
Begitu tiba di rumah sakit, Marvel langsung mencari keberadaan Putri. Begitu melihat bian dan bi darni Marvel melangkah dengan cepat.
Bian yang melihat Marvel berjalan menghampirinya dengan cepat dia berdiri dari duduk nya.
"Mana Putri? Gimana ke adaannya?" Deretan pertanyaan Marvel layangkan. Sedangkan Bian mengusap lenggannya.
"Putri lagi di tangani, loe tenang," ucap bian menepuk pelan pundak Marvel.
"Gimana gue bisa tenang, istri gue lagi di dalam." Ucap Marvel dengan sinis mata nya melihat bi darni yang sedang duduk sambil menangis.
Suara pintu terbuka membuat mereka menoleh, melihat Rian yang muncul dari dalam sana membuat Marvel dengan cepat menghampirinya.
"Putri baik baik aja kan?" tanya Marvel menatap Rian dengan serius.
"Kita tim kedokteran minta persetujuan untuk mengeluarkan bayi dalam kandungannya." Ucap Rian dengan hati hati.
"Apa?" bi darni yang mendengar langsung mendekati Tian dan Marvel.
"Janin yang ada di dalam harus segera di keluarkan, karena cairan di dalamnya sudah pecah sedangkan putri tidak sadarkan diri.
Mau tidak mau kami harus mengeluarkan anak loe dulu." Ucap Tian menjelaskan. Bi darni yang mendengar semakin menangis.
"Apa engak ada cara lain?" Tanya Bian. Jujur dia juga takut dengan situasi seperti ini.
"Kami sudah melakukan bermacam cara namun putri belum juga sadarkan diri, bila setengah jam lagi putri belum bangun, mau tidak mau kami harus melakukan tindakan." Ucap Rian dengan serius.
__ADS_1
"Lakukan apapun, asal anak dan istri gue selamat," ucap Marvel dengan nada tegas.
"Berdoa, semoga semuanya baik baik aja," ucap Rian menepuk pundak Marvel memberi kekuatan.
Rian kembali masuk sedangkan Marvel bersandar di kusir sembari menutup wajah dengan kedua tangan nya. Sedangkan Bian menghampiri Bi darni.
Jangan sampai hal yang buruk terjadi, jujur dia tidak akan sanggup. dia tidak akan bisa hidup tanpa wanita yang dia cintai.
Melihat Putri di bawa pindah ke ruang operasi dengan wajah yang pucat, membuat bi darni tidak sanggup untuk melihatnya.
Lampu ruangan operasi sudah menyala, menandakan operasi akan segera di mulai, cemas dan takut mereka rasakan saat ini, rasa takut kehilangan kembali muncul tanpa sadar Marvel meneteskan air matanya.
sekuat kuatnya seorang lelaki pasti akan menjatuhkan air mata bila melihat wanita yang di cintanya sedang tidak berdaya.
"Selamat bro loe jadi bapak, gue jadi om," ucap Bian memeluk Marvel.
Marvel begitu senang mendengar tangisan anaknya. Namun kecemasan masih tergambar di wajah Marvel melihat ruang operasi masih menyala menandakan belum selesai.
"Apa yang terjadi?" Tanya bi darni yang melihat kegelisahan di wajah Marvel.
"Tenang bi, kita tunggu Rian keluar." Ucap Bian menenangkan.
Sudah setengah jam bayi itu lahir namun belum ada tanda tanda Rian akan keluar, apa yang terjadi?
Mereka menunggu dalam ke adaan cemas, sedangkan beberpa dokter yang berada di dalam begitu sibuk, setelah operasi selesai, keadaan Putri semakin melemah.
__ADS_1
Berapa alat sudah berada di tubuh putri, namun keadaan nya semakin melemah. Rian yang melihat keadaan Putri segera memberi tau Marvel dan yang lainnya.
Pintu kembali terbuka, dengan cepat Mereka menghampiri Rian.
"Apa yang terjadi?" Tanya bi darni.
Tian hanya diam, dia bingung harus memberi tau hal ini dari mana.
"Jawab, apa yang terjadi!" Bentak Marvel yang kesal melihat Rian hanya diam.
"Putri semakin melemah," jawab Rian membuat Marvel menarik kerah bajunya dengan kasar. bian yang melihat segera menarik Marvel.
"Jaga sikap loe, ini rumah sakit," ucap Bian kepada Marvel.
"Diam loe!"Bentak Marvel menatap tajam ke arah Bian.
Rian hanya diam, dia mengerti dengan keadaan yang Marvel alami sekarang.
Seorang suster keluar dengan terburu buru.
"Dok, keadaannya semakin melemah," ucap suster membuat Rian berlari masuk.
Mendengar itu membuat Marvel dan yang lain semakin gelisah. Ada apa dengan Putri? Pertanyaan itu ada di setiap pikiran mereka.
Sementara di dalam, para dokter sedang sibuk menangani Putri, sedangkan seorang suster keluar membawa bayi yang baru saja lahir.
__ADS_1