
Setelah semuanya selesai Marvel bergegas ingin kembali ke rumahnya. dia ingin memastikan apakah gadis itu datang atau tidak.
Dengan cepat Marvel masuk lalu mencari keberadaan Putri. laki laki itu tersenyum melihat gadis yang sedang berkutat di dapur.
"Kamu sedang apa?" tanyanya seraya mendekat. Putri menoleh mendengar suara berat Marvel.
"Membuat makan siang." jawabnya singkat.
"Tinggalkan sebentar, aku ingin bicara," Marvel meninggalkan Putri menuju ruang kerjanya, sedangkan Putri mengikutinya.
"Anda mau bicara apa Tuan?" ucap Putri setelah masuk.
"duduk lah dulu."
"Saya di sini saja." ucap putri dengan sinis.
Marvel menghela napas sejenak "Aku akan menikahi mu," sontak bola mata putri membulat mendegar perkataan majikannya itu. "Aku akan bertangung jawab atas apa yang telah aku perbuat pada dirimu." ucap Marvel dengan serius.
"Tidak perlu Tuan, saya baik baik saja."
"Aku takut di dalam rahim mu tubuh benih ku, sebab itu kita akan segera menikah." terang Marvel.
Deng
Tidak, aku tidak mungkin hamil.
"Tapi Tuan!"
__ADS_1
"Tidak ada penolakan, nanti malam aku akan datang menemui Bibi Untuk melamar mu."
"Nanti malam, kenapa mendadak sekali."
"Lebih cepat lebih baik, bukan."
"Aku belum bicara pada Bibi,"
"Kamu tenang saja, Masalah bibi biar aku yang bicara."
"Baik lah," menolak pun percuma ini semua sudah ke putusan Marvel tidak bisa di ubah lagi. lagi pula jika di rahimnya benar tumbuh benih Marvel dia bisa apa.
"Saya permisi ingin menyelesaikan masakan saya," ucapnya melangkah pergi.
Selepas kepergian Putri, Marvel menghela napas mengusap kasar wajah lalu bersandar di kursi kerjanya. Mungkin ini yang terbaik buat dia, perihal perasaan cinta atau tidak itu bisa dia pikirkan nanti. yang terpenting sekarang dia bertangung jawab terlebih dahulu. Namun Marvel tidak tau keputusan nya ini akan membuat seorang wanita merasa tersakiti.
Sudah pukul satu dia belum makan siang. Perut nya sudah terasa begitu lapar. lebih baik dia segera keluar dan makan.
"Tuan pekerjaan saya sudah selesai, saya ingin menemui sahabat saya sebentar," ijin Putri setelah melihat Marvel menuju meja makan.
"Saya tunggu kedatangan Tuan nanti," ucap Putri melangkah pergi.
Marvel menatap punggung Putri yang mulai menghilang. entah lah keputusannya ini benar atau tidak. Tidak butuh lama putri sudah tiba di Cafe Anggrek, Dewi yang baru saja selesai segera mendekatinya.
"Udah selesai?" tanyanya.
Dewi hanya mengangguk melangkah mendekati meja yang kosong menarik bangku lalu duduk di sana di ikuti oleh Putri.
__ADS_1
"Loe bicara apa sama mba gina, kayanya serius banget?" ucap dewi ingin tahu.
"Kepo banget loe."
"Rese loe."
"Gue resain dari Cafe." lirih Putri.
"What ... loe berhenti," ujar Dewi yang terkejut.
Putri menganguk dengan kepala menunduk, dia tidak berani menatap sahabatnya itu. bisa di pastikan bila melihat wajahnya wanita itu pasti akan mengetahui raut wajah sedihnya.
"Kenapa loe mau keluar?" tanya dewi
"Kan loe tau, gue kerja mengantikan Bi Darni, mana bisa gue kerja di Cafe lagi."
"Enggak mungkin kan loe kerja selamanya menjadi pembantu."
"Mungkin aja, sekarang aja gue sudah engak bisa lepas darinya."
"Maksud loe?" ucap Dewi mengerutkan alisnya bingung.
"Gue sebentar lagi akan menikah," lirihnya sendu.
"Menikah? loe mau menikah, sama siapa?"cecar Dewi yang terkejut dengan ungkapan Putri.
Tanpa di duga air mata Putri menetes membasahi kedua pipinya. melihat itu sontak membuat Dewi heran. apa yang telah terjadi?
__ADS_1