
Putri mengeliat pelan manik mata nya perlahan lahan terbuka, setelah terbuka sempurna dia begitu terkejut melihat Marvel sudah berada di sampingnya. Putri duduk dengan cepat menetralkan rasa terkejutnya.
"Tuan sudah baikan?" tanya Putri.!
"Seperti yang kau lihat, kenapa kau tidur di sini?" Marvel menatap Putri begitu intens.
"Saya takut terjadi sesuatu kepada anda, bila terjadi apa apa nantinya saya takut di salahkan dengan keluarga anda," celetuk Putri asal.
"Gadis yang lucu," gumam Marvel pelan.
"Tuan saya sudah menghubungi dokter keluarga, mungkin sebentar lagi akan datang," ujar Putri merapihkan rambut nya yang berantakan.
Sebelum Putri ketiduran ia sempat menayakan dokter keluarga Marvel kepada bi darni melalui ponselnya. Tanpa di perintah Putri sudah menghubungi dokter Rian.
"Tuan, sepertinya dokter Rian sudah datang," ujar Putri yang mendengar bunyi suara bel.
"Hem." jawab Marvel.
"masuk lah, Tuan ada di dalam," ucap Putri setelah membukakan pintu, Rian hanya diam memikirkan siapa gadis cantik ini.
Dokter Rian hanya mengganguk, siapa wanita itu, apa dia kekasih marvel?
__ADS_1
"Kenapa loe?" tanya Rian memeriksa beberapa bagian tubuh Marvel.
"Loe ke capean maka nya kerja jangan terlalu di porsil, perusahan milik sendiri juga, nih gw kasih obat jangan engak di minum." cerocos Rian.
Putri kembali dengan segelas air di tangan nya dia berdiri tidak jauh dari dua pria tampan tersebut. Rian yang melihat Putri berdiri seketika ingin mengoda sahabatnya tersebut.
"Nona tidak perlu kawatir, kekasih nona tidak apa-apa dia hanya perlu istirahat," goda Rian kepada Marvel membuat Putri terkejut dengan ucapannya.
"Sa ... saya bukan kekasihnya." celetuk Putri. Rian menatap marvel dengan wajah yang sulit di artikan.
"Saya pemisi." Putri meletakan gelas di atas meja dan berlalu begitu saja.
"Kalau dia bukan kekasih loe, lalu dia siapa?" tanya Rian setelah Putri tidak terlihat. Entah kemana perginya.
"What! loe engak salah, gadis secantik dia loe jadiin pembantu." Marvel hanya diam tidak menanggapi ucapan sahabatnya tesebut.
"Kalau di bagi gue juga mau," celetuk Rian.
"loe kira dia gorengan, udah loe pergi gue mau istirahat," Marvel mengusir Rian dengan mengibas gibaskan tangannya.
Putri yang sangat mengantuk memutuskan untuk tidur di kamar bi Darni, tidak peduli lagi dengan dua pria yang sedang berada di ruang tamu tersebut.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama Putri pun sudah terlelap, sementara Marvel kembali ke kamarnya setelah minum obat yang di berikan oleh Rian.
Sementara di tempat lain, bi darni begitu kawatir dengan ke adaan putri, sudah jam segini tapi putri belum juga pulang, apa terjadi sesuatu dengan Tuan Marvel.
Putri tadi sempat menghubunginya tetapi ia tidak bilang jika tidak pulang. Dari pada terus terusan kawatir lebih baik ia menghubungi Marvel untuk menanyakan Putri. Menghubungi gadis itu pun percuma nomor nya sedang tidak aktif.
Marvel yang sudah berada di kamarnya kini hendak pergi ke kamar mandi.
namun niatnya ia urungkan setelah mendengar ponselnya berbunyi dengan cepat ia mengambil benda pipih tersebut dari atas meja.
melihat nama bi darni yang menempel di ponselnya dengan cepat ia mengangkatnya.
"Ada apa? " jawab Marvel.
"Tuan, maaf saya menggangu tidur anda," ucap bi darni setelah panggilannya di angkat." Apa Putri sudah pulang?" tanyanya kemudian.
"Putri?" Marvel malah balik bertanya.
"Ia, gadis yang mengantikan saya."
"Oh gadis itu bernama Putri." Marvel bicara dalam hatinya.
__ADS_1
"Gadis itu malam ini tidak pulang Bi, dia ketiduran," jawabnya.
"Ya sudah bila seperti itu, maafkan bibi ya Tuan," ucap Bi Darni yang tidak mau banyak bertanya lagi, ia akan menanyakan masalah ini besok saja bila Putri sudah kembali. setelah panggilannya terputus Marvel segera masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.