
Hari hari berlalu begitu cepat kini usia kandungan putri sudah memasuki 7 bulan semenjak putri hamil marvel sama sekali tidak mengijinkan putri melakukan apapun.
Putri yang sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah merasa bosan bila hanya berdiam diri seperti saat ini.
"Kak, boleh ya aku bantu bantu Bibi."
Marvel tidak bergeming ia hanya fokus memainkan rambut istrinya itu.
"Kak Kamu denger aku engga sih," protes putri bangun dari pangkuan suaminya.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun Bibi sudah ada yang membantu. Yang harus kamu lakukan adalah menjaga anak kita ini," jawab marvel mengelus lembut perut putri yang sudah mulai terlihat besar.
Putri hanya mengerutkan bibirnya
Percuma saja ia membujuk suaminya itu jawabannya akan tetap sama.
Marvel menarik lembut tangan putri agar ia kembali duduk di pangkuannya.
"Kak ponsel ku di mana?"
Tanpa menjawab marvel menyambar ponsel yang berada tidak jauh darinya.
"Nih, mau ngapain?" tanya marvel setelah melihat putri akan menghubungi seseorang.
"Aku mau tlp kak Bian."
"Buat apa?" Marvel mengerutkan keningnya.
"Aku kepingin makan buah."
"Terus buat apa hubungi Bian? tingal bilang sama aku, aku ambilkan."
"aku mau makan di suapin olehnya," ujar Putri tersenyum dengan manis.
__ADS_1
"What!" marvel bangun dari duduknya setelah putri berdiri. " buat apa minta Bian sudah ada aku yang bisa suapin kamu."
"Aku kepengennya sama kak Bian bukan sama kamu, boleh ya? sepertinya ini bawaan beby," rengek putri sembari mengelus ngelus perutnya.
Marvel menatap wajah sang istri, walaupun hanya sekedar menyuapi namun ada rasa tak rela dalam lubuk hatinya.
"Boleh ya," Putri memasang wajah sendu.
Marvel hanya menganguk pelan
melihat itu putri tersenyum senang.
"Makasih sayang," Putri mengecup singkat bibir suaminya itu.
"Nakal ya," Marvel meraih pinggang sang istri baru saja ingin mendaratkan bibirnya namun segera di tahan putri.
"Aku mau hubungin kak Bian."
"Ck," decak marvel.
"Aku lagi di kantor, kenapa?"
"Aku mau minta kakak datang kesini, aku mau makan buah."
"Terus."
"Aku mau kakak yang nyuapin aku," celetuk putri.
"What, memang suami kamu kemana?"
Sebelum putri menjawab ponselnya sudah di rebut oleh Marvel.
"Tidak usah banyak bicara, cepat lah." bentak marvel kepada Bian.
__ADS_1
"Ck," decak biyan.
Putri yang melihat suaminya marah mulai mengeluarkan jurus andalannya. Ia bergelanyut manja di lengan marvel sambil mengeluarkan senyuman manisnya. Melihat putri tersenyum seketika amarahnya ia tahan dalam dalam.
Namun tidak dengan laki-laki yang sedang mengumpat kesal di dalam mobil, siapa lagi kalau bukan Bian.
Cuma hanya ingin di suapin olehnya ia harus meninggalkan meeting penting demi istri sahabatnya itu.
"Marvel kampret," umpat Bian.
Dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobil, tidak butuh lama ia sudah sampai di kediaman Marvel Lee.
Dengan cepat ia turun lalu berjalan masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Sesampainya di dalam ia melihat sepasang anak manusia sedang berciuman dengan mesra.
"Gue di suruh ke sini hanya untuk melihat kalian bermesraan," cetus biyan melangkah mendekat.
Mendengar itu sontak membuat mereka menghentikan aksinya.
"Kenapa gue di suruh datang."
Bian mendaratkan bokongmya keatas sofa.
"Aku kepingin makan buah, tapi kakak yang suapi." Putri menatap bian dengan senyum di bibirnya" Sepertinya ke mau'n anak yang didalam kandungan aku."
Marvel menatap sinis ke arah Bian.
"Yang bapakmya siapa. Yang repot siapa," protes biyan.
"Kakak tidak mau, ya udah gak jadi maaf sudah membuat kakak repot," seloroh putri berjalan meninggalkan dua laki laki yang hanya diam memaku.
Marvel tersadar ia ikut bangun dari duduk nya.
__ADS_1
"Loe si."
"Kenapa jadi gue yang salah," Bian mengusap kasar rambutnya