
Berada di rumah sakit membuat Putri merasa mual, bau obat yang begitu menyengat membuat di ingin muntah. Usia kandungnya memang sudah tujuh bulan namun rasa mual masih sering datang menerpanya.
"Apa sudah baikan," ucap Marvel seraya memijit tengkuk Putri.
"Belum," jawabnya sinis. Putri merasa kesal dengan suaminya itu yang masih saja melarang dia untuk pulang ke rumah.
Putri berjalan menuju ranjang dengan di bantu Marvel.
"Iya, hari ini kita pulang," ucap Marvel membuat Putri membalikan badannya.
"Serius."
"Iya. sayang." Putri langsung memeluk Marvel memberikan kecupan singkat di bibir suaminya itu, Marvel tersenyum mengusap pucuk kepala Putri.
"Aku akan siap siap," ucapnya seraya melepaskan pelukannya itu.
Putri sudah sangat bosan berada di ruangan itu. dia sangat senang mendengar Marvel membawanya pulang.
"Tidak perlu sayang, biar bibi yang merapikan."
"Tidak apa, barangnya aja hanya sedikit. lagi pula bibi kan sedang keluar."
Waktu berputar begitu cepat, pukul empat sore mereka tiba di rumah.
Setelah sampai Putri sama sekali tidak boleh melakukan apapun. dia hanya berdiam diri di depan televisi. Bosan sudah pasti apa bedanya di rumah atau di ruamah sakit bila seperti ini?
"Jangan merajuk seperti itu, apa kamu lupa Rian bilang apa?" ucap Marvel kesal melihat sikap Putri seperti itu.
__ADS_1
"Aku kan hanya ingin membantu bibi, aku bosan Kak bila seperti ini terus." Putri memanyunkan bibirnya sambil membuang wajahnya ke arah lain.
Marvel yang kesal dengan sikap Putri yang menurutnya keras kepala memilih pergi menuju ruang kerjanya.
dia tidak mau bersikap kasar ke pada Putri lebih baik dia menenangkan diri di ruang kerja.
Pintu ruangan sudah di buka Marvel berjalan menuju sofa yang berada di sana.
memejamkan mata sejenak dan merentangkan otot otot di tubuhnya menjadi tujuannya saat ini.
Setelah beberapa menit memejamkan mata, kini kelopak mata itu terbuka setelah mendengar bunyi suara ponselnya.
Tidak membuang waktu Marvel langsung mengangkat benda itu.
"Ada apa?" tanya marvel
"Siapa?"
Marvel yang sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa yang berani menyelakaan istrinya memutuskan untuk meminta bantuan sahabatnya ya itu Tian.
"Jeny!"
"Apa loe yakin ini semua ulah Jeny?" Marvel ragu bila ini semua kelakuan Jeny wanita yang pernah ada di dalam hatinya.
"Gue yakin seratus persen, anak buah gue udah menyelidikinya." Mendengar itu Marvel begitu kesal.
"Gue mau semua ini loe yang atasi, Loe bisa?"
__ADS_1
"Bisa aja, tapi kenapa harus gue, kenapa engak loe aja."
"Gue engak bisa, Putri masih dalam pemulihan gue gak bisa ninggalin dia."
"Serahin semuanya sama gue," ucap tian.
Mencium wangi masakan membuat perut Putri terasa lapar. apa lagi sekarang sudah pukul delapan malam. dengan langkah cepat Putri keluar dari kamar.
"Kak Marvel mana bi?" ucap Putri seraya menarik kursi.
"Tadi Bibi lihat masuk ke ruangan kerja."
Putri bangkit berdiri berjalan menuju di mana Marvel berada.
Sebelum masuk dia menggetuk pintu terlebih dahulu.
"Gue serahin semuanya sama loe," Mendengar ketukan pintu Marvel menutup ponselnya manik matanya tertuju ke arah pintu.
"Kak, kamu belum makan sedari tadi," ucap Putri setelah masuk.
"Apa ibu sudah menyiapkan?" Marvel bangun dari duduknya berjalan menghampirinya.
"Sudah."
"Ayo." ajak Marvel memeluk pinggang Putri menuju meja makan.
marvel begitu marah mendegar jika yang ingin mencelakai putri adalah jeny. Tian mau melakukan apapun dia tidak perduli.
__ADS_1