
sore ini awan tampak terlihat mendung seperti akan turun hujan. Namum wanita cantik terus saja berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas.
setelah berjalan sudah cukup lama akhirnya Putri tiba di taman, dia melihat bangku di sana, berjalan mendekati bangku tersebut lalu duduk di sana.
Entah kenapa dia engan pulang dan bertemu Bi Darni. dia takut bi darni mengetahui apa yang dia alami.
Menyendiri lebih baik saat ini bila pikirannya sudah kembali tenang putri akan pulang.Air matanya terus saja mengalir mengigat apa yang di perbuat Marvel ke padanya.
"Kenapa harus gue" Putri semakin terisak, air matanya terus saja mengalir tanpa bisa dia tahan. tangannya menghapus kristal bening itu yang menyusuri pipi mulusnya.
Putri menundukkan ke pala di antara kedua tangan yang berada di atas lututnya. Seketika dia terkesigap kaget setelah seseorang menepuk bahunya lembut. Putri mengangkat kepala melihat siapa yang telah menggangunya.
"Anda sedang apa di sini Nona?"
Dengan cepat Putri menghapus air matanya ia berusaha tersenyum melihat siapa orang tersebut.
"Tu ... Tuan!" ucap putri gugup, dia takut bian melihat dia sedang menagis.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini sendirian?" tanya Bian.
Bian yang melewati area taman tidak sengaja melihat Putri sedang duduk sendirian ia segera menghampirinya.
"Lagi menenangkan pikiran?" jawab Putri tanpa ragu.
"Apa aku menganggu?"
__ADS_1
"Tidak."
Tanpa di suruh Bian sudah duduk bersebelahan dengannya. reflek Putri menjauhi dirinya.
"Kenapa kau malah menjauh?" Bian menautkan ke dua alisnya.
"Saya takut ada yang melihat." seloroh Putri.
Bian terkekeh geli, memangnya kenapa bila ada yang melihat dirinya dan Putri duduk bersama.
"Sepertinya kau sedang ada masalah?" selidik Bian yang melihat raut wajah wanita cantik di hadapannya.
"Memangnya begitu terlihat ya Tuan." ucap Putri memegang wajahnya.
"Ia, kau begitu jelek bila sedang sedih," goda Bian tanpa maksud apa apa. Putri mengembungkan kedua pipinya membuat Bian ingin sekali mencubutnya.
"Kau mau apa Tuan?" ucap putri curiga.
"Mencubit Pipi mu ini." kedua tangan Bian sudah berada di kedua pipi putri.
"Aw," pekiknya.
Bian terkekeh geli melihat reaksi Putri. "Seharusnya kamu bekerja di rumah Marvel bukan? tanyanya memastikan.
Putri mengganguk,terlihat jelas jika wanita itu sedang punya masalah.
__ADS_1
"Iya Tuan."
"Jangan panggil aku Tuan, aku bukan majikan mu,"
"lalu aku harus panggil apa?"
"Sayang juga boleh," godanya lagi.
"Ikh, engak mau." ucap putri membuang wajahnya ke arah samping.
Bian tersenyum hangat. "Kau boleh panggil aku dengan sebutan kakak bila kamu mau."
"Tapi kan kamu bukan kakak aku."
"Memangnya setiap orang memanggil kakak sudah jelas kakaknya."
"engak juga si."
"Ikh dasar cabe cabean," ledek bian bangun dari duduknya.
"Enak aja."
Tidak tau kenapa berbicara dengan Bian membuat pikiran nya sedikit tenang. apa karna laki laki tersebut bisa membuatnya tersenyum?
Awan semakin terlihat mendung Hujan pun sepertinya akan segera turun, Marvel yang geram dengan tingkah Jeny tidak menyadari jika Putri sudah pergi dari rumahnya.
__ADS_1
Marvel mengusap wajahnya dengan kasar. jujur dia masih sangat mencintai Jeny. namun rasa sakit di dalam hatinya membuat Marvel membenci Wanita tersebut.
Tidak akan ada laki laki mana pun yang tidak sakit hati melihat kekasihnya sedang bercinta dengan pria lain, begitu pun dengan Marvel dia begitu marah dan membenci Jeny setelah tau apa yang selama ini Wanita itu lakukan di belakangnya.