
"Terserah kamu, mau percaya atau tidak! Yang jelas aku sudah menikah!"
"Maaf, aku tidak tau kalau kamu istri Marvel," ujar Siska kepada Putri.
Kenapa aku bisa tidak tau hal ini, bodoh!
"Tidak apa-apa," jawabnya tersenyum.
"Boleh aku ikut sarapan bersama kalian?" tanya Siska.
Marvel menoleh ke arah istrinya, sampai dua manik mata itu bertemu. Putri menganggukkan kepalanya pelan, dibalas senyuman oleh suaminya.
"Boleh dong, ayo silakan. Tidak apa-apakan duduk di sana?" Marvel menunjuk kursi di sebelah Bu Darni.
"Tidak masalah," ucap Siska seraya duduk di sebelah Bu Darni lalu tersenyum penuh arti.
"Vel, apa aku boleh tingal di sini?"
Uhuk ... uhuk ... uhuk ....
Pertanyaan Siska sontak membuat Putri tersedak. Dengan sigap, Marvel memberikan segelas air putih ke arah istrinya. Putri segera meraihnya dan meneguk minuman itu.
"Pelan-pelan, Sayang," ucap Marvel lembut.
Putri mengulas senyum untuk mewakili jawaban dari perhatian suaminya. Merasa sedikit terganggu dengan pertanyaan Siska, ia menatap intens wanita yang duduk tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Aku bingung harus tinggal di mana. Rumah Dedy yang di Jakarta sudah dijual, aku janji tidak akan lama, sampai aku menemukan apartemen yang cocok untukku," ujar Siska tiba-tiba.
"Aku sudah selesai!" Marvel bangun dari duduknya melangkah pergi.
Putri menatap punggung suaminya itu dengan bingung. Ia yakin jika ada sesuatu yang sedang dipikirkan Marvel.
"Bu, bereskan saja, Putri sudah selesai," pintanya seraya berjalan menyusul Marvel.
Siska tersenyum dengan licik setelah kepergian Putri. Permulaan dari rencana yang ia susun, berjalan mulus, tanpa kendala apa pun.
Marvel sedang berdiri di pinggir kolam dengan pikiran yang bingung. Matanya memandang ke sembarang arah, mencoba mencari jawaban atas apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba ia merasa ada yang memeluknya dari belakang.
"Kenapa, Kak?" Putri mendaratkan kepalanya di belakang pundak laki-laki itu.
"Apa karena permintaan Siska?" ucapnya membelai lembut pipi mulus suaminya.
"Ya ... aku tidak mau membuatmu tidak nyaman dengan keberadaannya di rumah ini," ungkap Marvel.
"Aku tidak apa-apa Kak, lagi pula Siska hanya sementara saja ‘kan ,di sini.” Putri mengulas tipis.
"Kalau begitu, terserah kamu saja. Yang penting, jangan sampai mengganggu kenyamanan mu," ucap Marvel sembari memeluk tubuh sang istri.
"Cieee ... yang di apelin MANTAN," goda Putri berusaha mencairkan suasana.
"Apa sih, sayang." Marvel mencubit gemas hidung mancung istrinya. lalu merangkul pinggang ramping Putri.
__ADS_1
"Ayo Kak, kita temui Siska," ajaknya
Marvel menganguk berjalan beriringan menuju dimana Siska berada.
Siska yang sedari tadi duduk di depan televisi bangkit berdiri setelah melihat kedatangan sepasang suami istri tersebut.
"Vel, kalau aku tidak di ijinkan untuk tingal disini, aku akan mencari hotel," lirihnya.
"Duduk lah!" seru Marvel mendaratkan bokongnya di sebelah Putri yang sudah lebih dulu duduk.
"Kamu boleh tingal disini, untuk sementara waktu, hanya sementara," ucapnya penuh penekanan.
Mendengar ucapan Marvel sontak membuat Siska memeluk lengan laki-laki itu.
"Ehemm." Suara deheman Putri membuat Siska reflek melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud."
Putri hanya tersenyum, ia akan lihat sampai mana wanita ini akan menganggunya.
setelah berbincang cukup lama, Putri mengantar Siska ke kamar yang akan, ditempati selama tingal disana.
"Nona, selama anda tingal di sini, kamu tidur dikamar ini," ucap Putri membuka pintu kamar.
"makasih, Oya pangil aku Siska," selorohnya mengulurkan tangan,
__ADS_1