
Laki-laki itu terbangun dari tidurnya, manik matanya mencari keberadaan sang istri.
Kemana dia? gumam Marvel.
Marvel bergegas membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama laki-laki itu sudah rapih dengan pakaian santainya. Ia sudah memutuskan, sampai tiga hari kedepan tidak masuk kekantor, semua pekerjaannya sudah ditanggani oleh Joe Asistennya.
Marvel keluar kamar menuju ruang tamu. Laki-laki itu mengambil remote dan menyalahkan televisi, lalu duduk di atas sofa.
Putri yang melihat Marvel langsung menghampiri dengan segelas teh ditangannya.
"Kakak sudah bangun? tanya Putri seraya meletakan teh diatas meja. lalu ia ikut duduk berhadapan dengan Marvel.
"Ia, Aku mencari kamu, teryata ada disini."
"Aku membantu Bi Darni membuat sarapan, apa Kakak mau memakannya sekarang?"
"Nanti saja. Apa kamu sudah sarapan?"
"Sudah, maaf, aku tidak menunggu kakak." ucap Putri.
"Tidak apa."
"Kak...apa boleh aku pergi ke makam orang tuaku lagi?"
Marvel mengerutkan keningnya "Bukannya kamu sudah kesana sebelum
hari pernikahan kita."
"Ia, tapi aku pinggin kesana lagi Kak. Apa boleh?"
"Boleh, tapi aku tidak bisa mengantar kamu, tidak apa kan?"
__ADS_1
"Iya, tidak apa Kak, aku pergi sendiri." ucapnya tersenyum.
"Biar Joko yang mengantar kamu."
"Tidak Kak, aku naik taxi aja. Lagi pula Pak Joko harus mengantar Bi Darni kepasar."
"Yasudah kamu hati-hati." pesannya.
Putri meraih tangan Marvel lalu menciumnya. Laki-laki itu hanya terdiam.
Dilain tempat. seorang wanita berteriak marah, setelah dapat kabar dari temannya. Bagai mana bisa dirinya tidak tau. Kalau Marvel sudah menikah, ia tidak terima harus kehilangan laki-laki yang selama ini Ia impikan.
Dengan cepat ia menghubungi seseorang.
"Hallo!" ucapnya ketus.
"Ada apa kamu menghubungiku." ucap seseorang dari sebrang telponnya.
"Aku mau minta bantuan mu."
"Jangan membuatku kesal." teriak Jeny.
"Baik lah, apa yang bisa aku bantu?"
"Kau cari tau, siapa istri Marvel Lee. Setelah itu kau akan terima imbalannya."
"Terdengar menyenangkan, aku suka bekerja sama dengan mu."
"Jangan membuat ku kecewa."
"Serahkan saja padaku." ucap laki-laki itu.
__ADS_1
Jeny menutup telponnya. Dia tersenyum licik.
Dia akan singkirkan siapapun yang telah merebut Marvel darinya.
Putri sudah sampai dipemakaman.
Wanita itu bersimpuh didepan makam sang ibu. Terlihat rumput-rumput sudah mulai sedikit tinggi.
Bu sekarang aku sudah menjadi seorang istri. Aku bahagia Bu bersama laki-laki yang selama ini aku cintai, Air mata Putri sudah mengalir dengan derasnya.
Ia menangis, namun tangannya tidak berhenti untuk mencabuti rumput-rumput.
Putri yakin Ibu juga pasti bahagia diatas sana.ucapnya lirih. Kini kedua matanya menatap kearah makam yang berada disebelahnya yaitu makan ayahnya.
Ayah anakmu ini sudah menikah, andai saja dirimu masih ada. Ayah akan menjadi wali ku. Air matanya tidak berhenti-berhentinya mengalir setelah mengucapkan kata-kata wali.
Putri bangun dari duduk nya.Ia bergegas untuk kembali. karna waktu sudah sore. Ia takut membuat Marvel kawatir
Marvel yang sedari tadi menunggu Putri kini mulai cemas.
Bi Darni yang sedari tadi memperhatikan Marvel kini mulai mendekatinya.
"Tuan ada apa?"
"Aku sedikit kawatir sama Putri Bi."
"Memangnya Putri belum kembali?"
Laki-laki itu hanya menggeleng.
"Ck, anak itu." Seloroh Bi Darni." Sebentar lagi pasti kembali Tuan. Jadi tidak usah kawatir."
__ADS_1
"Ia Bi."
Silain tempat Dewi yang sedang menamai Bunda Iren belanja, tidak sengaja manik matanya melihat pria yang Ia sukai. Ia tersenyum dengan senangnya. Namun senyum itu hilang begitu saja setelah melihat seorang wanita yang bersamanya Kak Biyan.