Menikah Remaja

Menikah Remaja
SEPULUH


__ADS_3

Ujian akhir kini sudah tiba, Ardan disibukkan dengan sejuta kegiatan dan berbagai materi pelatihan soal yang dia dapatkan dari guru lesnya, oleh karena itu dia jarang membantu Sera dalam mengurus putri kecilnya, bahkan terkadang dirinya melewatkan tumbuh kembang Saina yang kini mulai menikmati latihan merangkak dan jalan.


Sera rasanya ingin meluapkan amarah dan rasa sesaknya tetapi diurungkannya demi keutuhan rumah tangganya, dia lebih memilih fokus pada Saina dari pada harus ribut dengan Ardan, setidaknya Mama dan Papa mertuanya masih bergantian membantunya.


" Seraaaa....." panggil Bunda yang baru saja datang membuat Sera kaget lalu berlari menghampiri sang Bunda sambil menggendong Saina.


" Bundaaaa..." pekik Sera.


" Eeeeeeh jangan lari Ser....kamu lagi gendong Saina" tegur Bunda letika melihat Sera berlari.


" Maaf Bun....Sera kangen Bunda" ucapnya kemudian sambil memeluk sang Bunda.


Bunda memeluk putri kecilnya yang kini sudah menjadi seorang ibu, Saina tampak mengerjapkan matanya yang bulat sambil berusaha menggapai ke arah Bunda.


" Eh Saina mau ikut Bunda ya?....sini ikut Bunda" Bunda meraih tangan sang cucu lalu menggendongnya.


" Aduuh udah makin bulet ya sayang....".


" Iya Bun....makin berasa kalau gendong, cepet pegel makanya sama Mama disiapin playmate buat dedek main biar ngga capek gendong mulu" adu Sera.


Bunda tersenyum lalu membelai kepala Sera, Sang Ayah sedang ngobrol asik dengan Papanya diruang tamu, sedangkan Mamanya masih memasak didapur.


" Ardan mana Ser...." tanya Bunda sambil celingukan mencari menantunya.

__ADS_1


" Lagi pacaran Bun "jawab Sera asal.


Bunda melotot lalu memukul lengan Sera, " Jangan sembarangan kalau ngomong ".


" Emang iya kok....sibuk pacaran sama buku sampe lupa sama anaknya " imbuh Sera.


" Ngadu deeeeh sama Bunda" ujar Ardan yang sudah berada dibelakangnya.


" Emang iya kan? ".


" Sok tahu kamu, Ardan lagi belajar Bun, sebentar lagi Ardan ujian akhir " lanjut Ardan.


Bunda menggeleng melihat kelakuan putri dan menantunya, meski kini keduanya telah memiliki Saina ternyata mereka masih belum bisa dewasa, masih terlalu muda untuk bisa saling mengerti dan memahami tentang rumah tangga.


Kini Saina sedang asik menyusu pada Sera, Ardan datang dengan membawa air minum karena Sera tadi lupa untuk minum setelah makan.


" Ser....ini minum ".


" Thank's ".


Ardan beralih menatap bayi gembul yang sedang asik menyusu, pipi gembilnya tampak bergerak karena dia menyusu dengan cepat apalagi ketika melihat Ardan, bayi gembul itu seperti terancam.


" Aaauuuww....dedek jangan gigit " pekik Sera.

__ADS_1


" Dedek jangan gigit ya kasian Mommy....Daddy ngga minta kok, Daddy sabar nunggu giliran sampai nanti dedek kelar nyusu ya...." ucap Ardan sambil membelai kepala sang putri.


Sera melotot mendengar penuturan Ardan.


" Apa?...mau marah?...disitu ada hak aku Ser " ucap Ardan sambil mencium pipi Saina yang masih menyusu lalu sedikit menekan hingga hidungnya bersentuhan dengan sumber asi Saina.


Degh....degh...degh.....


Jantung keduanya berpacu dengan cepat, apalagi Sera kini tampak menunduk malu, sedangkan Ardan tampak puas meski hanya ujung hidungnya yang berhasil menyentuh bagian yang menjadi kekuasaan si monster ***** itu.


" Jauh-jauh sana...!".


" Cie....pipi kamu merah Ser".


" Apaan sih, modus banget " ucap Sera sambil menutup sebagian *********** yang terlihat.


Ardan kembali mencium Saina, lalu dengan sedikit nakal dia mengeluarkan lidahnya untuk menyapu pinggiran bibir bayinya, otomatis sedikit mengena pada lingkar ****** Sera.


" Ardaaaaaaan " pekik Sera.


Saina menjadi terbangun lalu menangis, sudah bisa dipastikan Sera dengan tatapan garang siap memangsa suaminya, diambilnya bantal lalu dilempar kearah Ardan.


Ardan melarikan diri dengan keluar kamar, tetapi ada kepuasan dirinya yang berhasil mencicip asi dari istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2