
Malam pengantin, bukankah sebutan malam pengantin itu untuk orang yang sedang memadu kasih, Menumpahkan semua rasa cinta dan kasih sayang di bawah hamparan selimut yang tebal. Namun tidak dengan Putri, benar dia sudah sah menjadi istri dari Marvel Lee namun itu hanya sebuah pernikahan bukan masalah perasaan.
Menjadi istri Marvel sama sekali tidak pernah dia bayangkan sedikit pun, namun takdir berkata lain. mungkin ini yang di namakan jodoh, tapi jodoh yang seperti apa? apa jodoh ini kan berakhir di tengah jalan seperti pasangan pasangan lainnya yang bercerai, tidak dia tidak akan melakukan hal demikian. Walupun Marvel belum ada di hatinya namun dia tidak akan mau berpisah dengannya walaupun Marvel sendiri yang meminta, perinsif putri menikah hanya sekali seumur hidup hanya maut yang bisa memisahkan bukan peceraian.
Setelah acara selesai, Putri bergegas menuju kamar, Putri sudah tidak tahan dengan tubuhnya yang lengket apa lagi make up yang menurutnya begitu tebal membuat wajahnya begitu gatal.
Putri memutuskan mandi terlebih dahulu, tidak perduli dengan Marvel yang masih saja berbincang dengan sahabat sahabatnya itu.
Memutuskan mandi dengan cepat adalah pilihannya, tubuhnya sudah sangat lelah, setelah selesai putri berniat segera beristirahat.
Putri Keluar kamar mandi masih menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya, Marvel yang saat itu sudah berada di kamar menelan slivanya dengan susah melihat putri begitu mengoda.
Setelah sahabatnya pulang Marvel masuk begitu saja ke kamar dia berniat menunggu putri di sana tapi apa yang dia lihat membuat tubuhnya bereaksi lain.
"Kamu ngapain?" tanya putri sambil menutup bagian depannya dengan tanggan.
Dengan santai Marvel mengambil handuk yang berada di lemari lalu berjalan ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Putri.
Kali ini jantungnya berdetak begitu kencang, hanya melihat putri seperti itu sudah membuat dirinya panas dingin.
__ADS_1
Putri yang kesal langsung memakai bajunya. Terserah Marvel mau ngapain dia tidak peduli yang dia ingin kan sekarang hanya tidur.
Marvel Keluar sudah mengunakan baju lengkap melihat putri yang sudah terlelap membuat Marvel menghela napasnya.
Marvel ingin membangunkan putri namun niatnya dia urungkan, biarkan lah pasti dia kelelahan.
perutnya yang terasa lapar membuat Marvel tidak bisa memejamkan matanya. Memutuskan kembali ke bawah untuk sekedar mencari makanan namun hal itu di lihat oleh bi Darni.
"Tuan apa yang sedang anda lakukan?" tanya bi darni heran.
"Mencari makanan." jawabnya santai.
Bi Darni yang sudah biasa melayani segala hal dengan sigap mengambil makanan yang berada di meja dapur.
"Sudah tidur, mungkin kelelahan Bi."
makanan yang terhidang di atas meja sudah habis tidak tersisa.
Membuat Bi Darni harus bekerja keras.
__ADS_1
"Bi, tidurlah terlebih dahulu, pekerjaan bisa dibereskan besok, ini sudah larut," ucapnya melangkah pergi.
Karena perutnya sudah terisi membuatnya begitu mengantuk. Melihat Putri tidur begitu nyenyak membuat Marvel tidak tega untuk membangunkannya. perlahan menggeser tubuh Putri agar dia bisa tidur di sana.
Sedangkan seorang pria sedang tersenyum menatap seorang gadis, Siapa lagi bila bukan Zoe.
Setelah acara selesai Dewi meminta ijin pulang pada Putri dan Marvel, namun tiba tiba Marvel menyuruh Zoe untuk mengantarnya.
Awalnya Dewi menolak, namun karena Putri memaksa akhirnya Dewi mau, lagi pula sudah larut pikirnya.
Di dalam mobil mereka hanya diam dengan pikirannya masing masing tidak ada yang memulai pembicaraan.
Dewi begitu kesal dengan sikap Zoe yang menurutnya begitu dingin. Zoe hanya mengulas senyum melihat gadis di sampingnya sedang cemberut.
Dewi meminta Zoe untuk menurunkan kaca mobilnya, dia sengaja dari pada harus berdiam seperti ini lebih baik dia memandang ke arah jalanan.
hembusan angin malam menerpa wajahnya membuat Dewi terasa ngantuk. tanpa Zoe duga gadis cantik di sampingnya ini terlelap dengan begitu nyenyaknya.
Zoe hanya mengulas senyum melihatnya.
__ADS_1
Malam yang semakin larut membuat Zoe mau tidak mau membangunkan Dewi.
"Nona, mau sampai kapan kita berada di sini?" karena Zoe tidak tau di mana kediaman Dewi memutuskan untuk menepikan mobilnya hinga waktu semakin larut.