
Gadis cantik Yang kini sedang duduk menatap beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh Bi Darni dengan wajah yang tidak berselera.
"Bi aku belum ingin makan, kepala ku sedikit pusing,"keluhnya seraya bangun dari duduknya. Entah sudah berapa hari ini tubuhnya begitu lemah kepalanya selalu pusing namun takut marvel dan bu darni kawatir putri diam saja.
Putri yang sudah berdiri tiba tiba tubuhnya terhuyung hampir saja jatuh, Bi Darni yang melihat langsung berlari kearah Putri dan membawa putri duduk kembali.
"Put, kamu tidak apa apa? Ibu ambilkan minyak angin," ucapnya kawatir.
"Aku tidak apa apa, hanya saja sedikit pusing, antarkan aku kekamar saja Bi,"ucapnya melangkah menuju kamar.
Dia segera bangun Bu darni segera menggandeng lengan Putri, baru saja beberapa langkah tiba tiba tubuh putri ambruk dan jatuh pingsan.
"Putri, Ya ampun aku harus bagaimana,Put bangun "ucap bu Darni panik. ia segera membawa Putri menuju sofa lalu dibaringkan tubuh yang terlihat pucat itu.
Bi Darni yang memang tidak membawa ponsel segera berlari kekamarnya untuk mengambil benda itu dan minyak angin, Tidak butuh waktu lama Bi Darni sudah berada di samping Putri dia mengoleskan minyak angin di beberapa bagian tubuh putri.
Dengan cepat bi darni menghubungi Marvel namun belum juga di angkatnya. rasa kawatir bi darni semakin menjadi bi darni menagis dia bingung harus melakukan apa.
"Tuan, angkat,"ucapnya panik sudah tiga kali ia menghubungi Marvel namun belum juga di angkat oleh laki laki itu.
"Ya ampun aku harus bagai mana? Tuan Bian ya aku harus hubungi Tuan Bian," gumamnya panik, dengan cepat Bi darni menelpon Bian.
__ADS_1
"Halo, Tuan," ucap bi darni sambil menagis
"ada apa Bi?"
"Tuan, bisa datang kesini, Putri tiba tiba pingsan, Bibi susah hubungi Tuan Marvel tapi tidak diangkat,"ucapnya panik.
"Apa pingsan! tunggu aku bi, aku segera kesana," Bian yang sedang berada disebuah lestoran dengan seorang wanita segera meningalkannya.
"Bian kamu mau kemana?aku belum selesai," teriaknya kesal.
"Lain kali saja kita teruskan, aku ada urusan mendadak,"teriaknya.
Dengan cepat Bian mengendarai mobil hitam miliknya, Setelah tiba engan membuang waktu lama dia langsung berlari membuka pintu.
"Ayo Bi kita bawa Putri kerumah sakit," ucapnya seraya mengangkat tubuh putri.
Bian membawa putri didalam gendongannya dia akan menghubungi Marvel lagi nanti setelah Putri sudah di tangani.
Bi darni segera membukakan pintu dia segera masuk, lalu Bian menaruh putri di bagian belakang, kepala putri diletakan diantara kedua paha Bi Darni.
Dengan cepat biyan mengendarai mobil menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
"Kenapa bisa gini Bi?"ucap biyan sembil mengendarai mobilnya.
"Bibi tidak tau Tuan, tiba tiba Putri pingsan, setelah mengeluh sedikit pusing."
tangan Bi Darni tidak henti hentinya memberi minyak angin.
Setelah sampai dirumah sakit. Bian segera membawa putri masuk Sambil berteriak.
"Suster!" Teriak Biyan sambil berjalan mengendong tubuh Putri.
Putri sedang ditangani dokter. Biyan dan bi Darni menunggu di depan ruangannya dengan wajah yang terlihat kawatir.
"bibi sudah hubungi Marvel kembali? tanyanya.
"Belum Tuan, tadi Bibi hubungi tidak diangkat,"jawabnya.
"Yaudah, biar aku saja yang menghubunginya," Biyan mengambil ponsel yang berada di saku celananya.
Dengan gerakan cepat dia menghubungi sahabatnyan itu.
Marvel yang sedang meting sama sekali tidak menghiraukan panggilan sahabatnya itu, dia pikir Bian hanya mengganggunya saja.
__ADS_1
"Angkat brengsek," umpat biyan kesal.
Sementara siksa yang mendegar suara bersik hanya diam saja, dia sibuk membersekan barang barangnya setelah marvel mengusirnya dia memutuskan untuk pergi. Biar nanti dia pikirkan cara untuk memdapatakan marvel kembali.