sejujurnya putri begitu kesal dengan Marvel akibat perbuatannya membuat dia harus meningalkan masa remanjanya


"Temani aku sebentar." ucap marvel.

__ADS_1


"Biasanya juga sendiri," celetuk Putri membuat bi darni menoleh ke arahnya, dengan cepat bi darmi mendekati Putri.


"Put, jangan seperti itu," tegur bi darni.


"Tuan, setelah pekerjaan saya semuanya beres, saya berniat akan pulang," ucap bi darni.


Putri yang mendengar langsung mendekati bi darni, bagai mana mungkin dia bisa meningalkan bibi di rumah sendiri.


"Bila bibi pulang aku juga ikut, aku engak mau di sini tanpa bibi." Ucap putri menatap bi darni.


"Jangan Put, kamu sekarang sudah menikah, sudah seharusnya kamu mengikuti suamimu."


"Tapi bi, ak ..." ucapan putri terhenti ketika melihat Marvel berdiri dari duduknya.


"Mulai sekarang bibi tingal di sini bersama kami," ucap Marvel berjalan keluar.


"Tapi Tuan."


"Engak ada tapi tapi'an," seloroh putri berhambur memeluk bi darni.

__ADS_1


"Makasih Tuan," ucap Putri namun marvel berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


__ADS_2