Menikah Remaja

Menikah Remaja
EMPAT PULUH


__ADS_3

Disekolah Saina sedang mengadakan wisuda kelulusan dari taman kanak-kanak, acara hari ini seluruh orang tua murid mendapat undangan untuk menghadirinya, Sera pun menghubungi Ardan selaku daddy dari anaknya untuk ikut hadir mensuport anak mereka.


Keduanya datang secara terpisah, tetapi itu sudah membuat Saina sangat bahagia.


" Daddy.....daddy Saina kangen, kok daddy nggak kerumah sih" celoteh putrinya.


" Maaf sayang daddy banyak kerjaan, daddy juga kangen dedek " ucap Ardan sambil mencium gemas pipi putrinya yang tampak gembul itu.


Sera melihat interaksi keduanya hanya tersenyum,walau bagaimanapun keduanya memiliki ikatan darah yang lebih kental dari pada air, makanya Sera tidak akan pernah membatasi keduanya untuk bertemu.


" Makanya anaknya sering ditengokin, pusing aku jawabnya setiap nanyain kamu " sindir Sera.


" Mommynya minta ditengok juga nggak?" goda Ardan.


" Tidak perlu, Saina dirumah sama bunda setiap hari, kamu bisa saja datang nengokin, tapi dasar kamunya aja yang sok sibuk sampai nggak pernah datang " protes Sera.


" Maaf" jawab Ardan melemah.


Ardan mengantar putrinya untuk bergabung dengan teman-temanya yang mau diwisuda juga.


Setelah itu Ardan kembali dan mencari kursi Sera, walau bagaimanapun mereka akan berusaha memberikan keluarga yang utuh bagi Saina, meski kenyataan keduanya telah berpisah.

__ADS_1


Semua tampak larut mengikuti susunan acara dengan khidmat, sampai dipuncak ada acara cerita yang dibacakan oleh para peserta wisuda termasuk Saina.


Saina maju dengan gugup, tampak dari jauh Ardan memberikan semangat pada putrinya, Sera pun demikian.


Saina siap bercerita, tetapi ketika dia menatap kedepan tatapannya lurus pada kedua orang tuanya, bibirnya terasa kelu, dia menarik nafas kemudian memulai ceritanya.


" Namaku Saina, umurku enam tahun, aku memiliki mommy dan daddy yang sangat menyayangiku, ada oma,opa, ayah, bunda, mereka juga menyayangiku, aku sering merasa rindu pada daddyku semenjak kita pindah rumah, kata mommy, daddy pasti jemput kita lagi, tetapi mommy juga bilang daddy tidak akan menjemput kita, aku bingung, aku tidak mengerti pikiran orang dewasa, aku hanya mau tinggal bareng daddy dan mommy lagi, tetapi daddy tidak ada dirumah " tiba-tiba air mata Saina mengalir begitu saja, Sera ikut menitikkan air mata, " Maaf kalau Saina nakal jadi daddy sama mommy marahan " lanjut Saina.


Dia kemudian berlari turun dari panggung, semua tamu tampak terkejut dengan cerita anak seusia Saina, ada juga yang berbisik membicarakan orang tua Saina.


Ardan tercekat mendengar cerita putrinya, dia tidak pernah menyangka anaknya akan berpikir demikian, ternyata perpisahannya membuat anaknya bingung.


Sedangkan Sera masih sibuk menyusut air matanya, rasa sakit menjalar ketubuhnya, sungguh dampak dari perceraiannya sangat besar bagi hidup anaknya, tetapi dia tidak bisa menahan sakit lagi untuk waktu yang lama.


Ingin rasanya Ardan memeluk wanita yang masih mengisi relung hatinya itu, tetapi dirinya sudah tidak berhak lagi, dia pun urung melakukannya.


Setelah sedikit tenang Sera kembali menegakkan kepalanya, rasa sesak didadanya makin membuncah ketika menoleh kesampingnya, dirinya menatap sosok yang membuat keadaan menjadi seperti ini, anaknya yang masih kecil ikut merasakan dampak dari perbuatan orang tuanya, bahkan sampai anaknya merasakan sedih dan rindu secara bersamaan, ingin rasanya Sera meluapkan segala rasa yang memburu didadanya tetapi dia masih bisa menahan diri.


Saina berjalan kearah kedua orang tuanya berada, semua mata tertuju pada sicantik yang berjalan riang sambil membawa piala itu.


Rupanya mereka penasaran siapa orang tua gadis kecil itu, namun ketika mengetahui ternyata gadis itu adalah cucu pemilik yayasan, mereka pun membungkam mulut mereka masing-masing, rasanya enggan untuk berkomentar karena takut anaknya tidak bisa bersekolah lagi.

__ADS_1


" Hay sayang, good job anak mommy, sini peluk mommy " sapa Sera ketika Saina datang.


" Mommy...Saina dapat piala, Saina hebat ya mommy " celoteh putrinya kegirangan.


" Iya dooong anak mommy kan pintar " jawab Sera.


" Anak daddy juga....." timpal Ardan tidak mau kalah.


Ardan memeluk putrinya lalu mencium pipi bulatnya, " Daddy bangga punya putri secantik dan sepintar Saina ".


" Daddy, hari minggu nanti kita ke taman bermain ya, Devan bilang ditaman bermain ada dino raksasa lho " pinta Saina manja.


" Bilang mommy dulu boleh nggak " jawab Ardan.


Sera mengelus kepala putrinya, " Tanpa kamu meminta mommy pasti mengijinkan sayang, kan Saina perginya sama daddy " ucapnya.


" Saina maunya sama daddy dan mommy juga, soalnya Devan perginya sama papa mamanya " pinta Saina lagi.


Sera menghela nafas, kemudian memberikan penjelasan ke putrinya, " Sayang, mommy bukan tidak mau, tetapi akhir pekan nanti mommy sudah ada janji dengan teman mommy ".


Tampak putrinya mencebik, menahan tangisnya, Sera hanya ingin menjadi orang yang menepati janji, dia sudah berjanji bertemu kliennya minggu depan.

__ADS_1


Bukannya dia tidak mau menuruti keinginan putrinya, tetapi untuk pergi bersama dengan Ardan sama saja membuat lukanya kembali menganga, karena dari Ardan lah luka hatinya tercipta.


__ADS_2