
Maura sangat heran setelah masuk ke kamar isabel kenapa begitu gelap apa yang terjadi dengan anak itu, Maura melangkah menyalakn lampu setalah menyala dia mengeryitkan dahi tidak mendapati isabel di sana. Maura semakin melangkan mendegar siara germicik air yang terdegar.
"Bela apa kau di sana?" tanya maura bersanadar di depan pintu kamar mandi. tidak ada jawaban membuat maura membukanya dia begitu terkejut melihat isabel begitu kacau sambil berendam memakai baju.
"Hai apa yang kau lakukan, nanti kamu bisa masuk angin?" maura menghampiri isabel dan membantunya berdiri isabel masih diam saja membuat maura begitu penasaran.
"Cepat ganti baju, kamu menyuruh aku datang ke sini bukan, jadi jangan membuat aku menunggu," ucap maura, dia sengaja berbicara seperti itu agar isabel menganti bajunya.
Maura menunggu di ranjang saat isabel menganti pakaian, maura melihat ke arahnya dengan heran isabel mendekatinya sambil menunduk.
"Ra," ucap bela lirih.
"Ada apa?" jawab Maura menatap lekat sahabat baiknya itu.
"Ra aku mau cerita, tapi aku mohon jangan bilang ke mama atau dedy, aku takut mereka marah," ucap isabel dengan serius. maura menatapnya dengan lekat lalu menganguk.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Ra aku hamil!" ucap isabel membuat maura begitu tekejut dia menutup mulutnya dengan kedua tanggannya, apa.dia tidak salah dengar kenpa bisa terjadi?
"Kenapa bisa, siapa yang telah melakukannya bel?" tanya maura, jujur dia begitu kaget.
"Bayu," lirih isabel.
"Kekasih kamu, lalu dia tahu enggak perihal masalah ini?"
"Lalu?"
"Ra, bayu pergi entah ke mana aku sudah mencarinya dan menguhubugi sahabatnya namun tidak ada yang tau ra, aku harus bagai mana ra," air mata isabel mulai mengalir dia begitu takut bayu pergi meningalkannya dan tidak mau bertangung jawab, jika orang tuanya tau bisa habis dia.
Maura memeluk isabel, sekarang dia paham kenapa ayahnya tidak mengijinkan dia menjalin hubungan dengam siapapun mungkin salah satunya seperti ini, maura menghapus air mata isabel yang terua saja mengalir, dia bingung harus melakukan apa yang pasti dia akan membatu isabel untuk mencari bayu.
__ADS_1
"Aku akan membatu kamu mencari bayu, tidak perlu takut, aku pikir auty dewi sama paman tian harus tahu masalah ini bel, walau bagai mana pun mereka harus tahu."
"Aku mohon ra jangan kasih tahu mereka sebelum aku menemukan bayu," isabel menatap maura dengan lekat.
"Tidak perlu kawatir," ucap maura.
"Terima kasih Ra," jawab isabel memeluk maura kembali.
"Kita sahabat bukan, jadi tidak perlu beterima kasih, yang kamu lakukan tadi itu tindakan bodoh! ngapain kamu seperti itu, sekarang kita akan mencari bayu smaa sama," ucap maura sambil mengambil ponselnya yang berada di dlaam tas dia akan menghubungi arel yang memang saat itu sedang menungu maura menghubunginya.
"Aku sudah lama menunggu kamu menghubungi aku," ucap arel saat sudah tersambung.
"Maaf, Arel aku tidak bisa menemui kamu sekarang aku ada pekerjaan yang tidak bisa aku tingalkam," ucap maura, isabel diam saja saat maura bicara dengan arel.
"Yasudah lain kali kita atur waktu yang tepat untuk ketemu, jangan terlalu lelah," ucap arel
__ADS_1
Ponsel di matikan, maura melihat ke arah isabel yang sudah siap, lihat saja siapa pun pria yang sudah membuat isabel seperti ini akan dia beri pelajara.